After That Night

ravella han
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1

Backstage yang semula dipenuhi kru perlahan mulai lengang. Sebagian besar sudah keluar untuk membereskan peralatan di atas panggung, sementara yang lain sibuk mengangkut perlengkapan menuju mobil pengangkut.


Menyisakan satu ruangan yang kini hanya terdapat dua orang di sana.


Zergan baru saja meletakkan gitarnya ke dalam hardcase ketika suara langkah kaki membuatnya menoleh.


"Nadien?"


Gadis itu berhenti tepat beberapa langkah di hadapannya. Jemarinya saling menggenggam erat, sementara napasnya terdengar sedikit tidak beraturan.


"Kak Zergan... aku mau ngomong sesuatu."


Zergan mengangguk pelan, memberi isyarat agar Nadien melanjutkan.


Nadien menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang sejak tadi nyaris hilang.


"...Aku suka sama Kakak."


Ruangan itu mendadak sunyi.


Zergan membeku, ia mematung. 


"Nadien?"


Ia memastikan.


Nadien menatap orang itu. "Aku beneran... bilang itu, Kak."


Zergan tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.


"Tapi kamu... umur kamu jauh di bawah aku."


Nadien menggeleng. "Apa itu sebuah masalah, Kak?"


Zergan menatap gadis di depannya, lalu kembali mengembuskan napas.


"Aku... jelek?"


Zergan langsung menggeleng.


"Gak sama sekali, kamu cantik. Tapi..." Ia menggeleng mengatakan itu.


"Aku gak bisa terima kamu."


Wajah Nadien tampak kecewa mendengarnya, perlahan ia menunduk... sesekali memalingkan wajah dengan mata berkaca-kaca.


"Karena umur kita?"


Zergan seperti tak habis pikir. "Kamu bahkan lebih cocok aku anggap adik, Nad..."


Perlahan, air mata itu menetes. Nadien membuang pandangan dari cowok itu, tak ingin dilihat.


"Mungkin kamu bisa cari cowok lain yang seumuran sama kamu."


Nadien menggeleng. "Aku gak mau, aku suka yang kayak Kakak. Bukan yang umurnya sama dengan aku, menurut aku... Kakak keren," lirihnya.


Zergan masih menatap Nadien. "Aku tahu kamu cantik, di umur kamu yang segini. Tapi... konyol kalau misalnya aku anggap kamu sebagai perempuan, Nad."


Nadien mengangkat kepalanya perlahan. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan.


"Kenapa konyol?"


Zergan mengembuskan napas panjang. "Karena dari awal aku ngenal kamu, kamu itu anak baru lulus SMP yang sering datang nonton penampilan band kami. Tiap ketemu, aku selalu nganggep kamu kayak adik aku. Gak pernah lebih."


"..."


"Aku gak mau bikin kamu nunggu sesuatu yang dari awal emang gak mungkin aku kasih."


Bibir Nadien bergetar.


"Kalau... suatu saat nanti umur aku udah cukup?"


Zergan tersenyum tipis, tetapi senyum itu justru terasa semakin menyakitkan bagi Nadien.


"Jawabannya tetap sama."


Seketika, harapan yang sejak tadi masih berusaha dipertahankan runtuh begitu saja.


Nadien menundukkan wajahnya. Jemarinya mencengkeram ujung dress yang dikenakannya, berusaha menahan isak yang hampir lolos.


"Maaf ya, Kak..."


"Harusnya aku gak ngomong kayak gini."


"Jangan minta maaf." Zergan menggeleng pelan. "Perasaan kamu gak salah. Yang salah itu justru, kalau aku nerima perasaan itu padahal aku gak bisa ngebalesnya."


Nadien mengangguk pelan, meski dadanya terasa sesak. "Aku ngerti..." Suaranya nyaris tak terdengar.


Ia mengusap cepat air matanya, lalu memaksakan seulas senyum.


"Makasih... udah mau dengerin aku."


Tanpa menunggu jawaban, Nadien membalikkan badannya dan melangkah keluar dari backstage.


•••


Beberapa menit sebelumnya...


Sejak melihat Nadien bergegas meninggalkan kerumunan penonton menuju area khusus kru, Ansel memutuskan untuk mengikutinya.


Awalnya ia hanya mengira Nadien ingin meminta tanda tangan atau sekadar menyapa personel band yang selama ini Ansel ketahui sering Nadien datangi. Bahkan, beberapa kali ia juga menemani Nadien datang menonton konser, atau sekadar festival band yang didatangi band tersebut.


Namun langkah gadis itu justru berhenti di depan pintu backstage.


"Ngapain Nadien ke sini?"


Rasa penasarannya membuat ia ikut mendekat.


Meski begitu, ia tidak benar-benar masuk. Ia hanya berdiri beberapa meter dari pintu yang belum tertutup sempurna.


Dari celah kecil itu...


Suara Nadien terdengar begitu jelas.


"...Aku suka sama Kakak."


Jantung Ansel seperti berhenti berdetak.


Tanpa sadar, langkahnya maju satu tapak.


Ia dapat melihat punggung Nadien yang berdiri membelakangi pintu, sementara Zergan tampak mematung di hadapannya.


"Tapi kamu... umur kamu jauh di bawah aku."


Ansel tetap diam.


Tak sedikit pun berniat mengalihkan pandangan.


"Aku gak bisa terima kamu."


Kalimat itu membuat rahang Ansel mengeras.


Ia melihat bahu Nadien perlahan turun, lalu gadis itu menundukkan kepala.


"...Kalau suatu saat nanti umur aku udah cukup?"


Pertanyaan lirih itu membuat dada Ansel terasa sesak, ia belum pernah melihat Nadien memohon seperti itu kepada siapa pun—selain dirinya.


Dan jawaban yang diterima gadis itu...


"Jawabannya tetap sama."


Ansel mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Hingga detik berikutnya, ia melihat Nadien hampir membalikkan badan.


Cepat-cepat, ia pergi dari situ.


Ceklek!


Pintu itu terbuka, menampilkan Nadien yang berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah lagi.


Isak pelan lolos dari bibirnya.


Langkahnya terus berjalan tanpa arah, hingga...


"Nad!"


Suara itu membuat Nadien refleks mengangkat wajah.


Lihat selengkapnya