AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #4

EMPAT

Gerombolan berbaju taktis itu datang pukul enam pagi mengacak-acak laboratorium. Memecahkan tabung-tabung berisi cairan kimia dan menggeledah setiap rak dan lemari penyimpanan. Mereka menyita seluruh jurnal dan makalah yang tersusun rapi di dalam laci meja.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya profesor dengan rambut putih itu. Wajahnya merah padam mendapati seluruh laboratorium hancur berantakan.

“Letnan, itu spesimen yang kita cari!” tunjuk salah seorang pria bersenjata itu pada sebuah tabung besar berisi pot dengan tanaman pendek hijau yang batangnya meliliki urat menonjol yang terus bedenyut seperti memiliki jantung.

Profesor berlari untuk melindungi hasil risetnya. “Apa yang akan kalian lakukan?” teriaknya sambil memeluk tabung kaca.

“Hari, jangan halangi kami. Kami hanya menjalankan perintah,” kata letnan yang di dada kanannya tertulis nama Veda.

“Tugas? Tugas dari siapa? Kalau Dewan tahu kalian menghancurkan benih yang akan merusak masa depan, kalian akan dihukum!” jerit pria bernama Hari itu.

Letnan Veda terkekeh. Dia menyampirkan senjata laras panjangnya ke belakang. Kemudian sedikit menunduk agar matanya dan Hari sejajar.

“Dihukum? Kami sedang menjalankan eksekusi!” Letnan Veda menggerakkan tangannya ke udara. Dua orang bawahannya maju dan menghantam tabung pelindung spesimen T-809 dengan senjata dan benda di sekitar mereka hingga hancur.

“Veda! Jangan kurang ajar!” seru Hari lantang.

Letnan Veda mengeluarkan sebuah kertas dengan cap sah dari Dewan. Dia menunjukkannya tepat di depan wajah Hari.

“Tidak! Tidak mungkin!!!” Hari menggelengg cepat.

“Dewan meminta keamanan untuk menghancurkan seluruh penelitian Hari Saturna yang ilegal dan berbahaya. Bawa dia keluar!” perintah Letnan Veda.

Dua orang datang, menjegal Hari dan menyeretnya keluar dengan kasar. Hari melawan tetapi kekuatan dua orang itu tidak bisa dia lampaui.

Dengan mata kepalanya sendiri, Hari menyaksikan proyek T yang sudah berhasil dia kembangkan selama lima tahun dibakar dan dimusnahkan. Bahkan beberapa proyek kecil lain ikut dilalap api.

Hari berlari hendak menyelamatkan apa pun yang bisa dia sekamatkan dari sana. Tapi letnan Veda dan seorang lain memegangi tangannya.

Lihat selengkapnya