After the last chorus

Kadek Intan Sari
Chapter #1

00.00

Seorang gadis dengan rambut coklat panjang terikat rapi, kulit kuning langsat dan netra coklat kembali mendorong pintu kafe itu, seperti yang selalu ia lakukan sejak beberapa tahun lalu dia vionika aldebaran

Bunyi lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, menyambut kedatangannya. Aroma kopi yang hangat langsung menyergap, terasa begitu familiar—seolah memeluknya tanpa suara.

Tempat itu tidak banyak berubah.

Rak-rak buku masih berdiri di sudut ruangan, penuh dengan halaman-halaman yang pernah ia jelajahi diam-diam. Meja pojok dekat jendela—tempat favoritnya—masih kosong. Dan di balik meja kasir, pria paruh baya itu masih ada. Sosok yang sama yang dulu, tanpa banyak tanya, memberinya senyuman pertama saat ia merasa dunia terlalu sunyi.

Vionika membalas dengan anggukan kecil.

Langkahnya terhenti sejenak.

Ingatan lama, yang selalu ia simpan rapi, kembali mengetuk.

Dulu… pertama kali ia datang ke tempat ini, ia masih mengenakan seragam SMP. Hari itu bukan hari yang baik. Tatapan orang-orang terasa lebih tajam dari biasanya. Bisikan-bisikan kecil yang tidak pernah benar-benar kecil, terus mengikutinya pulang.

Ia berjalan tanpa tujuan.

Sampai akhirnya hujan turun.

Tanpa pilihan, ia berlari kecil dan berteduh di kafe ini—yang saat itu bahkan belum seramai sekarang. Lampunya hangat, tapi suasananya masih sepi. Seperti tempat yang belum sepenuhnya jadi… tapi sudah cukup untuk membuat seseorang berhenti.

Ia berdiri lama di dekat pintu, ragu untuk masuk.

Sampai pria itu menyadarinya.

Tanpa banyak bertanya, ia hanya membuka pintu sedikit lebih lebar, lalu tersenyum.

Tidak ada rasa iba di sana.

Tidak ada rasa aneh.

Hanya… penerimaan yang sederhana.

Sejak hari itu, Vionika mulai datang lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya tempat ini menjadi satu-satunya ruang di mana ia tidak perlu menjelaskan apa pun untuk bisa diterima.

Tempat di mana diam… tidak dianggap aneh.

Vionika menarik napas pelan, lalu kembali berjalan menuju mejanya.

Hari itu kafe sedikit lebih ramai dari biasanya. Suara tawa, obrolan, dan denting gelas bercampur jadi satu. Di salah satu sisi, sekelompok anak laki-laki duduk berisik, memenuhi ruangan dengan energi yang terasa asing baginya.

Vionika tidak peduli.

Lihat selengkapnya