AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #5

LIMA

Sepanjang hidupnya, Bentang yakin kalau dia tidak pernah punya lingkaran hitam di mata setebal itu. Meski di hidupnya yang belum dia ingat kembali. Dia mejejalkan kaca kecil milik Ambu kembali ke dalam kantong. Kemudian menatap bintang Agastya yang perlahan memudar. Langit mulai terang dan mereka harus cepat-cepat mengangkat kain rami yang telah mereka bentangkan semalaman sebelum matahari muncul.

Kemudian mereka menggulung kain ringan itu dan memerasnya, menampung air ke dalam wadah untuk persediaan minum. Pelajaran baru bagi Bentang karena di gua dia tidak pernah memanen ambun dengan perangkap kain. Tapi Buana terlihat sudah mahir. Bentang hampir percaya kalau kakak angkatnya itu bisa melakukan apa saja di dunia ini – kecuali tersenyum. Jadi, membawanaya pulang mungkin hanyalah sebuah perjalanan mencari ular dan kadal untuk makan.

“Kita butuh tidur,” ucap Bentang ragu sambil duduk terengah usai memeras kain rami. Diusapnya keringat yang mengalir di pelipis. Biasanya Buana akan terus memaksanya untuk berjalan meski di tengah terik matahari jika mereka memiliki persediaan air.

“Kita harus tetap jalan,” ucap Buana, “Kita belum terlalu jauh.”

Bentang ingin protes. Dia lelah. Butuh memejamkan mata dan melemaskan otot-ototnya yang terlalu kencang. Tapi dia tidak mampu menyuarakan isi hatinya. Sebab Buana terlalu keras kepala dan mengetahui segalanya. Diliriknya Buana yang sedang menggali tanah. Bekas-bekas luka sudah mulai mengering di punggungnya. Pakaiannya koyak pasca ledakan di gua. Beruntung mereka selamat.

Gunung Batu selalu punya cara untuk melindungi mereka. Batu-batu yang roboh secara ajaib tidak mengenai Bentang dan Buana, tetapi mengurungnya. Pasukan dengan pesawat itu melewatkan keberadaan mereka yang saat itu tidak sadar.

“Tempat ini terlalu terbuka,” ujar Buana tanpa menoleh sedikit pun. Dia terus menggali tanah yang keras dengan sebuah parang. Sekali waktu ditariknya rumput tipis yang sedari awal mencuat di tanah. Kemudian sebuah umbi muncul. Buana memberitahu Bentang kalau itu adalah buah Spons. Ketika umbi itu dibelah, sebentuk gumpalan mirip spons terlihat. Buana membelah spons itu dan melemparkan setengahnya pada Bentang.

“Makasih,” kata Bentang kemudian menghisap sari-sarinya yang mengandung banyak air. Umbi spons terlalu alot untuk dikunyah, jadi mereka hanya menghisap airnya saja.

“Kamu… belum ingat apa pun lagi?” tanya Buana. Dia melempar spons yang telah kering sembarang.

Bentang menggeleng. Dia tidak menceritakan kalau ingatannya di Dunia Subur tampak tidak bahagia. Bentang bahkan ragu apa sebenarnya ia mau pulang atau tidak. Tapi setiap melihat benih yang dia kalungkan di leher, dia teringat Ambu. Jika dia dan kakaknya tinggal di dunia yang penuh air dan makanan, mungkin Ambu akan bahagia. Mereka tidak lagi harus dikejar-kejar oleh pemburu yang kelaparan atau diburu faksi petani karena memburu ular di dekat daerah mereka. Yang terbaik adalah mereka bisa menetap dan memiliki rumah yang sebenarnya.

Buana menyarungkan parang dan mengemasi kain rami. Peralatan survival yang wajib ada bagi para musafir. Dia bahkan membawa sabit kecil milik pemburu wanita yang dihabisinya.

Bentang bersandar pada dinding batu besar. Rasa lelahnya menumpuk. Matanya mulai terpejam. Kemudian wajah Ambu muncul, tersenyum dan membelainya sembari menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang membuatnya terbuai.

Tiba-tiba langit berputar cepat. Bentang melihat dirinya sendiri duduk di dalam sebuah pesawat, berusaha melepaskan sabuk pengaman yang terkunci. Lampu merah berkedip-kedip diiringi suara sirine yang memekakkan telinga. Seseorang menjejalkan kotak hitam ke pangkuannya.

“Jaga … tanam … rumah … hati-hati ….”

Suara itu tidak terdengar jelas. Kemudian atap pesawat terbuka dan Bentang terlontar keluar bersama kursinya. Langit berputar-putar, Bentang mendekap kotak hitam itu sementara tubuhnya meluncur cepat menuju tebing yang terlihat keras….

Lihat selengkapnya