“...Ja? Senja? Kamu masih di situ? Eh, kok diem?”
Senja tersentak saat menyadari suara di seberang sana berulang kali memanggil namanya, membubarkan gema tawa yang baru saja lenyap.
“Ah, iya? Kenapa?” tanya Senja.
Laki-laki itu terdiam sejenak. Saluran telepon mendadak sunyi, sebelum akhirnya suara beratnya kembali terdengar, memecah keheningan dengan intonasi yang jauh lebih berat. “Kamu habis nangis, kan?”
Senja terkesiap. Pertanyaan itu seketika merampas seluruh pasokan udara di paru-parunya. Dengan tatapan nanar, ia menjauhkan ponsel itu beberapa sentimeter dari telinga. Butuh waktu beberapa detik bagi Senja untuk menguasai diri, sebelum akhirnya ia kembali menempelkan benda itu ke telinga.
“Gimana ... kamu bisa tahu?”
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. “Tadi Bapak bilang, katanya kamu nangis di angkot, makanya aku langsung telepon. Kamu kenapa nangis, hm?”
Senja memalingkan wajahnya ke luar jendela, memaksakan seulas tawa pendek yang terdengar sumbang. “Nggak apa-apa, kok.” Ia sempat terdiam beberapa saat, “ternyata, Bapak lebih perhatian sama aku, dibanding anaknya sendiri, ya,” ledeknya.
“Iya, tuh. Bapak tadi tiba-tiba bilang gini, ‘Dewangga, coba telepon Senja. Bapak lihat, dia lagi nangis di angkot.’ Ya aku kaget, makanya langsung telpon kamu.”
Senja merapatkan tubuhnya ke sudut kursi penumpang. “Ih, nggak ... orang tadi cuma kelilipan debu, kok,” ucap Senja bohong, sementara sepasang matanya kini menatap kosong ke arah lantai angkot yang kusam.
“Nggak usah bohong. Aku kenal kamu bukan sehari dua hari, Senja,” potong Dewangga lembut.
Senja berdecak pelan, mendadak kehilangan kata-kata untuk mengelak. Seketika, kesunyian yang canggung kembali datang. Hanya ada bunyi klakson, yang sahut-menyahut dari luar angkot, mengisi kekosongan ruang di antara dua hati yang sebenarnya masih menyimpan banyak cerita yang belum usai.
“Senja,” panggil Dewangga kemudian. Suaranya melunak, terdengar berat oleh rasa bersalah yang tertahan.
“Hm?”