AERTERNA

Ferdi Ferdian
Chapter #4

JEJAK LUMPUR DI RUMAH KACA

​Perjalanan pulang dari SMA Oakbridge terasa seperti simulasi penyiksaan yang ditarik ulur. Di dalam kabin sedan antipeluru yang kedap suara, Anya menghabiskan waktu tiga puluh menit memutar otaknya yang kelelahan.

​Ia menyusun rencana. Richard biasanya tidak pulang sebelum pukul tujuh malam, dan Elena memiliki jadwal minum teh bersama komunitas amalnya setiap selasa sore. Ini adalah celah satu jam emas bagi Anya untuk menyelinap ke ruang kerja ayah angkatnya atau mencari tahu letak brankas Elena. Ia harus menemukan sesuatu. Bukti ancaman. Kamera tersembunyi. Apa saja yang bisa membuktikan bahwa ia tidak berhalusinasi tentang kilatan cahaya lensa di hutan semalam.

​Namun, saat pintu utama Villa Aerterna bergeser terbuka, seluruh rencananya hancur berkeping-keping.

​Hal pertama yang menghantam indra penciuman Anya bukanlah aroma white tea dan disinfektan bedah yang biasa menyelimuti rumah itu. Udara steril yang diagungkan Richard telah tercemar oleh bau tembakau cerutu yang pekat dan aroma bourbon keras.

​Hal kedua yang ia lihat adalah sebuah penistaan mutlak terhadap "agama" kebersihan Richard: sepasang sepatu bot kulit pria yang solnya dipenuhi lumpur mengering, tergeletak begitu saja di tengah lorong. Sepatu itu meninggalkan jejak tanah kecokelatan di atas marmer Calacatta putih—lantai yang semalam baru saja digosok bersih menggunakan darahnya.

​Anya mematung di ambang pintu. Jantungnya memompa darah lebih cepat.

​Suara tawa berat dan serak menggema dari arah ruang keluarga, disusul oleh denting es batu yang beradu dengan gelas kristal.

​"Ayolah, Richard! Jangan menatapku seolah aku baru saja membawa masuk wabah penyakit mematikan ke dalam museum abad pertengahanmu. Ini hanya sedikit tanah dari Tuscany."

​Anya melangkah perlahan, menyembunyikan tangannya yang berbalut lecet di dalam saku blazer. Di ruang keluarga yang luas dan berdinding kaca itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga bisa diiris dengan sebilah pisau.

Richard berdiri kaku di dekat perapian gas yang menyala. Rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di lehernya menonjol berkedut. Matanya di balik kacamata berkilat penuh amarah yang tertahan. Di sofa velvet seberangnya, Elena duduk dengan punggung tegak lurus menyerupai manekin kayu, meremas saputangan sutra hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

​Dan di sana, duduk bersandar dengan postur meremehkan di kursi malas kulit seharga sebuah mobil sport, adalah sumber kekacauan itu.

​Paman Julian.

​Adik tiri Richard itu terlihat seperti kebalikan dari segala hal yang mendefinisikan Villa Aerterna. Rambut gelapnya berantakan, dibiarkan memanjang menyentuh kerah jaket kulitnya yang usang. Ia tidak mengenakan kemeja yang disetrika, melainkan kaus katun hitam yang mencetak postur tubuhnya. Wajahnya dihiasi bayangan cambang kasar, dan senyum miringnya memancarkan karisma pemberontak yang berbahaya.

​"Julian," desis Richard, suaranya bergetar menahan murka. "Kau tidak bisa begitu saja muncul setelah tiga tahun menghilang tanpa jejak, membawa kotoran ke dalam rumahku, dan menuangkan wiski mahalku seolah kau sedang berada di bar murahan."

​"Dan kau tidak berubah sama sekali, Kakak," kekeh Julian santai. Ia mengangkat gelas kristalnya mengarah pada Richard. "Masih pria kaku yang sama. Pria yang lebih peduli pada lantai batunya daripada darah dagingnya sendi—oh! Lihat siapa yang pulang!"

Lihat selengkapnya