Di sudut kanan perpustakaan yang lengang, Senja duduk termenung. Kursi kayu yang didudukinya menghadap jendela besar, menyuguhkan pemandangan taman kampus dengan dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin.
Dari balik kaca, air mancur di taman mengalir dengan gemericik halus. Sesekali, cahaya matahari memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang seharusnya menenangkan. Namun, Senja hanya menatapnya tanpa benar-benar memperhatikan.
Beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandangan dan menunduk. Tumpukan buku kuliah di atas meja bahkan belum sempat disentuh. Napas panjang kembali lolos dari bibirnya. Ujung jemarinya mengetuk permukaan meja, sekali, dua kali, lalu berulang dengan irama tak beraturan.
Di tengah lamunannya, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari balik deretan rak buku. Ketukan jemari Senja terhenti. Punggungnya menegang, sementara kepalanya tetap menghadap meja. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum percakapan di antara mereka terdengar jelas.
“Hari Sabtu Baskara main sama Senja, ya, Sinta?” tanya seorang perempuan.
“Iya,” jawab Sinta ketus sambil membanting buku ke atas meja.
“Kamu nggak cemburu?”
Sinta berdecak. “Emangnya kalo aku cemburu, Senja menjauh dari Baskara? Nggak, kan?” Ia melipat tangan di depan dada, lalu tertawa sinis. “Lagi pula, aku tahu diri. Yang duluan kenal Baskara itu dia, bukan aku, Diana.”
Jemari Senja kembali mengepal di atas pangkuannya. Rahangnya mengeras. Beberapa mahasiswa di meja sekitar mulai melirik, membuatnya semakin tidak nyaman. Ia menarik napas, menahan diri untuk tidak menoleh.
“Tapi, kan, kamu pacarnya, Sinta,” timpal Diana.
“Emang.”
Sinta terdiam sejenak. Kemudian, ia memiringkan tubuh dan sengaja mengarahkan pandangan ke tempat Senja duduk. Sudut bibirnya terangkat. “Masih bisa aku tahan, kok. Kalau udah jadi istrinya, baru aku larang. Kasihan, kan, tuh orang, nggak punya teman,” ucapnya sengaja mengeraskan suara.
Sinta berbalik dan melangkah pergi. Hentakan sepatunya terdengar jelas di antara rak-rak buku yang sunyi.
Senja baru mengembuskan napas setelah sosok itu menghilang dari pandangan. Kepalan tangannya perlahan terurai. Ia menatap koridor perpustakaan, lalu mendengus pelan. ‘Ada saja orang yang salah paham.’
Sreettt!
Decit kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuat Senja menoleh. Di hadapannya, seorang wanita berhijab hitam dan bergaun krem muncul dengan gusar. Ia langsung duduk dengan punggung tegak, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
“Disindir lagi?” tanyanya tanpa basa-basi.
Senja mengangguk. “Iya, Rhea.”
Rhea langsung mencondongkan tubuh. “Gara-gara kamu main sama Baskara?” bisiknya.
Senja kembali mengangguk.
Rhea mengacungkan telunjuk tepat di depan wajahnya. “Lagian, ngapain, sih, kamu masih main sama Baskara? Kayak nggak ada teman lain aja di kampus ini!”
Senja mengembuskan napas jengah. “Aku, kan, nggak berdua saja, Rhe. Ada Bang Damar juga.”
Rhea mengangguk cepat sambil mengibaskan tangan. “Aku tahu. Aku juga lihat status WhatsApp kamu.”
“Nah, itu kamu tahu,” balas Senja singkat.
Rhea menyandarkan punggungnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Ish, nih orang. Udah tahu Sinta orangnya kayak gitu, kok bisa-bisanya kamu masih dekat sama Baskara?”