Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #14

Bantal Pertama yang Melayang

Pukul delapan malam.

Ruang keluarga kembali menjadi pusat keributan.

Televisi menyala di sudut ruangan, menampilkan acara kuis malam yang sesekali mengeluarkan suara tawa dari penonton. Lampu utama sengaja dibiarkan redup, menyisakan suasana hangat yang membuat sofa terasa lebih nyaman daripada seharusnya.

Ren duduk santai dengan kedua kaki terjulur.

Di sebelahnya terdapat mangkuk kecil berisi camilan.

Di sisi lain sofa, Ai-Mouto duduk dengan punggung tegak seperti biasa. Ia baru saja selesai membereskan beberapa benda di ruang keluarga dan sekarang sedang membaca sebuah artikel pada tablet.

Rin duduk di karpet beberapa meter dari mereka.

Laptop terbuka di depannya.

Ia seolah sedang bekerja.

Seolah.

Karena selama lima belas menit terakhir, tidak ada satu pun baris pada layar yang benar-benar dibaca.

Alasannya duduk di ruang keluarga sebenarnya sederhana.

Ia ingin memastikan kondisi Ai-Mouto setelah perawatan semalam.

Setidaknya itu alasan yang ia berikan kepada dirinya sendiri.

Namun kenyataannya, sejak tadi ia hanya mendengar suara Ren.

Dan suara Ai-Mouto.

“Ngomong-ngomong, Ai.”

“Ya, Onii-chan?”

Ren mengangkat mangkuk camilan.

“Biskuitnya tinggal dua.”

Ai-Mouto menoleh.

“Saya akan mengambilkan.”

“Tidak usah.”

Ren mengangkat tangan.

“Cuma ngomong.”

Ai-Mouto kembali pada tabletnya.

Ren memandangnya beberapa detik.

Kemudian melirik Rin.

“Lihat.”

Rin tidak mengangkat kepala.

“Apa?”

“Dia jawab baik-baik.”

“Memang tugasnya begitu.”

Ren menyandarkan tubuh.

“Kalau aku ngomong begitu ke kamu?”

Rin tetap mengetik.

“Aku akan bilang ambil sendiri.”

“Nah.”

Ren tertawa.

“Persis.”

Rin berhenti mengetik.

“Persis apa?”

“Perbedaannya.”

“Apa lagi sekarang?”

Ren menunjuk Ai-Mouto.

“Kalau aku minta bantuan, dia bilang baik.”

Kemudian menunjuk Rin.

“Kalau aku minta bantuan dari kamu, aku dapat kuliah tiga menit tentang kenapa aku harus bisa mengurus diriku sendiri.”

Rin mengangkat mata.

“Karena memang begitu.”

Ren tersenyum puas.

“Lihat?”

“Apa?”

“Galak.”

Rin mengerutkan dahi.

“Aniki.”

“Hm?”

“Kalau kamu tidak punya kebutuhan mendesak, diam saja.”

Ren tertawa.

“Ini lagi. Bandingkan.”

Ia menoleh pada Ai-Mouto.

“Kalau kamu disuruh melakukan sesuatu yang menyebalkan, kamu marah?”

Ai-Mouto menggeleng.

“Saya dapat menyampaikan ketidaknyamanan, tetapi itu tidak selalu berarti marah.”

“Kalau aku menyebutmu menyebalkan?”

“Saya dapat mengevaluasi alasan Onii-chan mengatakan demikian.”

Ren menoleh pada Rin lagi.

“Kalau aku bilang kamu menyebalkan?”

Rin menutup laptop.

“Silakan coba.”

Nada suaranya begitu datar sampai Ren langsung tertawa.

“Tidak. Tidak jadi.”

“Kenapa?”

“Karena aku masih ingin hidup.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Apakah risiko tersebut tinggi?”

“Cukup.”

Rin mendengus.

Ren tampak semakin menikmati dirinya sendiri.

