AFTER SEVEN YEARS

Anoi Syahputra
Chapter #10

HITUNGAN MUNDUR

Presiden menatap Bruce cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Katakanlah,” ucapnya pelan, “apa yang harus kami dengar.”

Bruce berdiri tegak. Bahunya tak lagi setegap seorang jenderal aktif. Ia menarik napas perlahan, seolah sedang menyiapkan diri untuk menyentuh luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Pandangan matanya menyapu ruangan—para menteri, perwira tinggi, wajah-wajah yang terbiasa memutuskan hidup dan mati dari balik meja rapat.

“Apa yang akan saya sampaikan,” katanya rendah, “menyangkut sisi gelap negara ini. Sisi yang tidak pernah dimaksudkan untuk diketahui publik.”

Beberapa kepala terangkat. Kursi bergeser pelan.

Wayne menegakkan tubuh. Ia tahu arah pembicaraan ini dan tahu betapa besar risikonya.

Bruce meraih tas tua di samping kakinya. Gerakannya lambat, nyaris seperti ritual. Ia membuka tas itu, mengeluarkan sebuah map tipis, lalu meletakkannya di tengah meja.

Wayne melihat kode kecil di sudut map itu. Napasnya tertahan.

Kode klasifikasi lama.

Kode yang sudah lama tidak digunakan, sejak masa ketika negara ini berada di ambang kekacauan internal.

Beberapa pejabat menegakkan tubuh. Yang lain saling melirik, seolah diingatkan pada sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

Bruce membuka map itu. Di halaman pertama tercetak jelas: PROJECT KOMANDO. Klasifikasi: SANGAT RAHASIA. Persetujuan Eksekutif: ———

Beberapa nama disensor tebal. Di bagian bawah halaman, sebuah tanda tangan.

Presiden Lorenc.

Presiden sebelum era mereka. Presiden yang memimpin saat negara memilih bertahan dengan cara apa pun.

Presiden yang sekarang mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit saat membaca.

Bruce membalik halaman berikutnya.

Daftar kandidat. Dua puluh entri, hanya nama depan. Evaluasi psikologis singkat, nilai pelatihan. Laporan medis yang terlalu detail untuk disebut wajar.

“Proyek ini dibentuk, pada masa ketika pemerintah percaya hukum dan moral tidak lagi cukup untuk mempertahankan negara.” Bruce melanjutkan.

Ia mengangkat wajahnya, menatap satu per satu orang di ruangan itu.

“Mereka direkrut untuk melakukan hal-hal yang tidak boleh tercatat. Tanpa identitas resmi, tanpa eksistensi administratif. Operasi lintas batas. Eksekusi terselubung. Penugasan yang bahkan tidak diakui pernah terjadi.”

Keheningan merayap masuk ke ruangan.

“Dan ketika keberadaan mereka mulai tercium—”

Bruce berhenti sejenak, menghela napas.

“Negara melakukan apa yang selalu dilakukan terhadap rahasia yang terlalu besar.”

Ia menutup map itu perlahan.

“Negara menguburnya.”

Presiden mengetuk meja pelan. “Langsung ke intinya.”

Bruce mengangguk.

“Pola serangan yang kita hadapi sekarang bukan gaya kelompok teroris amatiran,” katanya.

Ia menatap Presiden tanpa ragu.

“Itu gaya orang-orang yang pernah dilatih oleh negara ini sendiri.”

Beberapa pejabat saling berpandangan. Wayne merasakan denyut di pelipisnya.

Menteri Keamanan akhirnya bersuara, nadanya tertahan.

“Apakah Anda mengatakan ini dilakukan oleh unit dari proyek tersebut?”

Bruce terdiam sejenak.

“Saya yakin,” katanya akhirnya, “tidak semua dari mereka mati.”

Hening jatuh seperti palu.

Presiden bersandar ke kursinya. Wajahnya tetap tenang, namun matanya mengeras.

“Dokumen ini akan diamankan. Semua informasi terkait proyek ini dipindahkan ke jalur non-publik.” Ujarnya dingin.

Ia menoleh ke Wayne.

Lihat selengkapnya