Jam digital di sudut peron stasiun menunjukkan pukul empat sore ketika Ren akhirnya berhasil pulang.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Bukan karena ada ujian, bukan pula karena kegiatan sekolah yang melelahkan. Hanya saja, sejak pagi kepalanya terasa penuh. Guru matematika memberikan tugas tambahan, teman sebangkunya menghabiskan hampir dua puluh menit untuk mengeluhkan kehidupan percintaannya, dan di kereta saat pulang tadi ia bahkan tidak mendapatkan tempat duduk.
Ren hanya ingin sampai rumah, melempar tas ke kamar, mandi, lalu tidur sebentar sebelum makan malam.
Hal-hal sederhana.
Tidak ada tuntutan aneh.
Tidak ada masalah.
Setidaknya begitu yang ia bayangkan.
Jalan perumahan tempat mereka tinggal mulai dipenuhi bayangan panjang pepohonan. Udara sore membawa sisa hangat matahari, sementara suara kendaraan dari jalan utama terdengar semakin samar ketika Ren memasuki jalan kecil menuju rumah.
Ia menguap.
“Tinggal mandi, makan, terus tidur…”
Tas sekolahnya digeser sedikit di bahu.
“Kalau Rin nggak mulai ngomel, mungkin hidupku hari ini masih bisa diselamatkan.”
Ren berdiri di depan rumah beberapa saat kemudian.
Ia mengambil kunci dari saku.
Lalu berhenti.
Pintu depan terlihat sedikit terbuka.
Ren mengernyit.
“Pulang duluan?”
Ia membuka pintu dengan tangan kanan.
Tidak bergerak.
Ren mengerutkan dahi, lalu mendorong sedikit lebih kuat.
Tetap tidak bergerak.
“Hm?”
Ia mencoba sekali lagi.
Kali ini terdengar suara kayu bergesekan dari dalam.
Ren memicingkan mata.
“Jangan bilang…”
Ia memasukkan kepala melalui celah pintu yang hanya terbuka beberapa sentimeter.
Yang pertama dilihatnya adalah ruang tamu.
Yang kedua adalah sebuah kotak kayu.
Kotak itu sangat besar.
Terlalu besar.
Tingginya hampir mencapai dada Ren. Lebarnya memenuhi sebagian besar ruang di depan genkan hingga ruang tamu. Permukaannya terbuat dari peti kayu tebal dengan beberapa penguat besi di bagian sudut.
Ada sabuk pengikat melingkar di sekelilingnya.
Dan di tengah peti itu terdapat sebuah label pengiriman putih yang mencolok.
Ren diam selama beberapa detik.
Kemudian ia membuka pintu sejauh yang bisa dilakukan.
“Apa-apaan ini?”
Kotak itu benar-benar menghalangi sebagian jalur masuk.
Ren memasukkan tasnya lebih dulu melalui celah, lalu memiringkan tubuh dan berusaha masuk.
Begitu berhasil melewati pintu, ia menatap peti tersebut dari dekat.
Ada cap merah di salah satu sisinya.
LAB CATEGORY-A
Di bawahnya terdapat beberapa kode pengiriman yang tidak ia kenali.
Ren mengedip.
“Rumah ini sekarang jadi gudang?”
Ia meletakkan tas di lantai.
Tidak ada jawaban.
Rumah itu terlalu sepi.
Biasanya pada sore seperti ini Rin sudah terdengar dari lantai atas—entah suara keyboard, suara printer, suara alat elektronik, atau suara langkah tergesa-gesa ketika ia tiba-tiba teringat sesuatu yang belum dikerjakan.
Hari ini tidak ada apa-apa.
Ren melihat ke arah ruang tengah.
“Rin?”
Sunyi.
Ia menaikkan volume suaranya.
“Rin! Aku pulang!”
Masih tidak ada jawaban.
Ren menghela napas.
“Tidur?”
Ia mendekati peti besar itu.
Mata Ren menyapu seluruh permukaannya.
Tidak ada nama pengirim yang jelas pada bagian depan. Hanya beberapa kode logistik dan stempel peringatan.
Ren mengetuknya pelan.
Tok.
Tok.
Suara dari dalam terdengar padat.
“Jangan-jangan isinya mesin lagi.”
Bukan sesuatu yang mustahil.
Rin memang biasa membeli komponen elektronik, perangkat laboratorium, dan berbagai benda yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan satu kalimat sederhana.
Beberapa bulan sebelumnya, sebuah paket berbentuk tabung sepanjang hampir dua meter pernah datang ke rumah. Ketika Ren bertanya apa isinya, Rin hanya menjawab, “Komponen.”
Ternyata isinya lengan robotik.
Ren masih belum mengerti untuk apa lengan robotik sebesar itu berada di kamar tidur adiknya.
“Kalau sebesar ini…”
Ia menyipitkan mata.
“Paling nggak ada sesuatu yang perlu dirahasiakan.”
Ren mendekati sisi peti dan mencari tulisan lain.
Ada satu stiker di bagian samping.
Ia membungkuk.
Tulisan kecil di bawah barcode membuat alisnya langsung terangkat.
Laboratorium Pribadi Rin—Pengiriman Khusus Riset.
Ren terdiam.
“…”
Seketika ia merasa lebih curiga.
“Laboratorium pribadi?”
Ia membaca lagi.
“Pengiriman khusus riset?”
Ren berdiri tegak.
“Kenapa kalau memang barang biasa, dikirim pakai kotak sebesar kulkas?”
Suara langkah terdengar dari arah koridor.
Ren menoleh.
Rin muncul dari ujung lorong.
Rambutnya masih agak basah. Sebuah handuk putih diletakkan di atas kepala, dan ia sedang mengeringkan rambut dengan satu tangan.
Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding pagi tadi.
Namun begitu matanya melihat Ren berdiri di depan peti kayu, langkahnya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi Ren melihatnya.
Rin segera mengubah ekspresinya menjadi datar.
“Oh.”
Cuma itu.
Ren menatapnya.
Rin menatap balik.
“Pulang.”
“Ya.”
“Bagus.”
“…”
“…”
Ren menunjuk peti.
“Apa ini?”
Rin mengeringkan rambutnya lagi.
“Barang.”
“Terima kasih atas penjelasannya.”
“Sama-sama.”
“Rin.”
“Apa?”
“Ini kotak kayu sebesar manusia.”
“Observasimu luar biasa.”
Ren menatap adiknya beberapa detik.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Bukan karena Rin menyembunyikan sesuatu. Itu sudah biasa.
Yang membuatnya aneh adalah cara Rin berdiri.
Kedua lengannya disilangkan di depan dada.
Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk lengan kanan secara berulang-ulang.
Pelan.
Teratur.
Rin selalu melakukan itu saat gugup.
Ren tahu karena mereka sudah hidup bersama cukup lama.
Ia memicingkan mata.
“Kamu gugup?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Serius?”
“Serius.”
Rin mengalihkan wajah.
“Aku hanya baru selesai mandi.”
“Kenapa tanganmu begitu?”