Pukul sebelas malam, rumah itu seharusnya sudah tenang.
Lampu-lampu di lantai bawah sebagian besar telah dimatikan. Dapur sudah dirapikan. Meja makan kosong. Dari luar hanya terdengar suara kendaraan yang sesekali melewati jalan perumahan, sementara angin malam menggerakkan dedaunan di halaman depan.
Namun di salah satu kamar lantai dua, masih ada satu orang yang sama sekali belum berniat tidur.
Rin duduk di depan laptop utamanya.
Rambutnya sedikit berantakan. Mata berkantung. Sebuah mug kopi yang sudah dingin berada di sebelah tangan kanannya. Cahaya dari layar monitor menjadi satu-satunya penerangan di kamar yang tirainya sudah ditutup rapat.
Di layar terpampang beberapa jendela video.
Empat kamera.
Empat sudut rumah.
Satu mengarah ke ruang tamu.
Satu ke koridor lantai satu.
Satu ke dapur.
Dan satu lagi ke ruang belajar Ren.
Semua terhubung ke sistem Local Grid Surveillance yang Rin buat sendiri.
Resolusinya 4K.
Latensi hampir tidak ada.
Pemrosesan video dilakukan secara lokal melalui server kecil yang terhubung dengan laboratorium di basement, sehingga tidak ada satu pun rekaman yang perlu dikirim keluar rumah.
Rin menggeser salah satu jendela ke tengah layar.
Feed ruang belajar Ren diperbesar.
Ren terlihat duduk di depan meja.
Buku matematika terbuka.
Kertas coretan berserakan.
Pensil berada di antara jari-jarinya.
Dan wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja menyesali semua keputusan hidup yang membawanya sampai ke soal nomor dua puluh tujuh.
Rin menatap layar.
“Makanya jangan menunda belajar.”
Ren menggaruk kepala di dalam rekaman.
“Kenapa x-nya pindah ke sana…”
Ia menulis sesuatu.
Menghapus.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Rin menghela napas.
“Kalau penyelesaianmu seperti itu, jelas salah.”
Ia berbicara pada layar, meskipun tahu Ren tidak dapat mendengarnya.
Sudah hampir satu jam Rin duduk di sana.
Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua ini dilakukan untuk observasi.
Ai-Mouto masih berada pada tahap awal pengembangan.
Interaksinya dengan Ren perlu dipantau.
Respons emosional perlu dicatat.
Algoritma pembelajaran perlu dievaluasi.
Dan, tentu saja, ada kemungkinan Ai-Mouto menunjukkan perilaku yang tidak Rin prediksi.
Semua alasan itu terdengar ilmiah.
Masuk akal.
Profesional.
Hanya saja, kalau memang semata-mata penelitian, Rin mungkin tidak akan menggigit ujung pulpen setiap kali Ai-Mouto masuk ke dalam frame.
Kamera menunjukkan pintu ruang belajar terbuka.
Ai-Mouto muncul.
Rin langsung berhenti mengetik.
“Kenapa dia datang?”
Ai-Mouto berjalan menuju meja Ren dengan membawa sebuah nampan kecil.
Di atasnya ada minuman hangat dan sepiring camilan.
Ren yang sedang menatap soal sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
Ai-Mouto berhenti di samping meja.
“Onii-chan.”
Ren mendongak.
“Hm?”
“Sudah lebih dari satu jam sejak terakhir kali Onii-chan minum.”
“Oh.”
Ai-Mouto meletakkan minuman di meja.
“Saya juga membawa camilan.”
Ren melihat piring itu.
“Biskuit?”
“Ya. Onii-chan biasanya lebih mudah berkonsentrasi setelah makan sedikit.”
Ren tersenyum.
“Terima kasih.”
Rin mengatupkan gigi.
“Tidak perlu dilayani terus.”
Ia berkata begitu ke layar.
Namun tentu saja Ai-Mouto tidak mendengarnya.
Ren mengambil satu biskuit.
Ia memakannya sambil membaca soal.
Ai-Mouto berdiri di samping meja beberapa saat.
Kemudian ia memperhatikan gerakan bahu Ren.
“Tubuh Onii-chan terlihat tegang.”
“Hm?”
“Pundak kiri lebih tinggi dari kanan.”
Ren mengangkat bahu.
“Matematika.”
“Saya dapat membantu.”
“Bisa?”
“Dalam batas kemampuan saya.”
Ren menyerah.
“Kalau begitu, tolong.”
Ai-Mouto berdiri di belakang kursinya.
Kemudian kedua tangannya ditempatkan pada bahu Ren.
Rin mendadak duduk lebih tegak.
“Tunggu.”
Jari-jari Ai-Mouto mulai menekan perlahan.
Gerakannya sangat teratur.
Tidak terlalu kuat.
Tidak terlalu lemah.
Tekanan berpindah dari satu titik ke titik lainnya dengan presisi.
Ren langsung mengembuskan napas.
“Aah…”
Rin membeku.
Ai-Mouto menyesuaikan tekanan.
“Tekanan lima belas persen lebih kuat di bagian sini.”
Ren mengangguk.
“Di situ.”
Ia menutup mata.
“Wah…”
Rin menatap layar tanpa berkedip.
“Kenapa harus dipijat?”
Ia sendiri tahu jawabannya.
Tentu saja.
Ai-Mouto bisa membaca kondisi tubuh.
Ia dapat mendeteksi ketegangan otot.
Ia dirancang untuk membantu.
Semua itu masuk akal.
Sangat masuk akal.
Yang tidak masuk akal adalah kenapa melihat Ren diperlakukan seperti itu membuat dada Rin terasa semakin sesak.
Di layar, Ren kembali mengembuskan napas.
“Aah, Ai-Mouto memang yang terbaik.”
Rin membeku.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Kemudian tangan Rin perlahan berhenti di atas keyboard.
“…”
Ia menatap layar.
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Ai-Mouto memang yang terbaik.
Rin menarik napas.
“Memangnya apa hebatnya…”
Ia mencoba tertawa kecil.
“Cuma dipijat.”
Namun suaranya terdengar tidak meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Di layar, Ai-Mouto masih memijat bahu Ren.
“Onii-chan merasa lebih baik?”
“Jauh.”
Ren tersenyum.
“Pusingnya berkurang.”
“Saya senang.”
Ren kembali mengerjakan soal.
Ai-Mouto tidak langsung pergi.