Pukul lima sore, cahaya matahari mulai berubah warna.
Sinar yang masuk melalui jendela dapur tidak lagi seterang siang hari. Warnanya menjadi lebih hangat, jatuh miring ke atas meja makan, permukaan kabinet, dan lantai kayu yang mengilap. Dari luar terdengar suara sepeda seorang anak sekolah melintas, disusul suara pintu rumah tetangga yang ditutup.
Di dapur, Ai-Mouto sedang menyiapkan makan malam.
Gerakannya tenang dan teratur.
Nasi sudah dimasukkan ke dalam penanak. Sayuran telah dicuci. Daging telah dikeluarkan dari lemari pendingin dan dibiarkan beberapa menit pada suhu ruang. Beberapa bumbu telah ditata berdasarkan urutan penggunaannya.
Semua persiapan dilakukan tanpa suara berlebihan.
Ai-Mouto membuka salah satu rak penyimpanan.
Di sana terdapat beberapa celemek.
Ada celemek putih polos.
Celemek biru dengan motif bunga kecil.
Satu celemek abu-abu.
Dan sebuah celemek merah terang dengan motif kucing kecil yang tersebar di bagian bawahnya.
Ai-Mouto menatap deretan celemek itu.
Sistem internalnya memilih berdasarkan beberapa parameter sederhana.
Warna yang sesuai dengan kondisi cahaya ruangan.
Ukuran yang sesuai.
Bahan yang mudah dibersihkan.
Dan tingkat kenyamanan tertinggi berdasarkan data penggunaan sebelumnya.
Hasil perhitungan menunjuk satu pilihan.
Celemek merah bermotif kucing.
Ai-Mouto mengambilnya.
Ia mengenakannya di depan cermin kecil di sisi dapur, kemudian mengikat tali di belakang tubuh.
Celemek itu jatuh rapi di atas pakaian rumahnya.
Ai-Mouto menunduk sebentar, memeriksa posisi ikatan.
“Ukuran sesuai.”
Ia mengangguk kecil.
“Baik.”
Lalu ia kembali memasak.
Tidak ada yang aneh menurutnya.
Celemek itu memang tersimpan di rak dapur.
Tidak ada label nama.
Tidak ada pengunci.
Tidak ada tanda khusus yang mengindikasikan bahwa barang tersebut dilarang digunakan.
Dalam protokol rumah, barang yang berada di rak umum dikategorikan sebagai peralatan domestik yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Logikanya sederhana.
Hanya saja, Ai-Mouto belum memahami bahwa manusia memiliki bentuk kepemilikan yang tidak selalu dituliskan dalam label.
Dan bahwa beberapa benda yang bagi sistem hanyalah kain dan benang, bagi seseorang dapat menyimpan kenangan bertahun-tahun.
Suara langkah terdengar dari tangga.
Rin turun dari lantai atas.
Ia baru selesai dari laboratorium dan berniat mengambil sesuatu untuk diminum sebelum kembali bekerja.
Pikirannya masih dipenuhi oleh data yang belum selesai dianalisis.
Sebuah model simulasi motorik belum stabil.
Ia ingin memeriksanya lagi sebelum malam.
Namun begitu memasuki dapur, langkah Rin terhenti.
“…”
Matanya langsung tertuju pada seseorang yang sedang berdiri di depan kompor.
Rin membeku.
Bukan karena Ai-Mouto sedang memasak.
Bukan juga karena dapur sudah rapi.
Melainkan karena celemek yang dikenakan android itu.
Celemek merah.
Dengan motif kucing kecil.
Celemek yang sangat dikenalnya.
Rin tidak bergerak.
Tangannya yang tadi hendak meraih gelas berhenti di udara.
Sejenak, suara dapur terasa menghilang.
Yang tersisa hanya satu potongan gambar.
Merah.
Motif kucing.
Tali celemek yang melingkar di pinggang.
Dipakai orang lain.
“Ai.”
Suaranya terdengar pelan.
Ai-Mouto menoleh.
“Ya, Rin?”
Rin tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada celemek itu.
Ai-Mouto menunggu.
“…”
Rin menarik napas.
Kemudian suaranya meledak.
“Lepas.”
Ai-Mouto berkedip.
“Maaf?”
“Lepas celemek itu.”
Nada suara Rin jauh lebih tajam.
“Sekarang.”
Ai-Mouto menatap celemek yang sedang dikenakannya.
“Apakah ada masalah?”
“Lepas.”
Rin melangkah maju.
“Jangan dipakai.”
Ai-Mouto masih tenang.
“Celemek tersebut berada di rak penyimpanan umum.”
“Terus?”
“Berdasarkan protokol efisiensi, peralatan yang berada pada ruang penyimpanan umum dapat digunakan untuk menjalankan tugas rumah tangga.”
Rin menatapnya tidak percaya.
“Itu bukan berarti kamu boleh mengambilnya.”
“Apa perbedaannya?”
“Karena itu punyaku.”
Ai-Mouto berhenti.
“Tidak ada penanda kepemilikan.”
Rin mengangkat tangan.
“Tidak perlu penanda.”
“Kalau begitu bagaimana saya dapat mengetahui?”
Rin membuka mulut.
Lalu berhenti.
Pertanyaan itu sebenarnya masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Dan justru itulah yang membuatnya semakin kesal.
“Karena…”
Ia mencari kata.
“Pokoknya itu milikku.”
Ai-Mouto menatap celemek tersebut lagi.
“Saya tidak menemukan data kepemilikan pada penyimpanan rumah.”
Rin mengerutkan dahi.
“Ya karena kamu nggak seharusnya mengambilnya!”
Ai-Mouto menundukkan kepala sedikit.
“Saya minta maaf.”
Namun ia tidak langsung melepas celemek itu.
Rin mulai kehilangan kesabaran.
“Lepas.”
Ai-Mouto kembali bertanya,
“Apakah celemek ini memiliki nilai khusus bagi Rin?”
Rin terdiam.
Ada jeda yang sangat singkat.
Namun wajahnya berubah.
“…”
Ia membuang muka.
“Bukan urusanmu.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baik.”
“Jadi lepas.”
“Saya akan melepaskannya.”
Ai-Mouto baru hendak membuka tali di belakang tubuh ketika suara langkah lain terdengar.
Ren muncul dari koridor.
Ia baru saja turun dari lantai atas sambil membawa buku, dan sepertinya awalnya hanya ingin mengambil minuman.
Namun begitu melihat suasana dapur, langkahnya melambat.
Ia melihat Rin.
Lalu Ai-Mouto.
Lalu celemek merah.
Kemudian kembali melihat Rin.
“Uh…”
Ren mengenali ekspresi itu.
Wajah Rin yang terlihat seperti sedang berdiri di tepi ledakan.
“Ada apa?”
“Jangan ikut campur.”
Rin menjawab tanpa menoleh.
Ren mengangkat tangan.
“Oke.”
Ia tidak benar-benar pergi.
Tentu saja tidak.
Pemandangan dua gadis dengan wajah identik sedang saling berhadapan merupakan sesuatu yang terlalu absurd untuk dilewatkan begitu saja.
Ai-Mouto menoleh kepada Ren.
“Rin meminta saya melepaskan celemek ini.”
Ren melihat celemek itu.
“Yang itu?”
“Ya.”
Ren berjalan mendekat.
Ia memandangnya sebentar.