After That Night

ravella han
Chapter #3

3. Hancur.

Nadien membuka matanya.


Cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah tirai sebuah kamar yang hordennya masih tertutup dengan rapat.


Untuk beberapa detik, gadis itu hanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang terasa asing baginya. 


Kepalanya terasa sedikit berat. Tubuhnya begitu lelah.


Perlahan, Nadien menoleh ke samping dengan napas tertahan, dilihatnya Ansel yang masih memejamkan mata tertidur pulas. Wajah cowok itu begitu tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.


Sedikit demi sedikit, ingatan tentang kejadian semalam kembali memenuhi kepala Nadien.


Wajahnya seketika berubah.


Dadanya terasa sesak, sementara matanya mulai berkaca-kaca. Tangis yang sejak tadi berusaha ia tahan kembali memenuhi pelupuk matanya.


Nadien menatap Ansel cukup lama.


"Bajingan kamu!" bisiknya penuh penekanan, matanya memicing sengit melihat cowok itu.


"Kamu kenapa lakuin ini ke aku?" lirihnya, nyaris tak terdengar. "Kamu bukan Ansel yang selama ini aku kenal."


Bibirnya bergetar.


"Kamu jahat banget sama aku..."


Tangisnya hampir pecah, tetapi Nadien buru-buru menutup mulutnya sendiri. Ia takut suara tangisnya membangunkan Ansel.


Namun air mata itu tetap mengalir.


"Kenapa?" Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Rahangnya bergetar.


"Aku benci kamu."


Nadien segera mengalihkan pandangan.


Ia tidak ingin menangis di depan Ansel atau pun memberinya kesempatan melihat betapa hancurnya dirinya sekarang.


Dengan sangat perlahan, Nadien melepaskan diri dari pelukan Ansel yang sudah mengendur. Gerakannya begitu hati-hati agar cowok itu tidak terbangun.


Begitu berhasil menjauh, Nadien segera menarik selimut untuk menutupi dirinya.


Ia duduk di tepi tempat tidur. Namun baru beberapa detik, wajahnya kembali meringis.


"Ah..."


Tangannya refleks berpegangan pada sisi tempat tidur.


Rasa sakit membuatnya berhenti sejenak, Nadien menundukkan kepala. Tatapannya kemudian jatuh pada seprai tempat mereka berada sejak semalam, dadanya kembali sesak melihat apa yang kini dilihatnya.


Ia membeku, matanya terpaku beberapa detik. Darah itu... air matanya hampir jatuh lagi. Namun kali ini ia buru-buru mengusapnya.


"Jangan nangis dulu, gak penting," bisiknya kepada dirinya sendiri.


Ia tidak ingin menangis lagi.


Bukan di sini.


Dan bukan di depan bajingan itu.


"Kamu bukan lagi Ansel yang aku kenal," gumamnya, suaranya bergetar. "Aku benci kamu. Selamanya." 


Seberapa kuat pun ia berusaha menahan air matanya, tetap saja beberapa tetes akhirnya jatuh membasahi pipinya.


Nadien mengusapnya kasar.


Ia kemudian mencari pakaiannya yang berserakan di sekitar kamar. 


Tangannya gemetar ketika meraih satu per satu pakaian tersebut. Ia mengenakannya perlahan, berusaha mengabaikan rasa sakit yang kembali terasa setiap kali tubuhnya bergerak.


Saat melihat salah satu pakaian miliknya yang sudah rusak, Nadien terdiam.


Tatapannya perlahan beralih kepada Ansel.


"Lo gila..." batinnya geram.


Ia menggeleng pelan, lalu segera membuang pandangannya.


Nadien tidak ingin melihat cowok itu lagi.


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia berusaha berdiri.


Namun... baru satu langkah, lalu dua langkah. Rasa sakit itu membuat langkahnya menjadi sangat lambat.


Nadien memejamkan matanya. "Sakit..." suaranya bergetar. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang kembali muncul.


