Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #6

Senyum Palsu yang Terlalu Manis

Pukul 15.30, cahaya sore masuk melalui jendela besar ruang keluarga dan membentuk bidang keemasan di lantai kayu.

Rumah sedang tenang.

Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara kompor dari dapur. Mesin pendingin ruangan berdengung pelan, sementara dari luar terdengar suara anak-anak tetangga yang sesekali melintas dengan sepeda.

Ren sedang duduk santai di sofa.

Buku pelajaran terbuka di pangkuannya, tetapi sudah hampir sepuluh menit tidak ada satu halaman pun yang benar-benar ia baca.

Di seberangnya, Ai-Mouto sedang duduk di kursi dengan posisi tegak.

Ia baru selesai membereskan ruang keluarga.

Bantal sudah disusun.

Meja sudah dibersihkan.

Lantai bahkan tidak menunjukkan satu pun bekas debu.

Ren menatapnya.

Lama.

Ai-Mouto menyadari tatapannya.

“Apakah ada sesuatu pada wajah saya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, mengapa Onii-chan memperhatikan saya?”

Ren menutup bukunya.

“Sedang berpikir.”

“Baik.”

Ai-Mouto kembali diam.

Ren menyandarkan punggung ke sofa.

Sejak android itu datang, ada satu hal yang belum benar-benar bisa ia pahami.

Ai-Mouto terlalu baik.

Bukan baik dalam pengertian biasa.

Ia tidak pernah terlihat kesal.

Tidak pernah membalas ketika Ren menggodanya.

Tidak pernah meninggikan suara.

Tidak pernah terlihat bosan.

Dan yang paling aneh, ketika Rin memerintahkannya melakukan sesuatu, ia akan mengerjakannya. Ketika Ren meminta sesuatu, ia juga mengerjakannya.

Seolah-olah tidak ada batas dalam kesabarannya.

Bahkan tadi pagi, ketika Ren sengaja meninggalkan gelas kosong di meja hanya untuk melihat apakah Ai-Mouto akan mengeluh, android itu sekadar mengambilnya dan berkata, “Saya akan membereskannya.”

Ren mendapati sikap itu semakin lama semakin mengganggu pikirannya.

Bukan karena tidak menyenangkan.

Justru sebaliknya.

Terlalu menyenangkan.

Sampai-sampai terasa tidak wajar.

Ren mencondongkan tubuh.

“Ai.”

“Ya, Onii-chan?”

“Aku mau coba sesuatu.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Apa?”

“Tes.”

“Tes apa?”

“Tes apakah kamu benar-benar punya emosi.”

Ai-Mouto diam beberapa detik.

“Saya memiliki modul pemrosesan respons emosional.”

“Itu bukan jawaban.”

“Lalu?”

Ren tersenyum jahil.

“Aku mau lihat seberapa jauh kamu bisa meniru manusia.”

Ai-Mouto mengangguk pelan.

“Silakan.”

Di sisi lain rumah, pintu laboratorium Rin terbuka sedikit.

Bukan karena angin.

Rin berdiri di baliknya.

Di tangan kanannya terdapat teropong mini yang ukurannya lebih cocok untuk mengamati burung daripada mengamati penghuni rumah sendiri.

Ia mengintip dari celah pintu.

“Dasar bodoh…”

Ia sudah menyadari sejak beberapa menit lalu bahwa Ren sedang melakukan sesuatu pada Ai-Mouto.

Awalnya Rin berniat turun dan menghentikannya.

Namun rasa penasaran membuatnya tetap di tempat.

Ai-Mouto adalah hasil penelitiannya.

Kalau Ren benar-benar mencoba menguji sistem emosi, Rin ingin tahu bagaimana responsnya.

Itu saja.

Murni demi observasi.

Setidaknya begitu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Rin memfokuskan teropong.

Ren masih duduk di sofa.

Ai-Mouto duduk di depannya.

“Pertama,” kata Ren, “tolong buatkan aku jus mangga.”

Ai-Mouto berdiri.

“Baik.”

Ia berjalan menuju dapur.

Rin langsung tersenyum kecil.

“Proses sederhana.”

Beberapa menit kemudian Ai-Mouto kembali membawa segelas jus.

Ren menatap gelas itu.

“Oke.”

Ia mencicipinya.

“Ini jus mangga?”

“Ya.”

“Mana mangganya?”

Ai-Mouto berhenti.

Ren menahan tawa.

“Kamu menggunakan mangga?”

“Ya.”

“Padahal aku tadi bilang…”

Ren mengangkat telunjuk.

“…buat jus mangga tanpa mangga.”

Ai-Mouto diam.

Ia memproses kalimat tersebut.

Beberapa indikator kecil pada matanya menyala sangat singkat, lalu padam.

“Permintaan Onii-chan memiliki konflik logika.”

Ren tersenyum lebar.

“Terus?”

Ai-Mouto menundukkan kepala sedikit.

“Maaf.”

Ren menunggu.

“Sistem saya masih memiliki keterbatasan dalam menafsirkan permintaan yang bertentangan dengan kondisi bahan.”

Ren mengerutkan dahi.

“Cuma minta maaf?”

“Apakah seharusnya saya melakukan hal lain?”

Ren tertawa.

“Entahlah.”

Ai-Mouto mengangkat kepala.

“Jika Onii-chan menginginkan jus mangga tanpa mangga, saya dapat mencoba membuat simulasi rasa menggunakan bahan sintetis.”

Ren berhenti tertawa.

“Serius?”

“Ya.”

“Bisa?”

“Secara teoritis.”

Ren mengusap wajah.

“Jadi kamu malah memikirkan solusinya.”

“Itu fungsi saya.”

Rin, dari balik pintu, menurunkan teropong sedikit.

“Bagus…”

Ia tersenyum bangga.

Tetapi Ren belum selesai.

“Oke. Tes kedua.”

Ai-Mouto kembali berdiri tenang.

“Silakan.”

Ren mengambil sebuah bantal dari sofa.

“Buat bantal yang tidak memiliki bentuk.”

Ai-Mouto terdiam.

“Bantal pada umumnya memiliki bentuk.”

“Ya.”

“Jika tidak memiliki bentuk, definisinya berubah.”

Ren tersenyum.

“Jadi kamu nggak bisa?”

“Tidak dengan parameter literal.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Tetapi saya dapat mencari alternatif.”

“Apa?”

“Bantal dengan material fleksibel yang bentuknya berubah mengikuti tekanan.”

Ren menatapnya.

“…”

Ai-Mouto melanjutkan.

“Dengan begitu, bantal tetap berfungsi tetapi bentuknya tidak tetap.”

Ren menjatuhkan tubuh ke sofa.

“Gila.”

Dari balik pintu, Rin nyaris terkekeh.

Lihat selengkapnya