Pukul delapan malam, rumah keluarga itu akhirnya kembali dipenuhi aroma masakan.
Setelah kejutan yang cukup membuat Ren mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri, ruang makan kini terasa seperti tempat yang jauh lebih normal. Lampu hangat di atas meja menyinari permukaan kayu, dua mangkuk nasi telah tersedia, lauk-pauk sederhana memenuhi beberapa piring, dan uap dari sup miso perlahan naik ke udara.
Hanya ada satu masalah.
Sekarang mereka bukan lagi dua orang.
Ren duduk di salah satu sisi meja sambil sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di sebelah Rin.
Atau lebih tepatnya, gadis yang tampak persis seperti Rin.
Ren kembali melihat Rin.
Kemudian melihat Ai-Mouto.
Kemudian kembali melihat Rin.
“…”
Rin yang sedang mengambil nasi menyadari tatapannya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Terus kenapa lihat-lihat?”
“Sedang memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Yang duduk di sana bukan kamu yang pindah tempat tanpa bilang.”
Rin menatap kakaknya dengan wajah datar.
“Aku tidak seaneh itu.”
Ren menunjuk Ai-Mouto.
“Justru sekarang aku tidak yakin.”
Ai-Mouto, yang duduk dengan posisi sangat tegak, memiringkan kepala sedikit.
“Apakah Onii-chan masih mengalami kebingungan identitas visual?”
Ren menoleh.
“Ya.”
“Apakah saya perlu membantu?”
Ren diam.
Ia kemudian menunjuk Rin.
“Bisa tolong bedakan?”
Ai-Mouto memandang Rin.
“Individu tersebut adalah Rin.”
Rin mengangkat alis.
“Setidaknya sistemmu berfungsi.”
Ai-Mouto melanjutkan.
“Dan individu di sisi saya adalah Onii-chan.”
Ren tersenyum kecil.
“Kalau begitu cukup.”
“Baik.”
Ai-Mouto kembali duduk tenang.
Ren menatapnya lagi.
Sulit untuk terbiasa.
Setiap gerakan kecilnya begitu natural. Saat duduk, ia mengatur posisi kursi dengan hati-hati. Saat menunggu makanan, tangannya diletakkan rapi di atas pangkuan. Bahkan ketika menatap seseorang, ada perhatian yang terasa berbeda dibandingkan mesin biasa.
Tidak ada suara motor.
Tidak ada bunyi servo.
Tidak terlihat komponen mekanik.
Kalau bukan karena Ren sudah tahu kenyataannya, ia mungkin akan mengira sedang makan malam bersama seorang gadis yang baru pertama kali ia temui.
Lalu sebuah suara kecil memecah pikirannya.
“Airnya.”
Ren menoleh.
Ai-Mouto sudah memegang teko.
“Eh?”
“Gelas Onii-chan kosong.”
Ren melihat gelasnya.
Memang kosong.
Padahal tadi ia sama sekali tidak memperhatikan kapan Ai-Mouto mengambil teko tersebut.
Ia menuangkan air ke dalam gelas Ren dengan gerakan tenang. Tidak terlalu penuh, hanya sampai batas yang nyaman.
Kemudian ia meletakkan teko kembali.
Ren memandang gelasnya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Ai-Mouto lalu melihat piring lauk Ren.
“Lauk yang ini belum diambil.”
Ren mengikuti pandangannya.
“Yang mana?”
“Daging ayam.”
“Oh.”
Ren hendak mengambilnya sendiri, tetapi Ai-Mouto sudah lebih dulu mengangkat piring tersebut.
Ia mengambil satu potong lauk dan meletakkannya ke piring Ren.
“Silakan.”
Ren berkedip.
Rin yang sejak tadi diam memandang pemandangan itu sambil mengunyah.
Ren mengambil sumpit.
“Eh…”
Ia tersenyum.
“Dimanjakan begini ternyata enak juga.”
Ai-Mouto tersenyum tipis.
“Saya senang Onii-chan merasa nyaman.”
Ren spontan menjawab, “Kamu baik sekali.”
Rin langsung meletakkan sumpitnya.
“Berlebihan.”
Ren menoleh.
“Apa?”
“Kamu baru lima menit kenal.”
“Terus?”
“Sudah memuji.”
“Memangnya tidak boleh?”
Rin mengambil supnya.
“Bukan tidak boleh.”
Ia berhenti sebentar.
“Hanya terlalu cepat.”
Ren mengangkat bahu.
“Dia memang baik.”
“Aku yang membuatnya.”
“Justru itu.”
Ren menunjuk Ai-Mouto dengan sumpit.
“Berarti kamu hebat.”
Rin membeku sesaat.
Ia segera menunduk dan mengaduk supnya seolah ada hal yang sangat penting di dalam mangkuk.
“Ya, memang.”
Ren tertawa kecil.
“Kalau dipuji sedikit langsung besar kepala.”
“Aku hanya menerima fakta.”
“Dengar, Ai-Mouto. Adikmu sombong.”
Rin langsung mengangkat kepala.
“Dia bukan adikku.”
Ren melirik Ai-Mouto.
Ai-Mouto menatap Rin.
Kemudian Ren.
“Hubungan saya dengan Rin adalah pencipta dan subjek pengembangan.”
“Dengar sendiri.”
Rin mengangkat tangan.
“Jangan ikut-ikutan menjelaskan.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baik.”
Ren menahan tawa.
Suasana meja makan mulai terasa aneh.
Aneh, tapi tidak buruk.
Justru ada sesuatu yang membuat Ren merasa rumah itu sedikit lebih hidup.
Rin menarik napas.
Kemudian berkata, “Sekarang dengarkan.”
Ren berhenti makan.
“Nah, ini dia.”
“Apa?”
“Presentasi.”
Rin mengabaikannya.
“Apa yang kamu lihat di depanmu bukan sekadar android biasa.”
Ai-Mouto duduk lebih tegak.
“Proyek ini disebut Ai-Mouto.”
Rin meletakkan sumpitnya.
“Dan sebelum kamu mulai menanyakan kenapa wajahnya sepertiku, jawabannya sederhana.”
Ren mengangkat alis.
“Apa?”
“Karena aku membuatnya seperti itu.”
“Alasan yang sangat sederhana.”
“Aku belum selesai.”
Rin mengambil tablet yang berada di samping kursinya.
Beberapa halaman data muncul.
“Tujuan utama proyek ini adalah membuat android pendamping rumah tangga yang mampu memahami rutinitas, preferensi, kondisi emosional, dan kebutuhan manusia secara lebih akurat daripada sistem asisten konvensional.”
Ren mengangguk pelan.
“Jadi robot pembantu?”
“Jangan merendahkan istilahnya.”
“Kan memang begitu.”
“Secara fungsi awal, iya.”
Rin menggeser layar.
“Namun protokol interaksinya dirancang lebih kompleks.”
Ren melirik Ai-Mouto.
“Contohnya?”