Sesekali ia harus berhenti untuk menarik napas, tatapannya kembali jatuh kepada Ansel.


Cowok itu masih tertidur, dan Nadien menatapnya untuk terakhir kalinya. Melihat wajahnya, tak ada perasaan seperti dulu lagi... hatinya sakit.


Tidak ada lagi rasa hangat atau pun rasa aman seperti biasanya ketika Nadien bersamanya. Yang tersisa dalam hatinya kini hanya perasaan kecewa, takut, marah, dan rasa sakit yang begitu dalam.


Nadien segera membalikkan badan.


Ia mengambil barang-barangnya dan berusaha meninggalkan kamar itu secepat mungkin meskipun tubuhnya masih terasa sangat sakit.


Tangannya sudah berada di gagang pintu ketika ia kembali berhenti. 


Untuk terakhir kalinya, Nadien menoleh ke arah Ansel.


Tatapannya kosong.


"Jangan pernah cari aku lagi."


Setelah itu, ia membuka pintu.


Nadien pergi.


Meninggalkan Ansel yang masih tertidur di kamar itu.


•••


Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.


Setiap langkah membuat Nadien kembali teringat pada apa yang terjadi.


Ia terus menundukkan wajah sepanjang perjalanan, tidak ingin bertemu pandang dengan siapa pun. Ia hanya ingin segera sampai di rumah.


Nadien sampai di rumahnya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan tak ingin kembali ke asramanya—dan entah itu akan sampai kapan.


Beberapa pegawai rumah sempat menyapanya ketika ia baru masuk.


"Nona Nadien, Anda—"


Namun Nadien sama sekali tidak menjawab.


Ia hanya terus berjalan.


Langkahnya tergesa menuju tangga—rasa sakit itu ia tahan mati-matian sejak tadi, kemudian naik ke lantai atas tanpa sekalipun menoleh ke belakang.


Begitu sampai di depan kamarnya, Nadien segera membuka pintu.


Barulah setelah itu pertahanannya runtuh, Nadien bersandar di balik pintu.


Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai.


Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. 


Ia menangis sangat keras di kamarnya itu.


"Aku benci kamu..." Nadien memeluk lututnya sendiri. "Aku benci kamu... A—." Nadien berhenti, suaranya bergetar hebat dan ia menggeleng berkali-kali


Bahkan, untuk menyebut namanya saja terasa terlalu menyakitkan.


"Aku nggak sudi nyebut nama kamu lagi." Tangisnya semakin keras. "Kamu jahat!" Nadien mengusap tubuhnya sendiri—ada rasa jijik yang kini dirasakannya.


"Aku gak mau kenal kamu lagi... aku gak mau." Napasnya tersengal di sela tangis. "Aku gak pernah bayangin bakal mengalami ini..." Suaranya patah.


"Aku gak mau." Nadien menggeleng kuat-kuat. "Aku udah bilang gak mau." Tangannya beralih pada kedua telinganya, mengusap dan menutupinya sambil terisak.


Air matanya terus mengalir. "Kamu maksa aku..."


Kalimat berikutnya keluar dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kamu perkosa aku."


Begitu mengucapkannya, Nadien kembali menangis.


Ia menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh lutut. "Kenapa kamu lakuin itu ke aku...?"


Tidak ada jawaban, hanya suara tangisnya sendiri.


"Aku percaya sama kamu..." Nadien menggigit bibirnya, berusaha menahan isakannya. "Kamu sahabat aku." Ia menggeleng.


"Harusnya kamu jagain aku." Suaranya kembali pecah. "Bukan malah bikin aku takut sama kamu."


Nadien memeluk lututnya semakin erat. "Aku benci kamu, A—" Ia berhenti, matanya memejam.


Dan setelahnya, justru tangisnya kembali pecah lebih keras. "Aku benci kamu..." ulangnya lirih. "Aku benar-benar benci kamu!"


•••


Beberapa menit berlalu.


Lihat selengkapnya