Suara dentangan logam membangunkan Ren bahkan sebelum alarm dari ponselnya sempat berbunyi.
Tang.
Tang.
Tang.
Lalu disusul suara sesuatu yang bergeser di atas meja, bunyi laci dibuka dengan terburu-buru, dan bisikan seseorang yang terdengar seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
“Kalau temperatur permukaannya dinaikkan tiga persen… tidak, itu justru mempercepat—”
Tang!
Ren membuka sebelah mata.
Langit pagi yang masih pucat tampak dari celah tirai kamar. Jam digital di meja samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 06.30. Rumah mereka seharusnya masih dalam keadaan tenang pada jam seperti ini.
Seharusnya.
Ren menarik selimut sampai ke dagu.
“Rin…”
Tang!
Kali ini terdengar lebih keras.
Ren mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya sudah bisa menebak siapa pelakunya.
Adiknya memang punya kebiasaan aneh. Kalau sedang memikirkan sesuatu, dunia di sekitarnya seolah tidak ada. Termasuk suara peralatan dapur, waktu makan, waktu tidur, dan kadang-kadang keberadaan kakaknya sendiri.
Dengan malas Ren bangkit dari tempat tidur, mengenakan kaus yang tergeletak di kursi, lalu keluar kamar. Rambutnya masih berantakan, dan matanya setengah tertutup ketika ia berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju tangga.
Dari bawah tercium aroma kopi.
Aroma roti.
Dan sesuatu yang… gosong.
Ren berhenti di tangga.
“Jangan-jangan…”
Ia menuruni anak tangga terakhir sambil menguap.
Dapur rumah mereka sudah terang. Cahaya pagi masuk melalui jendela di samping meja makan, menyinari lantai dan sebagian meja kayu yang biasa mereka gunakan untuk sarapan.
Di depan kompor berdiri Rin.
Rambut panjangnya diikat seadanya. Ia mengenakan pakaian rumahan sederhana dengan celemek tipis yang terpasang agak miring. Di satu tangan terdapat spatula, sementara tangan lainnya memegang tablet yang penuh dengan grafik dan persamaan.
Matanya bahkan tidak melihat wajan.
Pandangannya terpaku pada layar.
“Kalau respons servo menggunakan algoritma prediktif, kemungkinan error akan turun…”
Tang.
Ia memukul sisi wajan dengan spatula tanpa sadar.
Ren berdiri di ambang dapur beberapa detik, memperhatikan pemandangan itu.
Di atas kompor terdapat dua potong telur gulung.
Atau sesuatu yang dulunya mungkin bernama telur gulung.
Warnanya lebih dekat ke cokelat tua.
Ren menyipitkan mata.
“Rin.”
Tidak ada jawaban.
“Rin.”
“Hm?”
“Masak apa?”
“Telur.”
Ren melihat wajan.
“Benarkah?”
Rin masih membaca tablet.
“Memangnya matamu buta?”
“Bukan. Aku cuma memastikan. Soalnya warnanya sudah seperti bahan bangunan.”
Tangan Rin berhenti bergerak.
Perlahan ia mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
“Pagi-pagi sudah menyebalkan.”
“Selamat pagi juga.”
Rin mendengus, lalu kembali menatap tabletnya.
Ren mendekati meja makan. Di sana sudah tersedia dua mangkuk nasi, sup miso, beberapa lauk sederhana, dan dua cangkir teh hangat.
Untuk beberapa detik, Ren merasa cukup terkesan.
“Wah.”
Rin melirik sekilas.
“Apa?”
“Kamu benar-benar bangun pagi.”
“Aku memang bangun pagi setiap hari.”
“Untuk belajar?”
“Untuk bekerja.”
“Dan sarapan?”
Rin diam.
Ren melihat wajan lagi.
“Jadi kamu ingat sarapan setelahnya?”
“Diam.”
Ren tertawa kecil.
Ia menarik kursi dan duduk, tetapi belum menyentuh makanan.
“Tumben lengkap.”
Rin mengabaikannya.
“Aku cuma membuat makanan sebanyak yang tersedia di lemari. Jangan berlebihan.”
“Bukan itu.”
Ren menunjuk meja.
“Kamu biasanya kalau sedang sibuk paling cuma minum kopi.”
“Aku tetap bisa mengatur waktu.”
“Ya.”
Ren mengangguk serius.
“Terlihat sekali.”
Rin mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Ren menunjuk wajan.
“Telurmu terbakar.”
“Tidak terbakar.”
“Warnanya hitam.”
“Karena aku memakai api sedikit lebih besar.”
“Kalau begitu, kenapa asapnya seperti ingin mengusir kita dari rumah?”
Rin langsung menutup layar tabletnya.
Klik.
Ia menatap kakaknya dengan wajah datar.
“Aniki.”
Nada itu sudah cukup menjadi peringatan.
Ren justru tersenyum.
“Apa?”
“Berhenti komentar.”
“Baik.”
Ren mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
Lalu ia menambahkan dengan suara santai, “Tapi serius, itu benar-benar gosong.”
Sebuah serbet terbang melintasi dapur.
Plak.
Serbet itu mengenai wajah Ren.
Ren terdiam.
Rin sudah kembali menghadap kompor.
“Tidak perlu komentar yang tidak diperlukan.”
Ren melepaskan serbet dari wajahnya.
“Kenapa melempar?”
“Karena mulutmu tidak bisa berhenti.”
“Serbetnya nanti dicuci.”
“Aku tahu.”
Ren menatap punggung adiknya.
“Berarti kamu sadar serbet itu bukan senjata.”
“Jangan cari gara-gara.”
Ren menahan tawa.
Begitulah pagi mereka.
Tidak pernah benar-benar tenang.
Sejak orang tua mereka meninggal beberapa tahun sebelumnya, rumah itu pada dasarnya hanya dihuni oleh dua orang. Ren sebagai kakak yang sudah cukup dewasa untuk mengurus sebagian besar urusan rumah, dan Rin sebagai adik yang tampaknya lebih tertarik membangun sesuatu di ruang kerja daripada menjalani kehidupan normal seperti kebanyakan anak seusianya.
Mereka saling menyayangi.
Setidaknya Ren yakin demikian.
Hanya saja, Rin punya cara yang aneh untuk menunjukkannya.
Kalau Ren pulang terlambat, Rin akan mengomel.
Kalau Ren lupa membawa payung, Rin akan mengomel.
Kalau Ren tidak sarapan, Rin akan mengomel.
Kalau Ren memakai charger Rin tanpa izin, Rin akan mengomel lebih panjang.
Dan pagi ini, ia sedang mengomel karena Ren mengkritik telur gosongnya.
“Taruh saja di piring,” kata Rin.