Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #9

Bekal Makanan dengan Hiasan Cinta

Pukul 12.15 siang.

Bel istirahat makan baru saja berbunyi di salah satu gedung SMA tempat Ren dan Rin bersekolah.

Suara kursi bergeser memenuhi kelas 3-A. Beberapa siswa langsung berdiri dan bergerak menuju kantin, sebagian lain memilih tetap di kelas sambil membuka kotak makan siang yang mereka bawa dari rumah. Cahaya siang masuk dari jendela kelas, memantul pada lantai dan meja yang tertata dalam beberapa baris.

Ren masih duduk di kursinya.

Ia sebenarnya tidak terlalu lapar.

Namun perutnya cukup kosong setelah empat jam pelajaran.

Tangannya mengambil tas makan dari dalam tas sekolah.

Kotak bekalnya terasa sedikit berbeda.

Lebih berat daripada biasanya.

Ren menatapnya sebentar.

Kotak makan itu sudah ada di dalam tasnya sejak pagi.

Dan ia tahu persis siapa yang menyiapkannya.

Ingatan tentang pagi tadi muncul begitu saja.

Pukul 06.20.

Dapur rumah sudah dipenuhi aroma makanan hangat.

Ren baru turun dari lantai dua ketika melihat Ai-Mouto berdiri di depan meja dapur dengan celemek biru.

Di atas meja terdapat nasi yang baru matang, beberapa sayuran, telur, sosis, dan sebuah kotak bekal yang sudah terbuka.

Ai-Mouto sedang bekerja dengan sangat serius.

Tangannya memegang cetakan kecil berbentuk kepala kucing.

Ren berhenti di ambang pintu.

“Apa yang kamu lakukan?”

Ai-Mouto menoleh.

“Menyiapkan bekal Onii-chan.”

Ren mendekat.

“Bukannya aku bisa makan di kantin?”

“Bisa.”

“Terus kenapa bikin bekal?”

“Karena data kebiasaan Onii-chan menunjukkan bahwa Onii-chan lebih sering membeli makanan yang sama ketika makan di sekolah.”

Ren menggaruk kepala.

“Ya… memang.”

Ai-Mouto kembali bekerja.

Nasi putih ditekan ke dalam cetakan.

Kemudian ia membuka cetakan tersebut.

Sebuah wajah kucing kecil terbentuk sempurna.

Ren mengangkat alis.

“Kenapa bentuknya begitu?”

“Karena proporsi tersebut mudah dipertahankan dan secara visual menarik.”

Ren memperhatikan telinga kecil dari nasi itu.

“Kamu sengaja?”

“Ya.”

“Lucu juga.”

Ai-Mouto tersenyum.

“Saya senang Onii-chan menyukainya.”

Ia kemudian memotong sosis menjadi beberapa bagian dan menggorengnya sebentar. Ketika sosis matang, ujung-ujungnya membuka menyerupai kaki-kaki kecil.

Seekor gurita merah kecil muncul di atas piring.

Ren menatapnya.

“Yang itu…”

“Sosis gurita.”

“Kenapa ada bentuk gurita?”

“Karena bentuk tersebut populer sebagai bekal sekolah.”

Ren tertawa.

“Kamu riset juga?”

“Ya.”

Ai-Mouto lalu mengambil wortel.

Ia menggunakan cetakan kecil lagi.

Satu.

Dua.

Tiga.

Potongan wortel berbentuk hati jatuh ke piring.

Ren terdiam.

“Yang itu agak berlebihan.”

Ai-Mouto menatap potongan wortel tersebut.

“Bentuk hati memiliki konotasi positif dalam budaya visual manusia.”

“Ya, tapi…”

Ren menunjuk kotak bekal.

“Jangan sampai orang mengira aku sedang pacaran.”

Ai-Mouto berkedip.

“Apakah itu masalah?”

“Bisa jadi.”

“Apakah Onii-chan memiliki pasangan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu tidak ada informasi yang perlu dikoreksi.”

Ren menatapnya.

Ia tidak punya jawaban.

Ai-Mouto kemudian menyusun semuanya dengan sangat teliti.

Nasi berbentuk kepala kucing di tengah.

Dua sosis gurita di samping.

Wortel berbentuk hati ditempatkan di sela-sela lauk.

Potongan telur diletakkan di salah satu sudut.

Warnanya kontras dan terlihat seperti bekal yang sengaja disiapkan seseorang dengan sangat penuh perhatian.

Ren menatap kotak itu.

“Kamu benar-benar mau aku bawa ini?”

“Ya.”

“Tidak terlalu…”

Ia mencari kata.

“Manis?”

Ai-Mouto tersenyum.

“Bukankah Onii-chan biasanya menyukai hal-hal yang praktis?”

Ren menghela napas.

“Aku takutnya teman-teman yang nggak praktis.”

Ai-Mouto menutup kotak bekal.

“Kalau begitu, Onii-chan dapat menyimpannya tanpa membukanya.”

Ren tertawa.

“Kalau sudah dibuat begini, sayang kalau nggak dimakan.”

Ai-Mouto menyerahkan kotak itu.

“Selamat makan nanti.”

Ren menerimanya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Ingatan itu berakhir.

Ren masih menatap kotak bekalnya.

Ia menghela napas panjang.

“Harusnya aku bilang lebih awal.”

Di meja sebelahnya, seorang siswa berkacamata yang sedang membuka roti isi menoleh.

“Ren.”

“Hm?”

“Kamu bawa bekal?”

“Iya.”

Temannya, Kenta, mengangkat alis.

“Tumben.”

Ren menjawab seadanya.

“Biasanya juga bawa.”

“Biasanya kamu beli di kantin.”

“Ya, sekarang beda.”

Lihat selengkapnya