AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #3

TIGA

Matahari sudah berada di atas kepala. Angin menerbangkan rumput kering di antara pasir dan debu. Gunung Batu tampak berdiri kokoh. Tidak terganggu oleh angin yang sesekali melemparkan kerikil ke tubuhnya.

Ambu berdiri di puncak, memanjat batu berdebu dan berlindung di balik ujungnya yang tumpul mencuat. Matanya menyipit melihat ke arah timur yang tampak berkerut-kerut memuai. Hatinya tidak tenang. Sesekali ia memegang dada, berharap jantungnya bisa berdetak normal dengan itu. Namun, dia tahu selama kedua anaknya belum pulang, keresahan itu tidak akan pernah hilang. Ambu tidak ingin merasakan kehilangan lagi.

Jika ada pilihan, dia akan memilih menghilang daripada kehilangan. Sebab kehilangan telah membuat sebagian jiwanya mati. Meski masih ada anak-anaknya, tapi hatinya tidak pernah utuh lagi.

Ketika dia melihat dua sosok berjalan cepat menuju Gunung Batu, Ambu mengembuskan napas lega. Jantungnya boleh berdetak normal lagi. Dia segera turun untuk membukakan jalan masuk menuju gua mereka yang tersembunyi. Sebuah tempat yang selama tiga tahun telah ia klaim sebagai rumah.

Bentang menyentuh bahu kanannya yang tergores pedang begitu memasuki gua. Ambu segera menghampiri dengan wajah khawatir.

“Kamu kenapa, Tang?” tanya Ambu yang langsung menyingkap lengan baju Bentang. “Adikmu kenapa, Na?” Ambu melirik Buana yang tengah membebat jari tengahnya dengan kain.

“Aku gak apa-apa, Bu. Lukanya ga dalam. Cuma perih. Kakak sepertinya lebih parah,” ujar Bentang menunduk. Sesekali mencuri pandang ke arah Buana dari balik bahu Ambu.

“Kalian kenapa, Na?” Ambu melirik anak sulungnya dengan tatapan menuntut.

“Tadi… kami dikejar pemburu, Bu. Waktu sembunyi, bahu Bentang kena sabetan pedang,” jelas Buana singkat. Tidak menyinggung soal luka di jarinya.

“Pemburu?” Ambu memegang dadanya yang terasa perih. Ingatan soal bagaimana mereka dulu dikejar kelompok bengis yang selalu kelaparan itu memenuhi pikirannya. Tubuhnya hampir limbung tapi Bentang dengan cekatan menahannya.

“Mereka sekarang ada dimana-mana,” gumam Buana. Dia mengambil dua buah batu pemantik dan menyalakan api untuk membakar hasil tangkapan mereka.

Bentang membantu Ambu duduk dan mengambilkan air. “Kami baik-baik saja, Ambu.”

Ambu menatap Buana yang sedang memanggang kadal. Kemudian tangannya yang sedikit gemetar menyentuh wajah Bentang dan mengelusnya pelan.

“Ambu cuma punya kalian berdua. Kalau terjadi apa-apa dengan kalian, Ambu tidak akan sanggup meneruskan hidup.”

Air mata wanita itu menggenang di pelupuk mata. Dia menarik kepala Bentang pelan dan menyentuhkan dahinya dengan dahi sang gadis. “Kalau ada yang harus pergi, itu adalah Ambu. Dengar….”

Ambu berdiri, menarik tangan Bentang untuk menyatukannya dengan tangan Buana. “Ambu lebih ikhlas menghilang daripada kehilangan. Jika Ambu mati, Ambu lebih rela menjadi makanan kalian daripada menjadi santapan para bajingan keji itu!”

“Ambu--”

Ambu menutup mulut Bentang dengan telunjukknya. “Kalian dengar, kalau terjadi apa-apa. Kalian harus mencari Dunia Subur—”

Lihat selengkapnya