Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #3

Aktivasi Protokol 'Adik Ideal'

Pukul 19.30, ruang makan keluarga sudah dipenuhi aroma makanan hangat.

Di luar jendela, malam telah turun sepenuhnya di kawasan pinggiran Tokyo. Lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu, sementara suara kendaraan sesekali lewat di jalan kecil depan rumah. Pepohonan di sepanjang jalan tampak seperti bayangan gelap di bawah penerangan lampu jalan.

Ren baru saja selesai makan ketika ia menyandarkan tubuh ke kursi.

“Mau tahu sesuatu?”

Rin yang duduk di seberangnya tetap makan dengan tenang.

“Apa?”

“Kalau kamu bilang barang yang ada di ruang tamu itu alat peraga sekolah, aku masih belum percaya.”

Rin mengangkat mata dari mangkuknya.

“Aku tidak pernah bilang akan menjelaskan sekarang.”

“Kamu bilang saat makan malam.”

“Ya. Ini masih makan malam.”

Ren menunjuk piring kosong di depannya.

“Aku sudah selesai.”

“Bagus.”

“Jadi?”

Rin menaruh sumpitnya.

Ia mengusap ujung bibir dengan tisu, lalu berdiri.

“Sekarang ikut aku.”

Ren menatapnya.

“Ke ruang tamu?”

“Memangnya aku menyuruhmu naik ke atap?”

“Cara ngomongmu bikin terdengar seperti itu.”

Rin tidak menanggapi. Ia hanya berjalan lebih dahulu.

Ren menghela napas dan bangkit dari kursinya.

Sejak pulang sekolah, rasa penasaran terhadap peti kayu besar itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan ketika mandi tadi, ia sempat membayangkan beberapa kemungkinan isi peti tersebut.

Mesin industri.

Prototipe robot.

Alat eksperimen.

Atau sesuatu yang jauh lebih merepotkan.

Yang terakhir tampaknya cukup mungkin, mengingat sifat Rin.

Begitu mereka sampai di ruang tamu, Ren kembali melihat benda yang sejak sore tadi memenuhi ruangan itu.

Peti kayu tersebut terlihat jauh lebih mencolok dalam cahaya lampu malam.

Bayangan panjang jatuh di lantai tatkala Rin berdiri di depannya.

Ren menyilangkan tangan.

“Jadi?”

Rin tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di samping peti, memandang kakaknya dengan ekspresi yang entah kenapa tampak sedikit berbeda dari biasanya.

Ada kebanggaan di sana.

Sangat jelas.

Ren bahkan bisa melihatnya sebelum Rin sempat mengatakan apa pun.

“Kamu senyum,” kata Ren.

Rin langsung mengembalikan wajahnya ke ekspresi datar.

“Aku tidak.”

“Barusan senyum.”

“Perasaanmu saja.”

“Sudut mulutmu naik.”

“Ilusi optik.”

Ren tertawa kecil.

“Kamu kelihatan senang.”

“Karena akhirnya semuanya selesai.”

Rin memalingkan wajah seolah jawaban itu tidak penting.

Namun sesaat kemudian ia menarik napas, lalu berdiri tepat di depan salah satu sisi peti.

“Lihat baik-baik.”

Ren menaikkan alis.

“Oke.”

Rin mengangkat tangannya ke panel kecil yang sebelumnya tertutup lapisan pelindung.

Begitu penutup digeser, sebuah bidang sensor muncul.

Ada cahaya biru tipis di sekelilingnya.

Rin meletakkan ibu jarinya di atas permukaan sensor.

Sistem berbunyi pelan.

Bip.

Sebuah cahaya tipis menyapu permukaan jarinya.

Kemudian terdengar suara mekanis dari dalam peti.

Authentication confirmed.

Ren menatap panel tersebut.

“Sidik jari?”

“Ya.”

“Kenapa peti pengiriman punya sistem biometrik?”

Rin memasukkan kode tambahan pada panel.

“Karena isinya bukan barang biasa.”

“Bukankah tadi alat peraga sekolah?”

“Sudah, jangan mempermasalahkan kalimat yang tadi.”

Ren menyeringai.

“Nah, ketahuan.”

Rin tidak menggubrisnya.

Ia menekan perintah terakhir.

Dari empat sudut peti terdengar suara desis pendek.

Pssshhh—

Empat pengunci pneumatik terlepas hampir bersamaan.

Ren refleks mundur setengah langkah.

Panel pada bagian depan peti bergetar.

Lalu bergerak.

Perlahan.

Pintu kayu tebal tersebut terangkat ke atas dengan bantuan mekanisme hidrolik yang tersembunyi di dalam rangka peti. Suara motor listrik berdengung pelan, diikuti hembusan udara dingin dari sistem pendingin internal.

Ren menatap tanpa berkedip.

Ia awalnya mengira sesuatu seperti mesin akan muncul.

Namun tidak ada mesin.

Tidak ada lengan robot.

Tidak ada kepala mekanik atau rangka baja yang menyembul keluar.

Yang terlihat justru sebuah siluet manusia.

Seorang gadis.

Ia berdiri tegak di dalam ruang penyimpanan itu.

Diam.

Sangat diam.

Rambut panjangnya jatuh melewati bahu. Wajahnya tertunduk sedikit. Kedua tangannya berada di sisi tubuh. Ia mengenakan pakaian sederhana dengan warna pucat, tanpa lambang perusahaan atau identitas produsen apa pun.

Pada pandangan pertama, Ren mengira Rin sedang berdiri di dalam peti.

Ia berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian memandang Rin yang berdiri di sampingnya.

Lalu kembali ke sosok di dalam peti.

Ren tidak berkata apa-apa.

Otaknya membutuhkan waktu beberapa detik untuk menerima apa yang dilihat matanya.

“…”

Rin mengangkat dagu sedikit.

“Bagaimana?”

Ren menelan ludah.

“Rin.”

“Apa?”

“Ada… dua kamu.”

“Jelas.”

“Bukan.”

Ren menggeleng cepat.

“Maksudku…”

Ia mendekat dua langkah.

Sosok di dalam peti tetap diam.

Ketika cahaya ruang tamu mengenai wajahnya dengan lebih jelas, Ren akhirnya bisa melihat detail yang membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.

Mata.

Hidung.

Bentuk wajah.

Rambut.

Bahkan ekspresi dasar yang tenang.

Semua.

Semuanya identik dengan Rin.

Bukan sekadar mirip.

Bukan seperti saudara kembar.

Bahkan bukan seperti seseorang yang sengaja dibuat menyerupai Rin.

Itu adalah Rin.

Hanya saja…

bukan Rin.

“Ini…”

Suara Ren tercekat.

Rin melipat kedua tangan di depan dada.

“Kau akhirnya sadar.”

“Ini…”

“Ya.”

“Ini manusia?”

“Bukan.”

Ren menatapnya lagi.

“Boneka?”

“Bukan.”

“Diorama?”

“Jelas bukan.”

“Mayat?”

Rin menatapnya datar.

“Kalau kamu benar-benar berpikir begitu, aku mulai meragukan kesehatan otakmu.”

“Aku cuma memastikan!”

Rin mendecakkan lidah.

Ia berjalan mendekati sosok tersebut.

Kini jaraknya tinggal satu langkah.

Jari telunjuknya menyentuh dagu android itu dan mengangkat wajahnya sedikit.

Kulit di wajah tersebut tampak begitu alami hingga Ren nyaris lupa bahwa benda itu seharusnya bukan manusia.

Tidak ada kilau plastik.

Tidak ada sambungan mekanik yang terlihat.

Lihat selengkapnya