Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #13

Sentuhan Pertama dan Sensor Hangat

Pukul 22.30.

Rumah keluarga itu sudah lama melewati jam tenang.

Lampu di lantai atas sebagian besar telah dimatikan. Ruang makan kosong. Dapur bersih setelah makan malam. Hujan yang sempat turun sore tadi memang sudah berhenti, tetapi udara malam masih menyimpan kelembapan dan dingin yang membuat jendela ruang keluarga sedikit berembun.

Namun di bawah rumah, keadaan berbeda.

Laboratorium Rin masih terang.

Cahaya putih dari panel LED memenuhi ruangan yang dipenuhi layar pemantau, rak komponen, kabel-kabel tipis, alat ukur, dan server rack yang terus berdengung di sudut ruangan. Meja kerja utama berada di tengah, dikelilingi beberapa monitor yang menampilkan grafik suhu, tegangan, arus, dan status berbagai subsistem.

Di atas meja itu, Rin sedang memeriksa sebuah tablet.

Wajahnya serius.

Tidak ada sisa ekspresi tsundere yang biasa ia tunjukkan di depan Ren.

Tidak ada gerakan gelisah.

Tidak ada keluhan.

Di laboratorium, Rin berubah menjadi sesuatu yang sedikit berbeda.

Ia menjadi teknisi.

Peneliti.

Pencipta.

Seseorang yang sangat tahu apa yang sedang ia lakukan.

Di sisi lain ruangan, Ai-Mouto berada dalam keadaan standby mode.

Tubuhnya terbaring di atas ranjang kecil beroda yang biasa digunakan untuk pemeriksaan.

Mata tertutup.

Kedua tangan diletakkan lurus di sisi tubuh.

Indikator di belakang tengkuknya berkedip pelan.

Setelah insiden baterai tadi malam, Rin memutuskan melakukan pemeriksaan penuh. Emergency Power Transfer berhasil menyelamatkan sistem utama, tetapi bukan berarti penyebab drain daya boleh dibiarkan begitu saja.

Ia masih ingin memeriksa pemanas epidermis, jaringan sensor kulit, sambungan motorik, dan distribusi daya internal.

Semuanya harus diperiksa satu per satu.

Suara pintu laboratorium terbuka.

Rin menoleh.

Ren muncul dari tangga basement.

Ia mengenakan pakaian rumah dan terlihat sedikit mengantuk.

“Masih belum tidur?”

Rin kembali pada tabletnya.

“Belum.”

“Terus?”

“Perawatan.”

Ren melihat Ai-Mouto.

“Oh.”

Ia mendekat.

“Masih standby?”

“Ya.”

“Sejak tadi?”

“Supaya tidak ada aktivitas sistem yang tidak perlu.”

Ren berhenti di samping meja.

Ia memperhatikan wajah Ai-Mouto yang kini benar-benar diam.

Aneh.

Ketika aktif, hampir tidak mungkin Ren mengingatnya sebagai mesin.

Ia bicara.

Tersenyum.

Berjalan.

Membawa makanan.

Menyiapkan teh.

Bahkan terkadang terlihat seperti adik biasa.

Namun dalam keadaan standby seperti ini, perbedaan itu kembali terlihat.

Tidak ada ekspresi.

Tidak ada gerakan.

Hanya sebuah tubuh yang menunggu sistem dinyalakan kembali.

Ren mengusap dagunya.

“Kelihatannya rapuh.”

“Tidak.”

Rin menjawab tanpa mengangkat kepala.

“Secara struktur, rangka internalnya justru jauh lebih kuat daripada tubuh manusia.”

“Bukan itu maksudku.”

Rin berhenti menggeser layar.

“Apa?”

“Kalau melihat dia tidur begini…”

Ren memandang Ai-Mouto.

“…rasanya seperti sedang melihat seseorang yang benar-benar harus dijaga.”

Rin diam sebentar.

Kemudian menjawab,

“Karena dia memang harus dijaga.”

Ren menoleh.

Rin kembali fokus pada tabletnya.

“Setidaknya selama proses pengembangan.”

Ren tersenyum kecil.

“Begitu.”

Beberapa detik kemudian, Rin berdiri.

“Aku perlu memindahkan dia ke meja perawatan.”

Ren langsung maju.

“Bantu?”

Rin mengangguk.

“Ya.”

Mereka berdiri di kedua sisi ranjang.

Rin melepaskan pengunci roda.

Ren mengambil posisi di bagian bahu dan punggung Ai-Mouto.

“Pelan.”

“Aku tahu.”

“Bagian leher jangan sampai tertekuk.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan menekan bagian pinggang.”

“Rin.”

“Apa?”

“Aku cuma membantu mengangkat.”

“Makanya aku mengingatkan.”

Ren menahan senyum.

“Baik, teknisi.”

Rin memelototinya.

“Jangan panggil aku begitu.”

Mereka mengangkat Ai-Mouto bersama.

Tubuh android itu cukup ringan dibanding manusia seusianya, tetapi tetap memiliki berat yang terasa karena distribusi komponennya berbeda. Ren menopang bagian atas tubuh sementara Rin mengendalikan posisi kakinya.

Perlahan mereka memindahkannya ke meja perawatan.

Begitu tubuh Ai-Mouto diletakkan, Rin langsung memastikan kepala, leher, dan kedua lengannya berada dalam posisi yang tepat.

Ia memasang dua penyangga kecil.

Kemudian mengunci meja.

“Sudah.”

Ren menarik napas.

“Berat juga.”

“Karena ada struktur komposit internal, baterai, motor, dan modul pendingin.”

“Kalau manusia?”

“Tidak perlu menjelaskan kepada manusia tentang anatomi manusia.”

Ren tertawa.

“Ya.”

Rin mengambil sebuah kotak alat.

Isinya jauh berbeda dari kotak perkakas biasa.

Tidak ada obeng besar atau kunci pas.

Sebagian besar alat di dalamnya berukuran kecil.

Sangat kecil.

Beberapa bahkan tampak seperti alat bedah.

Ren mengamati.

“Seram.”

“Ini peralatan presisi.”

Rin memilih satu perangkat yang bentuknya seperti pena logam dengan ujung bercabang.

Ia membuka panel kecil pada bagian punggung Ai-Mouto.

Klik.

Bagian tipis dari lapisan sintetis terangkat.

Ren refleks mendekat.

“Wow.”

Di balik permukaan yang tampak seperti kulit manusia, terdapat jaringan yang sama sekali berbeda.

Kabel-kabel sangat tipis tersusun dalam beberapa lapisan.

Serat berwarna gelap bergerak mengikuti kontur tulang punggung.

Ada sambungan fleksibel.

Papan sirkuit mikroskopis.

Tabung kecil untuk sistem sirkulasi termal.

Dan jaringan sensor yang tampak seperti benang transparan.

Ren terdiam.

Selama ini ia tahu bahwa tubuh Ai-Mouto rumit.

Tetapi melihat bagian dalamnya secara langsung tetap membuatnya terpukau.

“Ini…”

Ia mendekatkan wajah.

“Semua itu ada di dalam?”

Rin mengangguk.

“Sebagian.”

“Sebagian?”

“Bagian lain ada di rongga dada, tengkuk, panggul, dan kedua lengan.”

Ren menggeleng pelan.

“Gila.”

Rin tidak menjawab.

Jari-jarinya mulai bekerja.

Ia menggunakan alat presisi untuk membuka satu sambungan.

Lihat selengkapnya