AERTERNA

Ferdi Ferdian
Chapter #2

SARAPAN PAGI DAN JEJAK KEMATIAN

Cahaya matahari pagi yang menembus dinding kaca Villa Aerterna terasa terlalu terang. Terlalu menghakimi.

​Anya membuka mata dengan napas tersentak, seolah baru ditarik paksa dari dasar lautan yang gelap. Langit-langit kamarnya yang dicat putih matte tampak berputar selama beberapa detik sebelum akhirnya stabil. Otot-ototnya menjerit kaku, dan kepalanya berdenyut menyakitkan, seakan ada sekelompok lebah yang bersarang di dalam tengkoraknya.

​Selama satu tarikan napas yang naif, ia berharap malam tadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Sebuah ilusi yang lahir dari kelelahan mental. Namun, saat ia mengangkat tangannya untuk mengusap wajah, realitas menamparnya tanpa ampun.

​Kulit di kedua telapak dan punggung tangannya memerah mentah, mengelupas di beberapa bagian, dan terasa sangat perih saat bergesekan dengan selimut sutra. Aroma lotion lavender yang biasa ia pakai kini kalah telak oleh bau klorin dan amonia yang menempel permanen di pori-porinya. Bau pemutih industri. Bau penghilang jejak.

​Malam tadi nyata. Gaun yang berlumuran darah itu nyata. Dan laki-laki di hutan itu...

​Anya menelan ludah, menahan rasa mual yang tiba-tiba menggulung perutnya. Ia memaksakan diri bangkit, berjalan tertatih menuju kamar mandi, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi, kantung matanya menghitam kontras dengan kulitnya yang nyaris transparan. Ia terlihat seperti hantu yang terjebak di dalam tubuh manusia.

​Pukul 06:30 pagi. Sesuai jadwal.

​Di rumah ini, rutinitas adalah agama. Keterlambatan adalah dosa yang tidak termaafkan.

​Anya mengenakan seragam sekolah swastanya—rok lipit abu-abu, kemeja putih berlengan panjang yang dikancingkan hingga kerah, dan blazer biru tua. Ia menarik ujung lengan kemejanya lebih panjang untuk menyembunyikan lecet di pergelangan tangannya. Ia menyisir rambutnya yang kusut dengan tangan gemetar, menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.

​Ia menuruni tangga spiral marmer itu dengan sangat pelan, seolah takut langkahnya akan membangunkan monster. Namun, monster-monster di rumah ini sudah bangun lebih dulu, dan mereka sedang menyantap sarapan.

​Ruang makan Villa Aerterna sama sterilnya dengan ruang operasi. Meja makan dari kaca tempered memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atasnya. Di ujung meja, Richard sedang duduk tegak membaca berita dari tabletnya. Ia mengenakan setelan jas charcoal tanpa cela, dasinya tersimpul rapi. Di sisi lain, Elena sedang menuangkan kopi panas dari teko. Wanita itu mengenakan gaun pagi berbahan cashmere, rambutnya ditata rapi sempurna seolah malam tadi ia tidur nyenyak selama delapan jam penuh.

​"Selamat pagi, Anya," sapa Elena tanpa menoleh. Suaranya seringan melodi jazz pagi hari di kafe mewah. Begitu kasual. Begitu memuakkan.

​"Pagi, Mama. Pagi, Papa," balas Anya dengan suara parau. Ia menarik kursi di hadapan piringnya sendiri dan duduk dengan kaku.

​Di atas piring porselen putih itu, sarapannya telah tersaji. Dua lembar roti panggang gandum, telur orak-arik yang tidak terlalu matang, dan lima potong stroberi segar yang diiris simetris. Di samping piring, terdapat segelas air putih dan sebuah pil kapsul berwarna biru muda.

​"Vitaminmu, Sayang. Jangan lupa," Elena mengingatkan, kali ini menatap putrinya dengan senyum tipis. Senyum yang cantik, namun tidak pernah mencapai matanya.

​Anya memandangi pil biru itu. Ia sudah meminum "vitamin" ini sejak setahun lalu, saat ia mulai sering mengalami mimpi buruk yang tak bisa ia jelaskan. Elena bilang itu suplemen khusus untuk meredakan stres akademis yang diresepkan dokter keluarga. Tapi pagi ini, dengan tangan yang masih perih akibat cairan pemutih, Anya menatap pil itu dengan tatapan berbeda.

​Apakah ini benar-benar vitamin? Ataukah ini cara Elena untuk membuatnya tetap jinak?

Lihat selengkapnya