Sebuah pisau dengan bilah hitam hampir saja mengenai tangan Bentang yang hendak menyentuh sebuah tanaman kering yang merambat. Tanaman-tanaman itu memiliki pucuk spiral seperti per. Buah-buah besae hijau kekuningan tergeletak di antara daun-daunnya yang layu.
Bentang menoleh pada si pemilik pisau dengan kesal. Meski begitu kakinya melangkah menjauhi tanaman itu.
“Buah itu beracun bagi manusia,” kata Buana sambil mengambil kembali pisaunya yang menancap di tanah. Dia menyeka pisaunya yang hitam berkilat dengan kaus biru bergambar bintang kecil di dada.
Bentang mengembuskan napas kasar. Beberapa meter di belakang mereka, Anggara dan Kerti berjalan santai. Sesekali Anggara menyingkirkan kerikil dan batu kecil di jalanan yang akan Kerti lalui.
“Ayo, lanjut!” seru Buana sambil berjalan mendahului Bentang.
“Tidak bisakah kita istirahat sebentar?” tanya Bentang. Dilihatnya langit yang dipenuhi bintang-bintang kecil. Agastya tampak memukau meski cahayanya masih kalas oleh bintang biru di atasnya.
Buana menatap mata Bentang lurus. “Tidak,” tolaknya tegas.
Bentang ingin sekali membanting makhluk satu itu. Tapi dia tahu tidak akan bisa menang. Baik fisik mau pun mental, jelas kakak angkatnya itu jauh lebih kuat. Mungkin jika ingatannya kembali, dia bisa membuat Buana mendengarkan kata-katanya.
Dari kejauhan terlihat bukit-bukit menjulang yang berbentuk tidak beraturan. Cahaya bintang seolah tidak sampai pada bukit-bukit itu. Buana berhenti, menunggu Anggara yang sedang membenarkan tali sepatu Kerti.
“Kenapa seseorang tidak pernah melakukan itu padaku?” gumam Bentang melirik sepatunya sendiri.
“Apa yang harus kulakukan pada sepatumu? Mengikatnya dengan kawat?” kata Buana sambil menendang pelan sepatu Bentang yang tidak bertali.
Bentang membuang muka. Berpura-pura menghitung bintang yang bertaburan di langit.
Buana menghampiri Anggara segera. “Bukit apa itu?” tanyanya sembari menunjuk bukit hitam di depan sana. Buana bertanya sebab Anggara memiliki peta. Salah satu hal yang membuatnya mengijinkan kakak-adik itu untuk terus bersamanya dan Bentang.
Anggara mengambil gulungan kertas dari tasnya. Dia membentangkannya dan mulai memetakan lokasi mereka dengan melihat ke langit.
“Itu Bukit Kematian,” ucap Anggara sambil menelan ludah. “Di sana adalah daerah kekuasaan faksi pencuri.”
“Pencuri?” ulang Buana. Ditatapnya bukit-bukit berbaris itu dengan dada yang bergemuruh. Faksi pencuri tidak seganas para pemburu. Tapi mereka akan merampok apa saja dari para musafir yang melewati daerah kekuasaan mereka. Termasuk merampok nyawa.
“Mungkin kita bisa memutar. Menghindari daerah itu,” usul Anggara. Telunjuknya menggambar huruf C khayalan di peta.
“Bagaimana menurutmu, Tang?”
Bentang yang sedang melihat-lihat langit menjadi antusias ketika Buana memanggil namanya. Dia melihat peta yang sedang Anggara pegang. “Kita tidak bisa memutar. Ada pasir hisap di sini!” Jari Bentang menunjuk sebelah kanan Bukit Kematian.