Hosh ... hosh ... hosh ...
Derap sepatu Senja menghantam permukaan tanah lapangan luar GOR Kampus IPB dengan kencang. Paru-parunya terasa membara, memaksa udara keluar dengan embusan pendek yang tersengal di tenggorokan. Keringat deras merembes dari dahi, membasahi pinggiran jilbab hitamnya yang berkibar membelah angin pagi Dramaga yang menusuk kulit. Tanpa memedulikan beberapa pengunjung yang menatapnya heran, ia terus mengepalkan tangan erat-erat, memacu langkahnya mengitari lapangan hijau yang luas itu.
“Senja! Oy, Senja! Berhenti dulu!”
Sebuah teriakan melengking tiba-tiba terdengar tepat dari arah belakang punggungnya.
Perempuan itu memegangi lambungnya yang mulai terasa perih, langkahnya tersendat menjadi lari-lari kecil di samping Indira. Napasnya naik-turun tidak beraturan. “Itu anak kenapa sih, Dira?” tanyanya parau.
Indira menoleh sekilas, lalu menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. Ia menyeka keringat di dahinya dengan kasar menggunakan punggung tangan. “Nggak tahu.” Ia menarik napas dalam-dalam, hingga dadanya kembang kempis. “Dari pas masuk gerbang kampus tadi, mukanya kelihatan bad mood banget, Ran.”
Kiran hanya bisa mengembuskan napas panjang sembari mengedikkan bahu. Ia menyenggol lengan Indira, memberi isyarat lewat tatapan mata yang sama-sama kelelahan, sebelum keduanya kembali memacu langkah, untuk mengejar Senja yang sudah menjauh di ujung lapangan.
Angin barat berembun kencang menyapu lapangan. Cuaca perlahan berubah gelap saat gumpalan awan kelabu menyelimuti matahari, meredupkan sisa cahaya keemasan yang biasanya tampak terik. Udara yang mendadak dingin dan lembap itu berembus tipis, mengalirkan sensasi sepi yang terasa pas menggambarkan kekosongan di dalam hati Senja.
Tepat setelah menyelesaikan putaran entah yang keberapa, kedua lutut Senja bergetar hebat. Langkahnya terseok, menyisakan seretan kaki yang berat dan gontai untuk menaiki undakan anak tangga tribun. Punggung tangan kanannya terangkat berulang kali, menyeka bulir keringat yang terus menderas dari pelipis.
Senja melemparkan tatapan buram ke deretan tempat duduk beton, menyisir celah di antara kerumunan pengunjung yang memadati area. Begitu matanya menangkap sudut kanan tribun yang kosong, ia langsung mengarahkan langkah ke sana. Senja menjatuhkan tubuhnya ke atas dudukan semen tribun. Jemarinya yang lemas dan agak gemetar memutar paksa tutup botol air mineral di genggaman, lalu menumpahkan isinya ke dalam kerongkongan dengan rakus hingga menyisakan setengah.
Dada Senja naik turun mengatur napas, sementara matanya menatap lurus tanpa berkedip pada satu titik noda di semen bawah bangkunya. Sedetik kemudian, fokus matanya kembali menyapu sekeliling, sesekali melirik orang-orang yang masih gigih berlari di lintasan bawah, sesekali beralih memperhatikan interaksi para pengunjung lain yang sedang beristirahat.
“Oy, Senja!”
Indira berjalan gontai, lalu menjatuhkan dirinya dengan kasar tepat di sebelah Senja.
Plak!
Sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahu Senja, membuat gadis itu sedikit tersentak. Senja menoleh ke samping, lalu terkekeh pelan melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah merah padam akibat kehabisan napas.
“Apa?” tanya Senja tanpa dosa.
Tanpa permisi, Indira langsung merebut botol air mineral dari genggaman Senja, dan meneguk isinya yang tinggal setengah sampai tandas.
“Sumpah ... kamu ... ya...” ucap Indira terbata-bata di antara napasnya yang putus-putus.
Kiran yang berdiri di belakang bangku tribun segera menepuk-nepuk punggung Indira dengan telaten, sementara tangan kirinya menjinjing kantong plastik cilok yang baru ia beli di gerbang GOR.
“Napas dulu, bestie. Jangan sampai pingsan di sini,” ucap Kiran santai.
Indira mengikuti instruksi Kiran. Ia menarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu mengembuskannya dengan cepat. Sedetik kemudian, matanya langsung melotot tajam ke arah Senja. “Emang gila kamu, Senja!” teriaknya kencang, membuat beberapa orang di tribun sekitar spontan menoleh kaget.
Mata badam Senja terbelalak. Semburat merah langsung menghiasi pipinya. “Berisik, ih, Dira!” bisiknya setengah mendesis sambil melemparkan senyum meminta maaf yang kikuk kepada orang-orang di sekitar mereka.