Pukul sembilan malam.
Hujan yang turun sejak sore akhirnya tinggal menyisakan rintik-rintik tipis di luar rumah. Air masih mengalir di sepanjang talang, sesekali jatuh ke halaman dengan suara teratur. Udara malam menjadi lebih dingin dari biasanya, membuat ruang tamu terasa nyaman di bawah cahaya lampu yang hangat.
Televisi menyala.
Ren duduk sendirian di sofa, mengenakan pakaian rumah sambil bersandar malas. Sebuah mangkuk kecil berisi camilan berada di atas meja di depannya. Ia tidak benar-benar mengikuti acara yang sedang tayang. Sesekali matanya tertuju pada layar, lalu kembali ke ponselnya.
Rumah cukup tenang.
Rin sudah turun ke laboratorium sejak sekitar satu jam yang lalu.
Ai-Mouto tadi membantu membereskan dapur, tetapi kemudian pergi ke basement untuk melakukan pemeriksaan sistem rutin.
Setidaknya itu yang Ren kira.
Ia mengambil satu keripik.
“Cuaca begini memang paling enak buat malas-malasan.”
Dari arah koridor terdengar langkah kaki.
Ren tidak menoleh.
“Kalau kamu Rin, aku nggak punya camilan lagi.”
Tidak ada jawaban.
Ren akhirnya mengalihkan pandangan.
Ai-Mouto berdiri di ambang ruang tamu.
“Bukan Rin.”
Ren tersenyum.
“Oh.”
Ia menepuk sisi sofa.
“Duduk.”
Ai-Mouto berjalan mendekat.
Namun langkahnya lebih lambat dari biasanya.
Tidak terlalu jelas.
Hanya sedikit.
Sangat sedikit.
Ren sempat memperhatikan hal itu.
“Kamu habis dari basement?”
“Ya.”
Ai-Mouto duduk di ujung sofa.
“Pemeriksaan sistem selesai.”
“Semua normal?”
Ai-Mouto tidak langsung menjawab.
Matanya berkedip sekali.
Kemudian dua kali.
“Secara umum…”
Ia berhenti.
Ren mengernyit.
“Secara umum?”
“Tidak ada masalah besar.”
Ren tertawa kecil.
“Jawabanmu bikin khawatir.”
Ai-Mouto tersenyum.
Senyumnya tetap sama seperti biasa.
Lembut dan tenang.
Namun sesaat kemudian, suaranya terdengar sedikit lebih rendah.
“Onii-chan…”
“Ya?”
“Apakah suhu ruangan nyaman?”
Ren melihat sekeliling.
“Lumayan dingin.”
“Saya dapat meningkatkan suhu.”
“Nggak usah. Nanti kamu sendiri yang panas.”
Ai-Mouto terdiam.
Seharusnya ia membalas seperti biasa.
Namun beberapa detik berlalu dan tidak ada jawaban.
Ren menoleh.
“Ai?”
“Ya.”
“Kamu kenapa?”
Ai-Mouto mengangkat wajah.
“Saya masih berfungsi.”
“Bukan itu yang kutanya.”
Ren memandangi ekspresinya.
Ada sesuatu yang aneh.
Gerakan Ai-Mouto biasanya halus dan konsisten. Namun sekarang, ketika ia mengubah posisi duduk, gerakannya terlihat sedikit kaku.
Seolah ada jeda di antara satu perintah motorik dan perintah berikutnya.
“Coba berdiri.”
Ai-Mouto menurut.
Ia mengangkat tubuh perlahan.
Namun begitu berdiri, bahunya sedikit miring.
Ren langsung bangkit dari sofa.
“Lho.”
Ai-Mouto menoleh.
“Saya baik-baik saja.”
“Suaramu juga beda.”
“Mode sintesis suara telah…”
Ia berhenti lagi.
Mata Ai-Mouto berkedip.
“...diturunkan.”
“Diturunkan?”
“Untuk mengurangi konsumsi daya.”
Ren mengerutkan dahi.
“Kenapa harus mengurangi konsumsi daya?”
Ai-Mouto menatapnya.
Tidak menjawab.
Kemudian terdengar suara kecil.
Bip.
Ren mengira itu hanya bunyi dari perangkat lain.
Namun Ai-Mouto mengangkat pergelangan tangan kirinya.
Sebuah indikator kecil yang biasanya tidak terlihat di balik lapisan Bio-Silicone menyala.
Warna merah.
Angka muncul selama beberapa detik.
5%
Ren membeku.
“Lima persen?”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baterai utama berada pada lima persen.”
“Lima persen?!”
Ren langsung berdiri.
“Kenapa kamu masih jalan-jalan kalau tinggal lima persen?”
Ai-Mouto menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan.
“Pemanas epidermis bekerja dengan beban tinggi sepanjang sore.”
Ren teringat hujan tadi.
Udara dingin.
Tubuh Ai-Mouto yang sempat terkena hujan ketika menjemput mereka.
Sistem pemanas kulit sintetis.
Semua itu mungkin menghabiskan daya jauh lebih cepat.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Saya memperkirakan masih dapat bertahan sampai pemeriksaan berikutnya.”
Ren menatapnya tidak percaya.
“Itu bukan alasan.”
Ai-Mouto hendak menjawab.
Namun tiba-tiba gerakannya berhenti.
“…”
Kepalanya sedikit turun.
Ren langsung mendekat.
“Ai?”
“Daya…”
Suaranya berubah semakin lambat.
“...menurun.”
Ai-Mouto mencoba melangkah.
Satu langkah.
Dua.
Lalu tubuhnya kehilangan stabilitas.
“Ai!”
Ren refleks menangkapnya.
Tubuh Ai-Mouto jatuh ke depan dan langsung bersandar di tubuh Ren.
Ren hampir kehilangan keseimbangan.
“Eh—!”
Ia memegang bahu Ai-Mouto.
Gadis itu tidak lagi berdiri.
Tubuhnya menjadi lemas.
Kepalanya jatuh ke bahu Ren.
“Ai?”
Tidak ada jawaban langsung.
Ren panik.
“Hei.”
Ia mencoba menggoyang tubuhnya sedikit.
“Ai, bangun.”
Mata Ai-Mouto terbuka setengah.
“Onii…”
Suaranya sangat rendah.
“...chan…”
Ren menelan ludah.
“Kamu jangan bikin kaget begitu.”
Ai-Mouto tidak menjawab.
Tubuhnya justru semakin bersandar.
Ren terpaksa duduk kembali di sofa agar tidak jatuh.
Sekarang Ai-Mouto berada di pangkuannya.
Kepalanya bersandar pada dada Ren.
Tangan Ren menopang punggungnya.
“Ini apa-apaan…”
Ia menatap wajah Ai-Mouto yang tampak jauh lebih pucat dibanding biasanya.
Pikiran Ren langsung melompat ke satu kesimpulan yang sangat sederhana.
Masalah ini pasti bisa diperbaiki Rin.
“Rin!”
Tidak ada jawaban.
Ren meraih ponselnya.
Ia hendak menelepon, tetapi dari ujung tangga terdengar suara langkah cepat.
Rin muncul.
Rambutnya sedikit berantakan.
Di tangan kirinya terdapat alat kalibrasi portabel.