Angin berembus pelan di antara sela dahan pohon kenari tua yang menjulang tinggi di sudut Kebun Raya Bogor. Di bawah rindangnya pohon itu, gadis itu duduk beralaskan hamparan rumput hijau yang masih menyisakan embun lembap. Ia menarik kedua lututnya merapat ke dada, membiarkan dress panjang dan hijab biru langitnya meliuk lembut disapu angin.
"Bang Baskara."
Laki-laki di sebelahnya menghentikan jemarinya yang sedang menutup ritsleting tas, lalu menoleh. Baskara mengamati wajah gadis itu yang terpaku lurus ke depan. Sepasang matanya menatap kosong, sama sekali tidak berkedip melihat rombongan pengunjung yang riuh melintas di hadapan mereka.
"Kayaknya, aku mau jomlo seumur hidup aja deh," gumam wanita itu, nyaris tak terdengar.
Baskara mengernyitkan dahi. Ia meletakkan tasnya di atas rumput, lalu memutar posisi duduk. "Kenapa tiba-tiba bicara gitu, Dek Senja?"
Senja mengembuskan napas berat. Ia membenamkan seluruh wajahnya di atas tumpuan lutut, jemarinya meremas kain dress. "Entahlah," lirihnya. "Aku ngerasa ... nggak pantas dicintai. Aku juga nggak punya energi lagi untuk jatuh cinta, Bang.”
Sebuah kekehan pelan lolos dari bibir Baskara. Tanpa menghakimi, ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Senja. "Bukan nggak pantas, Dek," suaranya melembut. "Kamu hanya belum bertemu laki-laki yang tepat. Seseorang yang akan memilihmu tanpa ragu, lalu menjadikanmu tujuan akhirnya."
Senja menyandarkan pelipisnya di atas lutut, kelopak matanya terpejam rapat. Ia menarik napas panjang, membiarkan gemerisik rumpun bambu dan lengkingan burung di kejauhan mengisi pendengarannya. Bahunya yang semula tegang perlahan turun, mencoba menghalau sesak yang kembali meremas dadanya.
"Kira-kira ... kapan aku bertemu orang itu, Bang?" Senja menegakkan kepala. Matanya mengilat oleh genangan air mata yang mulai memenuhi pelupuk, kini terkunci pada wajah teduh Baskara di sampingnya.
Baskara mengedikkan kedua bahunya, lalu menyunggingkan senyum hangat. "Abang juga nggak tahu, Dek. Yang pasti, kamu akan dipertemukan dengannya di waktu yang paling tepat menurut Allah."
Baskara menjeda kalimatnya. Tangannya bergerak mengambil selembar daun kenari kering yang jatuh di atas dress Senja, lalu melemparkannya ke samping. "Untuk sekarang, lebih baik fokus ke diri Adek dulu. Raih dan lakukan apa yang Adek sukai, daripada terus mikirin masa lalu itu, kan?”
Plak!
"Aduh!" Senja memekik kaget. Ia refleks mengangkat telapak tangan, mengusap dahinya yang memerah, terasa panas, dan berdenyut nyeri.
Di sebelah kanannya, seorang laki-laki berkemeja merah marun melangkah santai, lalu duduk bersila tanpa rasa bersalah. Tangan kirinya memegang wadah mi instan yang masih mengepulkan uap panas, mengantarkan aroma kuah gurih dan cabai yang langsung menusuk hidung.
"Bang Damar!" teriak Senja kesal.
“Apa?” sahut Damar dengan wajah tanpa dosa. Ia sibuk meniup permukaan kuah mi yang memerah pekat, lalu menyeruputnya dengan lahap seolah tak terjadi apa-apa.