Pukul sembilan pagi.
Pelajaran pertama sudah berlangsung hampir satu jam ketika Ren tiba-tiba merogoh saku celananya.
Kosong.
Ia memeriksa saku satunya.
Kosong.
Kemudian ia membuka tas.
Buku matematika.
Buku sejarah.
Tempat pensil.
Kotak bekal yang sudah kosong.
Charger.
Tidak ada.
Ren membeku di tengah kelas.
“Jangan bilang…”
Ia membuka dompet kecilnya yang biasa digunakan menyimpan kartu kereta dan sedikit uang.
Kosong.
Bukan kosong karena uangnya habis.
Dompetnya memang tidak ada.
Ingatan tentang pagi tadi muncul seketika.
Ia terburu-buru karena hampir terlambat. Setelah sarapan, ia mengambil tas dan langsung keluar rumah tanpa sempat memeriksa meja di ruang tamu.
Dan sekarang ia baru ingat.
Kemungkinan besar dompet itu masih berada di rumah.
“Bagus.”
Ren menutup wajah dengan kedua tangan.
“Bagus sekali.”
Teman di sebelahnya, Kenta, melirik.
“Kenapa?”
“Dompetku ketinggalan.”
“Serius?”
“Serius.”
“Telepon rumah saja.”
Ren mengambil ponsel.
Ia membuka daftar kontak.
Ibu jarinya berhenti sejenak di atas nama Rin.
Kemudian ia memikirkan kemungkinan adiknya sedang berada di kelas.
Jam sembilan pagi.
Rin pasti sedang belajar.
Tidak mungkin ia keluar sekolah hanya untuk mengantarkan dompet.
Ren menghela napas.
Namun beberapa detik kemudian ia teringat satu orang lain.
Ai-Mouto.
Ia langsung mengerutkan dahi.
“…”
Kenta menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak.”
“Ada solusi?”
“Belum.”
Ren akhirnya membuka aplikasi pesan.
Ia mengetik singkat.
Ai, dompetku tertinggal di meja ruang tamu. Bisa tolong simpan saja sampai aku pulang?
Ia baru hendak menekan kirim ketika berpikir ulang.
Kalau dompet itu diperlukan untuk perjalanan pulang, tentu lebih baik dikirim.
Ren menghapus kalimat terakhir.
Lalu mengetik:
Bisa tolong antar ke sekolah? Nanti aku ambil di gerbang.
Jari Ren berhenti.
“…”
Ada perasaan tidak enak yang muncul entah dari mana.
Ia teringat bagaimana Ai-Mouto sering bergerak tanpa banyak pertanyaan.
Kalau ia meminta datang, kemungkinan besar Ai-Mouto akan benar-benar datang.
Ren mengirim pesan.
Beberapa detik kemudian jawaban masuk.
Baik, Onii-chan. Saya akan mengantar.
Ren menatap pesan itu.
“Harusnya gampang.”
Ia menyimpan ponsel.
Kemudian kembali ke pelajaran.
Ia tidak memikirkan satu hal penting.
Ai-Mouto mungkin tahu bagaimana cara berjalan ke sekolah.
Ia mungkin tahu rute.
Ia mungkin tahu jadwal Ren.
Namun ada satu hal yang tidak ia pikirkan sama sekali.
Bagaimana Ai-Mouto akan berpakaian ketika datang ke SMA.
Dan kesalahan kecil itu akan menjadi masalah besar.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, di gerbang utama sekolah, seorang gadis berdiri dengan tas kecil di tangan.
Seragam SMA yang dikenakannya sangat familiar.
Rok lipit.
Blus putih.
Pita seragam.
Sepatu sekolah.
Rambut panjang yang jatuh rapi.
Wajah yang dikenal banyak siswa.
Tidak ada satu pun yang menganggap pemandangan itu aneh.
Justru sebaliknya.
“Rin?”
Seorang siswi yang baru melewati gerbang berhenti.
Gadis itu menoleh.
“Ya?”
Siswi tersebut berkedip.
“Kamu datang pagi sekali.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Ya. Saya datang untuk mengantarkan sesuatu.”
Siswi itu tersenyum balik.
“Aneh. Kamu biasanya langsung ke kelas.”
“Saya sedang menjalankan tugas.”
“Oh.”
Siswi itu berjalan pergi sambil melambaikan tangan.
“Jangan lupa masuk kelas, ya.”
“Baik.”
Ai-Mouto membungkuk sedikit.
Siswi itu terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian ia menoleh lagi.
Ada yang terasa aneh.
Bukan wajahnya.
Bukan pakaiannya.
Semuanya benar.
Tetapi…
“Rin kok senyum terus?”
Ia menggaruk kepala.
“Biasanya juga jutek.”
Di dekat gerbang, dua siswa laki-laki yang sedang berbicara berhenti ketika melihat Ai-Mouto.
“Eh, itu Rin, kan?”
“Iya.”
“Kenapa dia ramah banget?”
“Mana aku tahu.”
Ai-Mouto berjalan santai melewati mereka.
Ia tidak merasa sedang melakukan penyamaran.
Ia hanya mengenakan pakaian yang tersedia agar dapat masuk ke lingkungan sekolah dengan identitas visual yang sesuai.
Masalahnya adalah pakaian tersebut bukan miliknya.
Seragam itu diambil dari lemari Rin.
Tanpa izin.
Dan menurut sistem Ai-Mouto, tidak ada parameter yang secara eksplisit menyatakan bahwa seragam sekolah tersebut merupakan barang pribadi yang tidak dapat digunakan.
Bagi Ai-Mouto, itu sekadar solusi efisien.
Bagi Rin—
itu akan menjadi mimpi buruk.
Di kelas 1, Rin sedang menulis catatan ketika salah seorang teman menoleh.
“Rin.”
“Hm?”
“Tadi kamu sudah turun ke gerbang?”
Rin mengangkat kepala.
“Belum.”
“Lho?”
Temannya tampak bingung.
“Aku tadi lihat kamu.”
Rin mengerutkan dahi.
“Di mana?”
“Gerbang. Kamu pakai seragam.”
Rin diam.
“Tunggu.”
Tangannya berhenti menulis.
“Apa?”
“Kamu bilang kamu lihat aku?”
“Iya.”
“Benar?”
“Iya. Malah senyum.”
Rin menatapnya kosong.
“…”
Temannya tertawa kecil.
“Entah kenapa hari ini kamu beda.”
Rin merasa ada sesuatu yang sangat salah.
Ia melihat jam.
09.00.
Kemudian pikirannya bergerak cepat.
Ia tidak berada di gerbang.
Ia berada di kelas.
Seragam yang ia kenakan saat ini memang ada di tubuhnya.
Kalau begitu—
Rin berdiri.
“Permisi.”
“Hah?”
“Aku ke toilet.”
Ia keluar kelas sebelum sempat ditanya lebih lanjut.
Begitu berada di koridor, Rin berjalan cepat menuju tangga.
Ia mengikuti arus siswa yang bergerak ke gedung utama.
Dan kemudian—
ia melihatnya.
Di ujung koridor.
Seseorang berdiri dengan seragam yang sama dengannya.
Wajah yang sama dengannya.
Rambut yang sama dengannya.
Dan sedang tersenyum kepada seorang siswa.
Rin berhenti berjalan.
“…”