“Kau!” tunjuk si penyandera Bentang pada Buana. Dia menatap rekannya yang berdiri dua langkah darinya. Kemudian kembali menatap Buana. “Berikan seluruh senjatamu!”
Tangan Buana terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bentang terlihat tak berdaya dengan logam sabit yang menempel di lehernya. Dua orang di belakangnya hanya mampu melihat dengan gemetar.
Buana melemparkan kantongnya. “Lepaskan dia!”
Seorang pria dengan rambut tipis karena rontok segera memungut kantong itu dengan senyum lebar.
“Berikan juga pisau yang kau pegang, Bocah!”
Buana mengertap gigi. Tapi kemudian dia melempar pisaunya mengenai tangan si pemegang celurit. Bentang berhasil kabur sementara si penyanderanya menjerit sambil memegangi tangannya yang luka.
Sebelum Buana kembali bergerak, si rambut tipis berhasil mengunci lehernya. “Boleh juga keberanianmu, Bocah!” Pria itu terkekeh menertawakan temannya.
“Lari!” seru Buana kepada Bentang meski suaranya tercekik.
Dua orang asing yang sedari tadi hanya menonton kini menarik Bentang untuk lari. Bentang awalnya tidak bergerak, tapi rupanya dua orang itu memiliki cukup tenaga untuk membawanya.
“Tidak usah dikejar, Biduk!” ucap pria yang memiting leher Buana. “Anak ini lumayan juga. Cukup untuk dua atau tiga hari,” lanjutnya terkekeh.
Si pria yang dipanggil Biduk itu menghentikan gerakannya. Dia kembali pada rekannya sambil memeluk tangan kanan. “Bocah edan! Kamu pikir perlawananmu itu berhasil, huh!” Dia mendekatkan wajahnya pada Buana, menatap matanya penuh amarah kemudian meludahinhya.
“Sebelum kita gorok lehernya, biar aku beri pelajaran bocah ini, Imin!” Biduk terkekeh. Tangannya terangkat, menampar pipi Buana dengan keras. Diambilnya tali yang terkait di pinggang kemudian mengikat tangan dan kaki Buana sekencang mungkin dan menendangnya hingga terjerembap di tanah. Dia tahu bocah ini berbahaya. Biduk juga memastikan senjata-senjata Buana berada dalam jarak yang tidak bisa dijangkau.
“Kau terluka dan sedendam itu dengan bocah, Biduk?” Imin tertawa keras sambil menyeret Buana di atas tanah yang penuh debu.
“Diam, Imin!” seru Biduk kesal. Dibebatnya tangan kanan yang terkena tusukan. “Bocah sialan ini memotong salah satu uratku,” katanya sambil mengibaskan tangan yang terluka. Rasanya bukan hanya nyeri dan perih, tapi juga pegal hingga dia tidak bisa menggerakkan pergelangan tangan.
Imin terkekeh, diliriknya Buana yang terlihat tenang meski kulitnya tergores kerikil dan batu sepanjang jalan. Mungkin perkataan Biduk benar. Bocah ini memiliki kemampuan menyerang yang bagus. Tapi itu bukan lagi soal, sebab beberapa jam lagi tubuhnya akan menjadi santapan lezat bagi mereka berdua.
Di bawah bayangan dua batu besar yang berdiri sejajar, Imin berhenti. Dia mmelihat sekeliling tanah yang tandus dengan beberapa rumput coklat kecil di sekitarnya.
“Kita eksekusi di sini, Duk,” katanya menunggu persetujuan Biduk.
“Biar aku yang melakukannya.” Biduk menyeringai. Gigi-giginya yang runcing terlihat kuning-coklat. Diinjaknya perut Buana hingga meringis.
“Kuat juga kau, Bocah! Katakan… sudah berapa orang yang kaku habisi?” Kaki Biduk membelai pipi Buana yang berlapis debu dan pasir.