After That Night

ravella han
Chapter #2

2. Malam itu. . .

Sudah hampir seminggu sejak mereka kembali dari Indonesia.


Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya.


Nadien kembali disibukkan dengan sekolahnya, sementara Ansel yang sudah menjadi mahasiswa hampir tak pernah lagi bertemu dengannya. Mereka belum sempat bertemu lagi semenjak waktu itu, dan itu bisa terbilang lama jika dibandingkan biasanya hampir setiap hari mereka meluangkan waktu untuk bertemu.


Ansel dan Nadien memang lahir di tahun yang sama, tapi karena cowok itu terlalu pintar membuatnya beberapa kali lompat kelas hingga mengikuti akselerasi. Sementara Nadien, masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas.


Sejak hari di mana Nadien menolaknya... hubungan mereka berubah menjadi canggung.


Nadien sendiri, tentu saja terpikirkan... biasanya, ia dan Ansel hampir selalu bersama walaupun mereka tak di jenjang sekolah yang sama. Namun, cowok itu seringkali menghampirinya, atau pun sebaliknya, dan... mereka juga selalu saling mengirimkan pesan.


Sore itu Nadien baru saja akan pulang dari sekolah, ia berjalan sendirian untuk hendak kembali ke asrama tempatnya kini tinggal.


Nadien berjalan menyusuri trotoar yang berada tak jauh dari area sekolah. Jalan menuju asramanya memang tidak terlalu jauh, sehingga ia sudah cukup terbiasa melewatinya sendirian.


Pandangannya lurus ke depan, namun tatapan matanya tampak sedih.


"Aku kangen sama kamu, beberapa hari ini kamu kayak diemin aku," batin Nadien. "Aku gak bermaksud buat nyakitin kamu, karena aku memang gak ada perasaan lebih buat yang kamu maksud."


Nadien memejamkan matanya sebentar, air mata sedikit demi sedikit jatuh. "Aku emang sayang sama kamu, tapi itu semua aku rasain karena kita teman, aku juga percaya sama kamu selama ini. Kenapa beberapa hari ini kamu kayak marah sama aku?"


Nadien mengusap matanya dengan punggung tangannya, langkahnya lambat. "Aku gak bermaksud gitu," lirihnya, ia sesenggukan.


Beberapa hari ini, ia terus kepikiran soal itu. Dan sekarang, ia menangis. Bukannya malah, menangis karena baru saja ditolak oleh seseorang yang ia bilang adalah seseorang yang ia cintai.


"Kenapa nangis?"


Suara itu, Nadien langsung mengangkat wajahnya dan menoleh pada orang itu.


"Ansel," gumamnya, ia berusaha menyadarkan dirinya karena takut salah lihat. "Kamu di sini?"


Ansel menatapnya. "Iya, kamu kenapa nangis di pinggir jalan kayak gini?" Ia menyentuh rambut dan tampak mengusap pelan pipi Nadien yang basah karena air mata. "Jangan nangis karena cowok itu," ucapnya kemudian, tatapannya datar dan terdengar tak suka kala mengucapkan kata terakhir.


Nadien yang semula masih menatapnya, sedetik kemudian memeluk cowok itu. "Aku kangen kamu, beberapa hari ini kenapa kamu ngilang? Aku... ngerasa bersalah, maaf," ucapnya dalam pelukan Ansel.


Ansel terdiam sebentar, hingga tangannya kemudian balik memeluk Nadien sambil perlahan mengusap punggung gadis itu.


"Kamu tanya aku kenapa ngilang?" tanyanya, lirih dan hampir tak terdengar.


Nadien mengangguk pelan, namun tanpa dilihatnya cowok yang tengah ia peluk itu menyunggingkan senyum miring.


Setelahnya, Ansel melepas pelukannya—sedikit kasar hingga Nadien tersentak pelan.


"K-kenapa?" tanya Nadien.


Ansel menatapnya—tajam, lalu tangannya meraih tangan Nadien—mencengkeramnya erat. "Ikut aku," ucapnya, ia lalu membawa Nadien bersamanya.


Mau tidak mau, langkah Nadien mengikutinya—tangannya ditarik oleh cowok itu.


Hingga saat ini, mereka berada di suatu tempat—agak sepi dan... cukup gelap.


Ansel menarik Nadien ke sebuah dinding, lalu berhenti tepat di hadapannya.


Nadien sedikit terkejut. Ia menatap sekeliling, baru menyadari bahwa tempat itu jauh lebih sepi daripada jalan yang tadi mereka lewati.


"Ansel..." panggilnya pelan.


Cowok itu tidak menjawab, namun terus menatapnya.


"Ansel... k-kenapa di sini?" Nadien mengedarkan pandangan. "Aku takut," lirihnya.


Ansel masih menatapnya sejenak, hingga kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia menggenggam benda itu, dan menatapnya sejenak.


Nadien ikut menatap arah mata Ansel, dan... tangan cowok itu meraih mulutnya agar terbuka.


Nadien menggeleng, ia berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan cowok itu.


Ansel menatapnya beberapa detik, ia telah berusaha membuka mulut Nadien. "Telan," ucapnya.


"Enggak..." suara Nadien bergetar.


Detik selanjutnya... Ansel memajukan wajahmya, membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.


Tangan kirinya kini meraih tangan Nadien, dan tangan kanannya menyentuh tengkuk gadis itu untuk ditariknya pelan.


Ia melumat bibir gadis itu, memaksa Nadien tenggelam oleh semua yang baru saja ia lakukan.


Nadien tergelak, ia tak mengerti... "Ini apa?!" batinnya.


Sementara Ansel, masih mencium bibirnya dengan sesekali melumat, bahkan kini... mendesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut gadis itu dan yang tak lebih disangka oleh Nadien... cowok itu memasukkan salivanya sendiri pada mulutnya.


Nadien menggeleng kuat ke kanan dan kiri, tangannya berusaha berontak... namun tenaga Ansel lebih darinya.


Hingga... sesuatu itu akhirnya tertelan dalam mulutnya.


Nadien langsung terdiam. Sementara Ansel masih terus menciumnya, melumat bibirnya dengan dalam hingga Nadien hampir kehabisan napas.


Ansel akhirnya melepaskan ciuman mereka, ia menatap kembali wajah itu.


Nadien berusaha menetralkan napasnya, tangannya masih dicengkeram kuat oleh Ansel. Perlahan, ia menatap cowok itu hingga terisak.

Lihat selengkapnya