After All

Dear An
Chapter #3

Suara Rindu

Senja berdiri di bawah atap halte, lalu melangkah mendekati tepi trotoar. Di bawah langit yang mulai temaram, pandangannya menyisir deretan kendaraan yang merayap lambat, mencari angkot menuju rumahnya.

​“Pulangnya hati-hati, ya,” ucap Rhea yang berdiri tepat di samping Senja.

Senja menoleh dan menyunggingkan senyum. “Iya, Rhe.”

​Pramudya menatap Senja cemas. “Kamu beneran nggak apa-apa pulang sendiri?”

Senja melirik sekilas, lalu tertawa tipis. “Nggak apa-apa, Pram. Kan, aku juga udah biasa pulang sendiri.”

“Ya tetap aja, ini Magrib dan jalanan lagi macet-macetnya.” Pramudya melangkah maju. Jemarinya meremas tali ransel, sementara tatapannya tak beranjak dari Senja. “Mau aku antar? Aku temani sampai depan gang rumahmu, deh.”

Rhea mengernyitkan dahi, lalu  melirik Pramudya. “Antar pake apa?”

Senja ikut menatapnya, lalu tersenyum jail. “Nah, iya. Emangnya kamu mau antar aku pake apa? Angkot?”

Belum sempat Pramudya membuka mulut, Rhea mengangkat buku di tangannya lalu memukul lengan Pramudya cukup kencang.

Plak!

“Emang agak gila kamu, ya, Pram!” semprot Rhea. “Ngajak bareng, tapi naik angkot juga. Ya, sama aja bohong!”

​Pramudya tertegun, lalu tertawa renyah mendengar celetukan pedas Rhea. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuang muka sesaat, lalu kembali menatap Senja dengan senyum malu-malu. “Kan, yang penting niat baiknya, Rhe.”

Canda tawa itu masih terdengar ketika sebuah angkot hijau tua perlahan berhenti tepat di depan Senja.

​“Angkot, Neng?” tawar sang sopir dari balik kemudi, sedikit melongokkan kepalanya ke arah jendela.

​Senja memastikan angka trayek yang tertera di kaca depan mobil. Setelah yakin angkot itu menuju rumahnya, ia mengangguk pada sopir, lalu berbalik menghadap Rhea dan Pramudya.

​“Aku pulang duluan, ya,” pamit Senja.

​“Hati-hati di jalan, ya! Kabarin kalo udah sampai!” ucap Rhea dan Pramudya hampir bersamaan.

Keduanya saling menoleh. Sedetik kemudian, tawa mereka pecah.

“Apaan sih, ngikutin aja kamu!” protes Rhea sambil menyikut lengan Pramudya.

Senja hanya menggelengkan kepala melihat tingkah jenaka sepasang sahabatnya itu. Ia membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam angkot, lalu memilih duduk di pojok paling belakang, dekat jendela.

Saat angkot mulai melaju membelah jalanan yang padat, Senja melambaikan tangan pada dua sosok yang perlahan mengecil di kejauhan. Rhea dan Pramudya masih berdiri di pinggir jalan, sesekali melambaikan tangan sebelum akhirnya tertutup deretan kendaraan yang memenuhi ruas jalan.

Senja menarik tangannya kembali, lalu meletakkannya di atas pangkuan. Ia menyandarkan kepala ke kaca yang bergetar pelan setiap kali angkot melewati jalan yang tidak rata. 

Dari balik jendela, deretan toko dan bangunan berlalu satu per satu. Sisa cahaya sore masih menerangi jalanan, sementara beberapa toko mulai menyalakan lampunya. Angkot terus bergerak melewati pedagang kaki lima yang mulai membereskan dagangan. Perlahan, langit semakin gelap dan lampu-lampu kendaraan semakin jelas terlihat di sepanjang jalan.

Lihat selengkapnya