AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #2

DUA

Sebuah tabung kecil menggelegak di atas kompor spirtus yang menyala biru. Sebuah tangan mematikan api. Sarung tangan lentur anti panas menempel ketat di jemari besar itu. Tangan itu meletakkan tabung menggelegak di sebuah rak dan menunggunya dingin.

Telepon berdering. Tangan itu bergerak mengangkatnya setelah memastikan tabung-tabung di rak berdiri sempurna agar cairannya tidak tumpah.

“Ya. Sebentar lagi kita bisa memproduksinya secara massal. Kita butuh beberapa mineral langka tapi aku sudah mendapat informasi dimana kita bisa menemukannya,” ucap si pemilik tangan yang adalah seorang pria yang memiliki beberapa uban di kepalanya.

“Tidak. Kita akan segera mendapatkan ijin dari dewan.”

Pria itu menaikkan kacamata di hidungnya. Dia mengapit telepon dengan kepala dan bahu. Tangannya meraih cairan merah muda yang kini telah tenang di tabung. Dengan cekatan dia menuangkannya pada sebuah tanaman yang ditempatkan di sebuah pot tanah liat besar yang bertuliskan ‘Spesimen T-809’. Dilapisi dengan tabung kaca berdiameter 1,4 m.

“Aku akan berhati-hati dan menjaga penemuan ini dengan aman. Oke… ya, tentu.”

Telepon ditutup. Pria itu memperhatikan tanaman setinggi 70 sentimeter yang mulai berdenyut pelan. Suara-suara halus terdengar dari lubang-lubang kecil yang ada di dinding kaca pelindung tanamannya. Bunga-bunganya yang putih kecil berguguran dan bakal buah bermunculan menggantikannya. Pria itu tersenyum senang.

Kemudian dia menggeser kursinya ke hadapan tanaman lain dengan buah kuning bulat besar. Beberapa buah yang terlalu matang jatuh ke atas tanah di pot.

“Jadi, Prof… Anda lebih senang melihat tumbuhan-tumbuhan ajaib ini berkembang daripada melihat putri Anda sendiri lulus dari sekolahnya?” tanya seorang gadis yang telah berdiri di pintu laboratorium. Kepang rambutnya tampak rapi terjalin dari puncak kepala sampai bahu.

“Ah… sayang, ayah lupa. Apakah itu hari ini?” Pria beruban itu bangkit menghampiri si gadis dan memeluknya.

“Acaranya sudah selesai, Ayah,” kata si gadis sambil melepas pelukan ayahnya.

“Maafkaan ayah, Sayang. Ayah terlalu sibuk akhir-akhir ini. Tapi ibumu hadir, kan?” tanya pria itu sambil memijat pelipis. Rasa bersalahnya tidak bisa ia simpan dengan benar.

“Ya. Ibu datang tepat saat kepala sekolah mengalungkan medali penghargaan murid terbaik untukku.” Gadis itu mengangkat bahu sambil mengangkat medali yang menggantung di lehernya. “Tapi setelahnya ibu menghilang lagi.”

“Dia sibuk, Sayang. Kau harus mengerti itu.” Pria itu mengelus rambut anaknya. “Maafkan kami,” katanya dengan sorot mata penuh penyesalan. Ditariknya anak gadisnya ke dalam pelukan.

“Setelah proyek T selesai, kita akan menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Hanya kau, ayah dan ibumu,” kata pria itu.

Gadis itu mendongak menatap ayahnya. “Benarkah? Ayah janji?”

“Ya, Sayang. Ayah janji setelah proyek ini, dunia kita akan lebih baik dan aman. Tidak ada lagi kelaparan dan tanah gersang.” Pria itu mengecup kening anaknya lembut dan penuh kasih.

Dunia yang benar-benar subur akan dapat terwujud. Sebuah investasi yang sebanding dengan waktu-waktunya yang terlewatkan untuk melihat pertumbuhan anak remajanya. Sekarang dia bahkan tidak ingat anaknya beruusia 15 atau 16 tahun. Tapi bayaran yang didapatnya akan menyelamatkan anak dan cucunya kelak: terciptanya dunia yang hijau dan makmur.

Lihat selengkapnya