Pukul enam pagi, rumah keluarga itu sudah lebih dulu bangun daripada penghuninya.
Bukan karena alarm.
Bukan karena suara langkah kaki.
Bukan pula karena Rin sudah berada di laboratorium dan menjatuhkan sebuah obeng seperti yang biasa terjadi.
Rumah itu bangun karena suara yang jauh lebih teratur.
Desiran mesin.
Klik mekanisme.
Denting kecil peralatan dapur.
Dan sesekali bunyi lembut sebuah alat yang sedang bekerja.
Di lantai dua, Ren masih tertidur pulas.
Selimut menutupi tubuhnya sampai dada. Rambutnya berantakan, bantal sedikit bergeser dari posisi semula, dan ponselnya tergeletak dalam keadaan mati di samping tempat tidur karena lupa diisi daya semalaman.
Jika bukan karena cahaya pagi yang mulai menembus tirai, ia mungkin masih bisa tidur satu atau dua jam lagi.
Namun ketika Ren akhirnya membuka mata, ada sesuatu yang terasa ganjil.
Ia tidak langsung tahu apa.
Matanya masih buram ketika ia menatap langit-langit kamar.
Biasanya hal pertama yang ia dengar pada pagi hari adalah alarm, diikuti keheningan selama beberapa detik sebelum pikirannya menyadari bahwa ia harus sekolah.
Hari ini tidak ada alarm.
Tidak ada suara apa-apa dari meja.
Ren meraba ponselnya.
Baterainya tersisa dua persen.
“Lho…”
Ia duduk.
Kemudian menguap panjang.
Kamar itu terlihat berbeda.
Ren mengedip.
Sekali.
Dua kali.
“Eh?”
Ia menatap sekeliling.
Buku-buku yang biasanya menumpuk di meja kini tersusun rapi berdasarkan ukuran. Seragam sekolahnya yang semalam dilempar begitu saja ke kursi sudah tergantung pada gantungan pakaian.
Dan yang paling aneh—
selimutnya terlipat.
Lantainya bersih.
Bahkan sandal yang biasanya ia tendang ke dekat pintu sudah diletakkan sejajar.
Ren turun dari tempat tidur.
Ia berjalan beberapa langkah.
Lalu berhenti di depan meja belajar.
Tidak ada debu.
Tidak ada remah makanan.
Tidak ada kabel charger yang melilit sembarangan.
Laptopnya sudah ditutup.
Kacamata yang semalam ia cari hampir sepuluh menit kini berada tepat di tengah meja, seolah seseorang sengaja menaruhnya di sana agar mudah ditemukan.
Ren menggaruk kepala.
“Siapa yang masuk kamar?”
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan ke gantungan baju.
Seragam sekolahnya tergantung dengan sangat rapi.
Ren menyentuh lengan kemeja.
Dingin sedikit.
Licin.
Tidak ada satu pun kerutan.
“Disetrika?”
Ia memeriksa bagian kerah.
Sempurna.
Ren memandang pintu kamar.
Perlahan ia mulai mengingat.
Tadi malam.
Ai-Mouto.
Android yang dibuat Rin.
Kalimat-kalimat Rin tentang protokol interaksi.
Dan satu fakta yang sempat ia abaikan karena terlalu banyak kejutan sekaligus.
Ai-Mouto bukan hanya dibuat untuk berbicara.
Ia dibuat untuk membantu.
Ren memandang kembali kamar yang sekarang jauh lebih rapi.
“Jadi…”
Ia tersenyum.
“Benar-benar bekerja.”
Tepat saat itu, terdengar ketukan kecil dari pintu.
Tok.
Tok.
Ren menoleh.
Pintu terbuka perlahan.
Ai-Mouto berdiri di sana.
Rambut panjangnya tertata rapi. Wajahnya masih identik dengan Rin, tetapi ekspresinya jauh lebih lembut. Ia membawa nampan kecil di atas kedua tangan.
Di atas nampan terdapat secangkir teh hangat.
“Selamat pagi, Onii-chan.”
Ren diam.
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Apakah Onii-chan sudah bangun sepenuhnya?”
