AGASTYA

Keita Puspa
Chapter #7

TUJUH

 “Apa yang kamu lakukan?” tanya Buana ketika Bentang membuka ikatan di tangan dan kakinya.

“Menyelamatkanmu,” jawab Bentang seraya menarik Buana menjauh dari Biduk yang masih bersimpuh kesakitan.

“Ini sangat berbahaya!”

“Tapi ini berhasil, kan?” Bentang menatap kakaknya sengit. Dari balik tubuhnya muncul si pemuda dengan baju kancing dan gadis berkonde.

Buana menatap mereka waspada. Tetapi kemudian ikut pergi berlari menjauhi tempat itu. Melewati padang kaktus yang sebenarnya bisa mereka manfaatkan batangnya untuk memperoleh air. Namun, dengan kondisi seperti ini, prioritas utama adalah pergi sejauh mungkin dan terus berlari sejauh mungkin hingga jarak aman.

Setelah kurang lebih berlari selama satu jam, mereka menemukan sebuah reruntuhan bangunan yang terbuat dari campuran batu kali dan kayu. Atap bangunan yang terbuat dari susunan daun kering masih berdiri kokoh. Mereka memutuskan untuk beristirahat di sana sebentar.

“Ini Anggara dan Kerti,” ucap Bentang pada Buana setelah meletakkan tas kulitnya dan minum seteguk air. “Maafkan kakakku. Dia… selalu bersikap waspada,” bisik Bentang ketika Buana menatap kedua teman baru itu dari ujung kaki hingga kepala.

“Aku mengerti,” ucap Anggara. Kancing-kancing bajunya beradu saat dia berusaha mengulurkan tangan pada Buana. “Menjaga seorang adik perempuan memang tidak pernah mudah, kan?” Anggara melirik Kerti yang memutar bola mata.

Buana ragu untuk menyambut tangan Anggara hingga Bentang menarik tangannya. Anggara tersenyum dan menyambut tangan Buana dengan hangat.

“Setidaknya sekarang aku punya teman yang mengerti bagaimana rasanya menahan emosi saat adik perempuannya merengek minta berhenti jalan di tengah tanah terbuka,” bisik Anggara. Tangan kirinya memasukkan sebuah ketapel ke balik baju.

“Terima kasih,” ucap Buana tulus. “Tembakanmu boleh juga.”

“Yang mana? Mata atau selangkangan?” tanya Anggara dengan senyum jahil.

“Keduanya,” jawab Buana. Dia menaikkan alis dan mereka berdua tertawa kecil.

Bentang yang tengah memilah-milah baju yang Kerti temukan di pojok reruntuhan melirik ke arah Buana. Dia tidak berkedip melihat kakaknya bisa tertawa seperti itu. Mungkin yang Buana butuhkan memang seorang teman laki-laki untuk berbagi rahasia atau cerita.

“Tang… kau jadi pilih yang mana?” tanya Kerti dengan telapak tangan terayun di depan wajah Bentang.

Bentang berkedip. Dia menatap baju-baju yang berserakan begitu saja di antara puing-puing. Seseorang atau mungkin beberapa orang pernah tinggal di sana tapi nampaknya pergi begitu saja meninggalkan pakaian itu. Bentang melihhat sebuah kaos biru tua dengan gambar bintang kecil di dada. Tanggannya menarik kaos itu juga sebuah celana panjang coklat dengan kantong di kiri dan kanan.

“Itu… baju laki-laki,” kata Kerti agak heran dengan selera Bentang. “Ini cocok untukmu!” Kerti mengasongkan sebuah kemeja flanel merah dan celana jins ketat.

Lihat selengkapnya