Pukul 16.30.
Hujan turun begitu deras hingga halaman depan sekolah nyaris berubah menjadi tirai air.
Atap halte kecil di depan gerbang tidak lagi mampu menahan seluruh percikan. Angin meniupkan air dari samping, membuat bagian lantai yang seharusnya kering perlahan menjadi basah. Para siswa yang baru keluar dari gedung sekolah berlarian sambil menutupi kepala dengan tas, buku, atau jaket.
Beberapa sepeda berjejer di bawah kanopi dekat parkiran.
Sebagian siswa memilih menunggu.
Sebagian lain nekat pulang sambil berlari.
Suara hujan menghantam atap halte begitu keras hingga percakapan harus sedikit dinaikkan.
Ren berdiri di salah satu sisi halte.
Tas sekolahnya dipeluk di depan dada.
Ia menatap jalan yang hampir tidak terlihat karena air.
“Bagus.”
Ia mendesah.
“Semesta benar-benar tahu kapan aku sedang malas pulang.”
Ia baru hendak memeriksa ponsel ketika menyadari seseorang berdiri di sisi lain halte.
Rin.
Adiknya sedang memandang hujan sambil memeluk tas sekolahnya sendiri.
Rambutnya sedikit berantakan karena angin.
Ia tidak membawa payung.
Ren menatapnya beberapa detik.
“Rin.”
Rin langsung memalingkan wajah.
“Apa?”
“Kamu mau pulang?”
“Memangnya aku mau tinggal di sekolah?”
“Bisa saja.”
“Lucu.”
Rin menjawab pendek.
Ia kembali melihat hujan.
Ren tersenyum tipis.
Sejak kejadian bekal kemarin, hubungan mereka sebenarnya tidak memburuk.
Namun entah kenapa, Rin beberapa kali terlihat lebih pendiam.
Ia masih mengomel.
Masih memerintah.
Masih menegur kalau Ren meletakkan sesuatu sembarangan.
Hanya saja, kadang-kadang ia seperti kehilangan kalimat berikutnya ketika percakapan menyentuh Ai-Mouto.
Ren sendiri mulai sedikit lebih memperhatikan perasaannya.
Terutama setelah pertengkaran soal celemek.
Namun ia belum benar-benar tahu apa yang harus dilakukan.
“Bawa payung?”
Ren bertanya.
Rin menjawab terlalu cepat.
“Bawa.”
Ren melihat tangannya.
Tidak ada payung.
“Mana?”
“Di rumah.”
Ren mengangkat alis.
“Itu bukan namanya bawa.”
Rin menatapnya tajam.
“Aku lupa.”
Akhirnya keluar juga.
Ren hampir tertawa, tetapi menahannya.
“Jadi lupa.”
“Ya.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Aku tidak minta bantuan.”
“Padahal aku juga belum menawarkan.”
“Makanya.”
Ren menatap hujan.
Kemudian ia melihat bahu Rin.
Sedikit basah.
Awalnya ia mengira hanya percikan biasa.
Namun beberapa detik kemudian, air yang menempel di kain seragam Rin terlihat semakin jelas.
Rin berdiri terlalu dekat dengan sisi terbuka halte.
Angin membawa hujan dari samping.
“Geser ke sini.”
“Apa?”
“Ke dalam.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Bahu kamu basah.”
Rin langsung memeriksa bahunya.
Memang basah.
Ia mengerutkan dahi.
“Sedikit.”
“Bukan sedikit.”
Ren melepas tasnya dari bahu dan memindahkannya ke sisi lain.
Kemudian ia memberi tempat lebih luas di dekat dinding halte.
“Geser.”
Rin tidak menjawab.
Ia hanya bergerak beberapa sentimeter.
Ren menghela napas.
“Begitu.”
Rin berdiri dengan tangan terlipat.
Udara sore terasa semakin dingin.
Beberapa helai rambutnya menempel di sisi wajah.
Ren melihatnya.
“Kamu kedinginan?”
“Tidak.”
Rin menjawab sambil menggigil kecil.
Ren menatapnya.
Rin menyadari kesalahannya.
“Ini cuma refleks.”
“Refleks?”
“Tubuh menyesuaikan suhu.”
“Bahkan kamu sendiri kalah sama penjelasan tubuhmu.”
Rin mendecakkan lidah.
“Jangan berisik.”
Ren tersenyum.
Ia kemudian membuka jaket seragamnya sedikit.
“Kamu bisa pakai ini.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak perlu.”
“Rin.”
“Aku bilang tidak.”
Nada suaranya keras.
Namun kedua tangannya diam-diam menggenggam ujung rok lebih erat untuk menahan dingin.
Ren menghela napas.
Ia tahu kapan harus berhenti.
“Ya sudah.”
Ia tidak memaksa.
Mereka berdiri dalam diam.
Hujan terus turun.
Di depan gerbang sekolah, sebuah sepeda melintas dan ban belakangnya menyemburkan air ke jalan.
Rin menghela napas.
“Sepertinya belum berhenti.”
“Jelas.”
“Kalau begini…”
Rin menatap jam di ponselnya.
“…bisa lama.”
Ren mengangguk.
Ia melihat ke langit.
“Mungkin setengah jam.”
“Bisa lebih.”
“Bisa.”
Hening lagi.
Rin masih memalingkan wajah.
Ren melirik adiknya dari samping.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Bukan karena lupa payung.
Bukan juga karena hujan.
Melainkan karena ia tiba-tiba teringat Ai-Mouto.
Kalau Ren menunggu cukup lama, mungkin Ai-Mouto akan datang.
Android itu hampir selalu tahu jadwal kepulangannya.
Mungkin sudah membaca kondisi cuaca.
Mungkin sedang membawa payung.
Pikiran itu membuat Ren merasa aneh.
Di satu sisi, ia tidak keberatan.
Di sisi lain—
ia melirik Rin.
Bahunya masih basah.
“Rin.”