“Sudah, sih.”
Ren menunjuk kamarnya.
“Kamu melakukan ini semua?”
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Pukul 05.42.”
Ren melihat jam digital.
06.00.
“Dalam delapan belas menit?”
“Waktu tersebut sudah termasuk pemeriksaan suhu ruangan, ventilasi, tingkat kelembapan, dan pengisian daya beberapa perangkat.”
Ren menatapnya.
Kemudian menatap kamar.
Lalu kembali menatap Ai-Mouto.
“Delapan belas menit…”
Ia menggeleng.
“Kalau aku beresin kamar sendiri, setengah jam belum tentu selesai.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Karena tingkat efisiensi Onii-chan dalam merapikan kamar adalah sekitar tiga puluh tujuh persen.”
Ren terdiam.
“Aku nggak tahu harus bangga atau tersinggung.”
“Tidak ada kebutuhan untuk memilih salah satunya.”
Ai-Mouto mengulurkan nampan.
“Teh.”
“Oh.”
Ren mengambil cangkir tersebut.
Hangat.
Aromanya ringan dan tidak terlalu pahit.
Ia menyesap sedikit.
“Pas.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Seperti yang Onii-chan sukai.”
Ren menatapnya.
“Kamu bahkan tahu?”
“Data preferensi sudah tersedia.”
“Menyeramkan.”
“Apakah saya melakukan kesalahan?”
Ren langsung menggeleng.
“Bukan. Cuma…”
Ia melihat teh di tangannya.
“Rasanya enak.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Terima kasih.”
Ren tersenyum balik.
“Pagi-pagi begini dimanjakan…”
Ia duduk di tepi tempat tidur.
“Rasanya aku bisa terbiasa.”
Ai-Mouto berdiri di dekat pintu.
“Saya akan berusaha mempertahankan kenyamanan Onii-chan.”
Ren tertawa kecil.
“Kalau begini, aku bisa tambah umur beberapa tahun.”
Ai-Mouto hanya tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian, ia menambahkan.
“Walaupun begitu, Onii-chan tetap harus menggosok gigi.”
Ren mengerang.
“Ah.”
“Setelah itu mandi.”
“Aku tahu.”
“Seragam sudah siap.”
Ren memandang pakaian di gantungan.
“Bahkan lebih rapi daripada saat dibawa dari toko.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Tidak ada kerutan.”
Ren menghela napas kagum.
“Keren.”
Ia berdiri.
Kemudian matanya menangkap sesuatu yang bahkan lebih aneh.
Tempat sampah di sudut kamar.
Kosong.
Ren memandang sekeliling.
“Kamu bahkan buang sampah?”
“Ya.”
“Dan…”
Ia melihat bawah meja.
“Tidak ada debu?”
“Sensor kebersihan mampu mendeteksi partikel hingga ukuran mikroskopis tertentu.”
Ren tertawa.
“Wah.”
Ia menatap kamar yang sangat bersih itu.
“Jadi mulai hari ini aku benar-benar nggak perlu ngapa-ngapain?”
“Tidak.”
Ai-Mouto menjawab dengan tenang.
“Onii-chan tetap memiliki beberapa tanggung jawab pribadi.”
Ren menghela napas.
“Aku hampir bahagia.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Saya mohon maaf.”
“Tidak perlu.”
Ren melangkah menuju kamar mandi.
“Tehnya sudah cukup.”
Ia menoleh.
“Terima kasih.”
“Sama-sama, Onii-chan.”
Pintu kamar mandi menutup.
Ai-Mouto berdiri beberapa detik sebelum berbalik dan melanjutkan tugas berikutnya.
Di lantai bawah, keadaan tidak berbeda.
Bahkan mungkin lebih ekstrem.
Rin baru saja keluar dari kamarnya ketika mendengar suara air mengalir dari dapur.
Ia mengerutkan dahi.
Masih terlalu pagi.
Biasanya rumah baru benar-benar mulai berfungsi setelah dirinya turun.
Rin berjalan menuruni tangga sambil mengikat rambutnya.
Matanya masih berat karena tidur yang kurang.
Ia memasuki dapur.