AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #1

SATU

Hari hampir gelap ketika seorang wanita terlihat terseok-seok memapah seorang lainnya. Siluet mereka terlihat jelas dengan latar matahari terbenam dan tanah gersang berbukit. Debu-debu beterbangan tipis di udara. Beberapa ekor kalajengking keluar dari balik tanah. Tapi langsung berlari menghindar begitu bayangan dua orang itu menyentuh tanah tempatnya berpijak.

Kalajengking itu sudah tahu kalau mereka sekarang ada di bawah rantai makanan. Tanah gersang dengan sumber air yang langka membuat tumbuhan enggan hidup. Hanya rumput terkuat yang mampu hidup dan berkembang biak di keadaan itu.

Saat mendekati tebing batu yang tinggi, perempuan yang memapah itu berhenti. Dia menarik napas sebanyak-banyaknya kemudian membantu gadis yang sedari tadi dia papah untuk duduk di antara rumput yang mengering.

Dia mengambil sebuah kerikil kecil kemudian melemparnya ke dinding batu. Dia melakukannya dua kali. Kemudian sebuah batu kecil bergeser. Seorang remaja laki-laki menampakkan wajahnya. Setelah melihat siapa yang melempar batu, remaja itu keluarr melaluii lubang sempit yang hanya muat untuk satu orang.

“Buana, bantu Ambu,” bisik wanita yang berumur sekitar 45 tahun itu. Matanya mengawasi sekeliling dengan waspada.

“Siapa dia?” tanya remaja 17 tahun bernama Buana itu saat melihat seorang gadis dengan pelipis berdarah duduk di sebelah Ambunya.

“Nanti Ambu jelaskan. Sekarang, bantu Ambu mengangkat gadis ini!” perintah wanita itu dengan rambut yang berantakan tertiup angin.

Dia memasuki lubang sempit dan sampai di ruangan di balik dinding gua terlebih dahulu.

Buana bergerak menggotong gadis yang masih pingsan itu. Berusaha memasukkan tubuhnya melalui lubang yang berdiameter tidak lebih dari empat puluh sentimeter.

“Hati-hati kepalanya!” Desis Ambu dari balik dinding.

Buana mengernyit. Bobot gadis itu mungkin sekitar 50 kg, tapi mengangkat manusia yang tidak sadar selalu terasa lebih berat dari bobot asli mereka. Buana mendorong tubuh gadis itu. Ambu menahan kepala si gadis yang sudah masuk kemudian memegang bahunya dan membantu Buana dengan mmenarik tubuh itu.

Ambu membaringkan tubuh gadis itu di tumpukan rumput kering yang telah dialasi selapis kain tipis. Dia membersihkan luka-luka gadis berambut merah itu dengan air yang menetes pelan dari batu-batu yang menggantung di langit-langit. Satu-satunya sumber air yang menjadi alasan mereka masih menetap di sana.

“Buana… jaga anak ini. Ambu akan segera kembali,” kata wanita berambut ikal sebahu itu sambil memasukkan beberapa benda ke dalam kantong bertali yang dia sampirkan di bahu kemudian.

Buana menatap si gadis yang tak sadar saksama. Tubuh gadis itu lebih tinggi dari Bentang. Warna rambutnya mirip, coklat kemerahan, meski rambut Bentang lurus sementara gadis ini sedikit bergelombang.

“Dia berasal dari Dunia Subur,” kata Ambu sambil menyelipkan pisau kecil di pinggang. Diikatnya rambut ke atas hingga lehernya yang penuh bekas luka terekspos.

Lihat selengkapnya