After All

Dear An
Chapter #1

Deep Talk

Desir angin berembus pelan, di antara sela dahan pohon kenari tua yang menjulang di sudut Kebun Raya Bogor. Di bawah bayang-bayang keteduhan itu, seorang wanita duduk beralaskan hamparan rumput hijau yang masih menyisakan embun lembap. Ia menarik kedua lututnya merapat ke dada, membiarkan dres panjang dan hijab biru langitnya meliuk lembut disapu angin.

​“Bang Baskara.”

​Laki-laki di sebelahnya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menutup ritsleting tas, lalu menoleh. Baskara mengamati wajah wanita itu terpaku lurus ke depan—sepasang kelopak matanya menatap kosong, sama sekali tidak berkedip melihat rombongan pengunjung yang riuh melintas di hadapan mereka.

​“Kayaknya, aku mau jomblo seumur hidup aja deh,” gumam wanita itu, nyaris tak terdengar, tersapu oleh gesekan daun-daun kenari di atas kepala.

​ Baskara mengernyitkan dahi. Ia meletakkan tasnya ke atas rumput, lalu memutar posisi duduknya. “Kenapa tiba-tiba bicara begitu, Dek Senja?”

​Senja mengembuskan napas berat. Ia membenamkan seluruh wajahnya di atas tumpuan lutut, jemarinya meremas kain dres. “Entahlah,” lirihnya dengan suara yang teredam dari balik lutut. “Aku ngerasa ... nggak pantas dicintai. Aku juga nggak punya energi lagi untuk jatuh cinta, Bang.”

​ Sebuah kekehan rendah lolos dari bibir Baskara. Tanpa seulas pun tatapan menghakimi, ia mengulurkan tangan, lalu mengusap puncak kepala Senja. “Bukan tidak pantas, Dek,” suara Baskara melembut. “Kamu hanya belum bertemu laki-laki yang tepat. Seseorang yang akan memilihmu tanpa ragu, lalu menjadikanmu tujuan akhirnya.”

​Senja menyandarkan pelipisnya di atas lutut, kelopak matanya terpejam rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan gemerisik rumpun bambu dan lengkingan burung di kejauhan mengisi pendengarannya. Bahunya yang semula tegang, perlahan turun, mencoba menghalau sesak yang kembali meremas dadanya.

​“Kira-kira ... kapan aku bertemu orang itu, Bang?” Senja menegakkan kepala. Sepasang matanya yang mengilat karena genangan air mata yang siap tumpah, kini terkunci pada wajah teduh Baskara di sampingnya.

​ Baskara mengedikkan kedua bahunya, lalu menyunggingkan senyum hangat. “Abang juga nggak tahu, Dek. Yang pasti, kamu akan dipertemukan dengannya di waktu yang paling tepat menurut Allah.”

​ Baskara menjeda kalimatnya, tangannya bergerak mengambil selembar daun kenari kering yang jatuh di atas dres Senja, lalu melemparkannya ke samping. “Untuk sekarang, lebih baik fokus ke diri Adek dulu. Raih dan lakukan apa yang Adek sukai, daripada terus mikirin masa lalu itu, kan?”

Plak!

​“Aduh!” Senja memekik kaget. Ia refleks mengangkat telapak tangan, mengusap dahinya yang mendadak memerah, terasa panas, dan berdenyut nyeri.

​Di sebelah kanannya, seorang laki-laki berkemeja santai melangkah pelan, lalu mengambil posisi duduk bersila tanpa rasa bersalah. Tangan kirinya memegang wadah mie instan yang masih mengepulkan uap panas, mengantarkan aroma kuah gurih dan cabai yang langsung menusuk hidung.

Lihat selengkapnya