Senja berdiri di bawah atap halte, lalu melangkah maju menuju tepi trotoar. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, menyisir jalanan yang mulai temaram demi mencari angkot jurusan rumahnya, di antara deretan kendaraan yang merayap padat.
“Pulangnya hati-hati, ya,” ucap Rhea yang berdiri tepat di samping Senja.
Senja menoleh, lalu menyunggingkan senyum lembut. “Iya, Rhe.”
Pramudya menatap Senja dengan guratan khawatir yang jelas di wajahnya. “Kamu beneran nggak apa-apa pulang sendiri?” tanyanya sambil menatap lurus ke sepasang manik mata cokelat karamel milik gadis itu.
Senja melirik sekilas, lalu tawa tipis lolos begitu saja dari bibirnya. “Nggak apa-apa, Pram. Kan, aku juga sudah biasa pulang sendiri,” ucapnya mencoba menenangkan.
“Ya tetap aja, ini magrib dan jalanan lagi macet-macetnya,” sahut Pramudya sembari mengambil langkah maju. Ia meremas tali ranselnya dengan erat, menolak mengalihkan pandangannya dari Senja. “Mau aku antar? Aku temani sampai depan gang rumahmu, deh.”
Senja menggelengkan kepala. Ia terdiam sejenak, memandangi Pramudya dari atas ke bawah dengan tatapan jail. “Emangnya, kamu mau antar aku pakai apa? Angkot?” godanya, sengaja menutup mulut dengan sebelah tangan demi menyembunyikan tawa yang hampir pecah.
“Ya ... nggak apa-apa, kan? Anggap aja aku lagi simulasi jadi kenek,” balas Pramudya asal, sambil menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum lebar.
Plak!
Rhea refleks memukul lengan Pramudya cukup keras dengan buku di tangannya. “Emang agak gila kamu, ya, Pram! Ngajak bareng, tapi naik angkot juga. Ya, sama aja bohong!”
Pramudya tertegun, lalu tertawa renyah mendengar celetukan pedas Rhea. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuang muka sesaat, lalu kembali menatap Senja dengan senyum malu-malu. “Kan, yang penting niat baiknya, Rhe.”
Di tengah riuhnya canda tawa mereka, sebuah angkot hijau tua perlahan berhenti tepat di depan Senja.
“Angkot, Neng?” tawar sang sopir dari balik kemudi, sedikit melongokkan kepalanya ke arah jendela.
Senja memastikan angka trayek yang tertera di kaca depan mobil. Setelah yakin angkot itu menuju ke arah rumahnya, ia mengangguk pada sopir, lalu kembali berbalik menghadap Rhea dan Pramudya.
“Aku pulang duluan, ya,” pamit Senja.