AERTERNA

Ferdi Ferdian
Chapter #3

ALTAR DUKA DI UJUNG KORIDOR

SMA Internasional Oakbridge biasanya berdengung dengan energi arogan. Koridor berlapis kayu mahoni dan lantai granitnya selalu menjadi panggung bagi anak-anak elit yang memamerkan kehidupan sempurna mereka. Namun pagi ini, kesombongan itu lenyap, digantikan oleh selubung duka yang terasa berat dan menyesakkan.

​Saat sedan hitam yang dikemudikan sopir keluarga menurunkan Anya di lobi utama, kabut tipis sisa badai semalam masih menggantung rendah di atas lapangan rumput. Angin musim gugur berembus pelan, membawa hawa dingin yang mengelus tengkuknya. Tidak ada derai tawa yang menggema. Hanya ada bisik-bisik lirih yang merayap dari satu sudut ke sudut lain, menjalar layaknya kabut itu sendiri.

​Anya melangkah keluar dari mobil dengan gerakan kaku. Seluruh fokusnya saat ini tertuju pada dua hal: menjaga ritme napasnya agar tidak memicu serangan panik, dan menyembunyikan kedua tangannya.

​Ia telah menarik manset kemeja putihnya hingga menutupi telapak tangan, mengaitkan jari-jarinya ke bagian dalam ujung lengan blazer biru tua. Kulit tangannya yang terkelupas akibat gesekan sikat nilon dan cairan pemutih berdenyut menyakitkan. Setiap gesekan kain terasa seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk dagingnya. Namun, yang lebih menyiksanya adalah aroma itu. Meskipun ia sudah mandi dengan sabun beraroma mawar pekat, ia merasa bau klorin yang tajam masih menguar dari pori-porinya. Sebuah jejak dosa yang menolak untuk dihapus.

​Ia berjalan menunduk, melewati deretan loker logam abu-abu di sayap barat. Di pertengahan lorong, langkahnya terhenti secara paksa. Udara di sekitarnya seakan membeku.

​Sekelompok siswa berkumpul melingkar dalam keheningan. Di tengah mereka, loker nomor 214—loker milik Leo—telah diubah menjadi altar duka cita dadakan.

​Buket-buket bunga krisan putih menumpuk di lantai. Puluhan kertas catatan berwarna pastel tertempel sembarangan di pintu lokernya, memuat pesan-pesan perpisahan yang manis. Dan di tengah-tengah lautan kertas itu, terpasang sebuah foto Polaroid.

​Wajah Leo.

​Pemuda itu tersenyum miring ke arah kamera, rambut ikalnya berantakan ditiup angin. Mata gelapnya tampak begitu hidup. Begitu nyata.

​Anya membeku. Perutnya bergejolak hebat, seolah ia baru saja menelan sekepal beling kaca. Senyum di foto itu adalah senyum yang sama yang menyapanya di perpustakaan dua hari lalu. Senyum yang rasanya semalam masih begitu hangat.

​"Mengerikan, kan?"

​Sebuah suara berbisik tepat di telinga kiri Anya. Ia tersentak mundur, nyaris menabrak dinding loker di belakangnya. Jantungnya melompat ke tenggorokan.

​Itu Sienna. Sahabatnya—atau setidaknya, orang yang paling mendekati definisi teman di sekolah yang penuh dengan relasi palsu ini. Sienna memiliki mata cokelat terang yang selalu jeli, dan insting observasi yang tajam.

​"Sienna... kau mengagetkanku," bisik Anya dengan susah payah. Ia berusaha keras melembutkan nada suaranya agar terdengar senormal mungkin.

Lihat selengkapnya