Baru saja Senja mengulurkan tangan hendak menerima helm dari Pramudya, ponsel di dalam tasnya bergetar. Nada dering yang nyaring dan tiba-tiba itu seketika memecah kesunyian area parkir kampus yang mulai sepi.
Dengan tergesa, Senja merogoh isi tasnya. Jantungnya berdesir hebat saat menatap layar, menampilkan sebaris nama yang sangat ia kenal. Sebelum Pramudya sempat bertanya, Senja sudah lebih dulu menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo … ?”
“Geura balik maneh, geus peuting oge!” (Cepat pulang kamu, udah malam juga!)
Pekikan amarah dari seberang telepon itu menghantam pendengaran Senja begitu telak. Seketika, udara malam di sekitarnya seolah membeku, mengalirkan rasa dingin yang merayap di telapak tangan dan melumpuhkan seluruh pasokan udara di dadanya.
Senja menelan ludah dengan susah payah. Sambil memaksakan seulas senyum tipis ke arah Pramudya, ia menjawab pelan, “heug, ieu rek balik, A Rian.” (Iya, ini mau pulang, A Rian.)
“Awewe naon maneh jam sapuluh peuting can balik? Rek jadi jablay?! Matak urang moal ngijinan maneh kuliah, lamun jiga kieu mah!” (Perempuan macam apa kamu jam sepuluh malam belum pulang? Mau jadi jablay?! Makanya aku nggak bakal izinin kamu kuliah, kalo kayak gini!)
Senja tertunduk, seolah rentetan kata makian itu menjelma menjadi batu-batu tak kasat mata yang menghujami tubuhnya. Ia memejamkan matanya, meremas pinggiran tas kainnya demi menyalurkan gemetar yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
“Pan Senja ge henteu tiap poe balik peuting, kakarek pertama ieu ge!” (Kan Senja juga nggak tiap hari pulang malam, baru pertama kali ini juga!)
Suara Senja mulai bergetar, sudut matanya terasa panas. “Senja juga udah izin ke Bapak sama Umi mau ada seminar di Sentul. Kenapa jadi Aa yang ngamuk-ngamuk?”
“Meni euweuh karunya ka kolot!” (Sama sekali nggak ada kasihan sama orang tua!)
Pertahanan yang sejak tadi dibangun runtuh seketika, digantikan oleh rasa sesak yang naik ke dada. Senja menghirup udara malam, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai memburu.
“Ya Allah, A, cuma masalah kayak gini doang. Biasanya juga Senja udah di rumah sebelum Maghrib! Baru kali ini aja, itu juga nggak sendirian, bareng teman-teman naik mobil. Senja juga sadar diri, nggak macem-macem selama kuliah!” cecar Senja dengan suara yang bergetar hebat, disusul seulas isakan yang akhirnya lolos tanpa bisa ia bendung.
“Matak urang moal ngijinan maneh kuliah. Jeung naon kuliah, lamun ujung-ujungna engke mah di dapur!” (Makanya aku nggak bakal izinin kamu kuliah. Buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya nanti cuma di dapur!)
Klik.
Sambungan itu dimatikan secara sepihak. Meninggalkan nada sibuk yang berbunyi nyaring di telinganya, memutus seluruh kalimat yang belum sempat Senja selesaikan.
Senja terpaku. Tangannya yang memegang ponsel perlahan turun ke samping tubuh. Kalimat tajam Rian, terasa seperti pisau yang menguliti seluruh harga diri dan impian yang selama ini ia bangun kembali dengan susah payah. Kakak kandungnya sendiri—yang seharusnya menjadi pelindung—justru menjadi orang pertama yang meruntuhkan harapannya.
Senja mendongakkan kepala, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, memaksa air mata yang menggenang di pelupuknya agar tidak jatuh lebih deras. Ia menarik napas sedalam yang ia bisa, mencoba meredam denyut perih di dada.
Setelah berhasil menguasai diri, ia melangkah mendekat ke arah motor Pramudya, lalu meraih helm dan memasangnya ke kepala.
“Yuk, Pram,” ajak Senja. Suaranya terdengar serak.
Pramudya yang sejak tadi memperhatikan dalam diam, memilih untuk tidak bersuara. Tatapannya tertuju pada sepasang mata kemerahan Senja yang mulai basah. Laki-laki itu cukup peka untuk tahu bahwa saat ini, pertanyaan apa pun hanya akan melukai Senja lebih dalam. Tanpa kata, ia mengangguk pelan lalu berbalik untuk menyalakan mesin motornya.
Sepanjang jalan raya yang lengang, keduanya dilingkupi keheningan. Hanya ada deru mesin motor dan desiran angin yang menghantam jaket. Di atas motor yang melaju membelah malam, pikiran Senja berkelana riuh, berkejaran dengan sorot lampu jalanan yang berpendar kuning keemasan.