After All

Dear An
Chapter #6

Kehangatan yang Semu

Tawa Senja langsung berhenti begitu ponsel di genggamannya bergetar disusul suara dering yang terdengar nyaring. Dengan cepat, ibu jarinya menggeser ikon hijau di layar, dan menempelkan ponsel itu ke telinga.

​“Halo ...?”

​“Assalamualaikum, Senja.” Suara bariton yang renyah di seberang sana seketika menerbitkan senyum kecil di sudut bibir Senja.

Menyadari siapa yang menelepon, Senja terkekeh pelan. “Oh, iya. Waalaikumsalam, Pram.”

​“Di mana-mana itu kalau angkat telepon Assalamualaikum dulu, Ja, bukan halo,” goda Pramudya di seberang sana, diikuti suara tawa kecil yang terdengar samar.

Senja refleks menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga menahan senyum. “Iya, iya, maaf, Ustaz Pram,” balasnya sembari memutar ujung tali jilbabnya yang basah. “Ada apa, Pram? Tumben telepon pagi-pagi.”

​“Nggak ada apa-apa, sih. Emangnya, harus ada alasan khusus buat nelepon kamu?” Pram kembali terkekeh. Nada santai laki-laki itu sukses membuat jantung Senja berdegup sedikit lebih cepat. “Lagian, aku chat nggak dibales, kirain kamu diculik.”

Senja mendengus geli. Ia buru-buru memutar tubuhnya, memunggungi Kiran dan Indira yang mulai memasang telinga lebar-lebar. “Sembarangan. Aku lagi di GOR, tahu. Lagi jogging bareng Indira sama Kiran.”

​“Oh, pantesan suaranya agak ngos-ngosan gitu. Kirain karena kaget nerima telepon dari aku,” sahut Pram asal, memancing decakan pelan dari bibir Senja. “Ya sudah, langsung ke intinya aja. Besok ada seminar kepenulisan di Sentul. Kamu mau ikut nggak? Anggap aja sekalian cari inspirasi buat tulisan kamu,” ajaknya riang.

Senja terdiam. Ujung sepatunya bergerak menggores lantai semen tribun yang kotor. Ia menimbang ajakan itu dengan bimbang, teringat jarak Sentul yang lumayan jauh dari rumahnya. 

“Hmm ... pasti pulang malam, ya, Pram?” tanya Senja ragu.

​“Kemungkinan besar sih iya, Ja.”

Senja menggigit dinding pipi bagian dalam. Matanya bergerak lurus menatap lintasan lari di bawah sana, menimbang risiko yang harus ia ambil. “Aku sih pengen banget ikut, Pram. Tapi kalau pulangnya kemalaman, aku takut nggak dikasih izin sama orang tua.”

Lihat selengkapnya