Beberapa hari terakhir, ia mulai menemukan satu kesenangan baru.

Membandingkan Rin dan Ai-Mouto.

Bukan karena ia benar-benar ingin meremehkan adiknya.

Justru karena perbedaan mereka terlalu lucu untuk tidak diperhatikan.

Ai-Mouto selalu tenang.

Rin selalu mudah tersulut.

Ai-Mouto akan bertanya dengan lembut.

Rin akan langsung menyimpulkan bahwa Ren sedang mencari masalah.

Ai-Mouto akan membantu.

Rin akan membantu juga—

hanya saja setelah mengomel panjang.

Dan bagi Ren, kombinasi itu terlalu menarik.

“Coba lagi.”

Rin menyipitkan mata.

“Apa?”

Ren menunjuk cangkir tehnya.

“Ulangi waktu aku minta teh tadi pagi.”

Rin langsung menjawab,

“Ambil sendiri. Tanganmu masih berfungsi.”

Ren mengangguk.

“Nah.”

Ia kemudian menoleh kepada Ai-Mouto.

“Ai.”

“Ya?”

“Kalau aku minta teh?”

“Baik.”

“Nah.”

Ren menatap Rin dengan wajah penuh kemenangan.

“Bedanya jauh.”

Rin menatapnya.

“Seharusnya kamu bersyukur tanganmu masih berfungsi.”

Ren tertawa lebih keras.

“Aku suka jawaban itu.”

“Bagus.”

Rin kembali membuka laptop.

Ren belum selesai.

“Kalau aku sakit?”

Ai-Mouto langsung menjawab,

“Saya akan membantu sesuai kebutuhan.”

Rin menyela,

“Bawa ke dokter kalau parah.”

Ren menoleh.

“Dan kamu?”

“Aku akan memastikan kamu minum obat sesuai jadwal.”

Ren berkedip.

“Jadi sebenarnya kamu juga perhatian.”

Rin terdiam.

Kemudian kembali menatap layar.

“Jangan salah mengartikan kewajiban.”

Ren menyeringai.

“Wah.”

Ai-Mouto menatap Rin.

“Rin peduli kepada Onii-chan.”

Rin langsung menjawab,

“Tidak perlu mengatakannya seperti pengumuman.”

“Baik.”

Ren menahan tawa.

“Bahkan dia yang menyimpulkan sendiri.”

Rin menatap kakaknya.

“Kamu senang sekali, ya?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Karena lucu.”

“Apa yang lucu?”

“Kamu.”

Rin mendengus.

“Aku tidak merasa lucu.”

“Justru itu.”

Ren kembali bersandar.

“Kalau kamu ngomel, kamu kelihatan seperti anak kecil.”

Rin menatapnya.

“Aniki.”

“Hm?”

“Aku peringatkan sekali.”

Ren tersenyum.

“Apa?”

“Jangan lanjut.”

“Kalau aku lanjut?”

Rin menunjuk bantal sofa yang berada di samping Ren.

Ren langsung menangkap arah pandang itu.

Ia tertawa.

“Ancaman?”

“Peringatan.”

“Seberapa serius?”

“Cukup.”

Ren mengambil bantal tersebut sebelum Rin sempat meraihnya.

Ia memeluknya sambil tertawa.

“Ini?”

“Ya.”

“Bantal.”

“Ren.”

Nada Rin berubah.

Ren tahu.

Itu adalah peringatan terakhir.

Tetapi justru karena itulah ia tidak bisa menahan diri.

“Kalau aku bilang Ai-Mouto jauh lebih ramah darimu?”

Rin diam.

“Kalau aku bilang…”

Ren mengangkat bantal sedikit.

“…dia juga lebih sabar?”

Rin menatapnya.

Ren tersenyum lebar.

“Dan lebih pintar.”

Hening.

Ai-Mouto mengangkat wajah dari tabletnya.

Rin berdiri.

Ren masih tertawa.

“Lebih berguna.”

Lihat selengkapnya