Pukul 05.00 pagi.
Rumah masih tenggelam dalam kesunyian.
Di luar, langit belum benar-benar terang. Warna hitam malam perlahan berubah menjadi biru gelap di balik jendela dapur. Jalan perumahan di luar rumah masih kosong. Hanya ada suara samar mesin pendingin dan sesekali kendaraan yang lewat jauh di jalan utama.
Namun di dapur, seseorang sudah bekerja.
Rin berdiri di depan kompor dengan rambut yang diikat tinggi.
Ia mengenakan celemek merah bermotif kucing.
Celemek lama yang pernah hampir menjadi penyebab perang kecil antara dirinya dan Ai-Mouto.
Hari ini benda itu terasa berbeda.
Seolah-olah sedang dipakai sebagai seragam perang.
Di atas meja sudah tersedia tepung, telur, susu, mentega, gula, mangkuk pencampur, pengocok, dan beberapa bahan tambahan.
Rin menatap semuanya dengan ekspresi serius.
“Baik.”
Ia mengembuskan napas.
“Operasi dimulai.”
Di tangannya terdapat secarik kertas yang penuh dengan catatan.
Ia telah menyusun resep sejak malam sebelumnya.
Tidak ada bantuan sistem otomatis.
Tidak ada Ai-Mouto.
Tidak ada mesin yang mengatur suhu.
Tidak ada algoritma yang menghitung rasio bahan.
Hari ini semuanya harus dilakukan dengan tangannya sendiri.
Rin menoleh ke pintu dapur.
Ia sudah menguncinya dari dalam.
Bahkan tadi pagi ia memeriksa dua kali.
Kunci tambahan sudah terpasang.
Ai-Mouto tidak bisa masuk.
Bukan karena Rin membencinya.
Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Hanya saja, setelah berhari-hari melihat seluruh pekerjaan rumah diambil alih android itu, Rin merasa ada sesuatu yang perlahan hilang dari rumah.
Dapur adalah salah satunya.
Memasak adalah sesuatu yang dulu masih menjadi miliknya.
Sekarang bahkan sarapan pun bisa dibuat sempurna tanpa perlu tangannya bergerak.
Rin tidak suka perasaan itu.
Maka pagi ini ia memutuskan merebut kembali dapurnya.
Sendirian.
“Masakan manusia…”
Ia membaca catatannya.
“…harus punya rasa.”
Rin mengangguk mantap.
“Dan rasa itu tidak bisa dihitung cuma dari angka.”
Ia menuangkan tepung ke mangkuk.
Sedikit terlalu banyak.
Rin memperhatikan.
“Tidak apa-apa.”
Ia menambahkan telur.
Satu.
Kemudian susu.
Ia mengocok campuran tersebut.
Awalnya baik-baik saja.
Adonan terlihat cukup halus.
Rin mulai tersenyum.
“Lihat?”
Ia bergumam kepada dirinya sendiri.
“Tidak sulit.”
Ia menyalakan kompor.
Mentega dimasukkan ke wajan.
Sesuatu mulai berdesis.
Rin menuangkan adonan.
Lingkaran yang seharusnya terbentuk perlahan menyebar ke satu sisi.
Rin mengernyit.
“…”
Ia memiringkan wajan.
Adonan bergerak.
Terlalu jauh.
“Astaga.”
Ia cepat-cepat meratakan.
Hasilnya justru semakin tidak berbentuk.
Rin melihat wajan.
“Tidak masalah.”
Ia membalik pancake.
Terlambat.
Satu sisi sudah berubah warna menjadi cokelat tua.
“…”
Rin mendekat.
“Mungkin masih bisa.”
Ia menurunkan api.
“Sedikit saja.”
Beberapa menit kemudian, bau hangus mulai menyebar keluar dapur.
Pukul 05.20.
Ren yang masih setengah mengantuk membuka pintu kamar.
Ia sebenarnya tidak tahu kenapa ia terbangun.
Lalu hidungnya menangkap sesuatu.
“…”
Ren mengendus.
“Apa itu?”
Aroma makanan.
Namun di balik aroma makanan tersebut terdapat satu aroma lain yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Hangus.
Ren berjalan keluar kamar.
Ia turun beberapa anak tangga.
Semakin mendekat, semakin jelas.
“Jangan bilang…”
Di lantai bawah, Ai-Mouto sudah berdiri di depan dapur.
Ia memegang nampan kecil dengan kedua tangan.
Pintu dapur tertutup.
Dan terkunci.
Ren berdiri di sampingnya.
“Rin?”
Ai-Mouto menoleh.
“Rin berada di dalam.”
“Sejak kapan?”
“Sejak pukul 05.00.”
Ren melihat jam.
05.23.
“Lima pagi?”
“Benar.”
“Kenapa?”
“Rin mengatakan area dapur adalah zona terlarang.”
Ren menggaruk kepala.
“Aneh.”
Dari balik pintu terdengar suara.
Tang!
Tang!
Lalu suara wajan diseret.
Ren menatap Ai-Mouto.
“Kamu dengar?”
“Ya.”
Tang!
Kemudian suara lain.
“Aduh!”
Ren langsung menegang.
“Itu suara Rin.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Kemungkinan.”
Ren mengetuk pintu.
“Rin?”
Tidak ada jawaban.
“Rin!”
“Jangan ganggu!”
Suara Rin terdengar dari dalam.
Ren menghela napas lega.
“Setidaknya masih hidup.”
Ai-Mouto menatap pintu.
“Apakah Onii-chan ingin saya membuka kunci?”
“Bisa?”
“Ya.”
“Jangan.”
Ren langsung menggeleng.
“Kalau dia sengaja mengunci diri, pasti ada alasan.”
Dari dalam terdengar suara benda jatuh.
Brak!
Ren menatap pintu lagi.
“Meski aku merasa alasannya mungkin buruk.”
Ai-Mouto memproses suara itu.
“Risiko kecelakaan domestik meningkat.”
“Aku tahu.”
Ren mengetuk lagi.
“Rin, jangan main api!”
“Aku tidak main api!”
“Baunya kayak rumah kebakar!”
“Itu cuma mentega!”
Ren menutup wajah.
“Ya.”
Ia menoleh kepada Ai-Mouto.
“Kenapa rasanya aku sedang menunggu bom meledak?”
Ai-Mouto menjawab tenang.
“Secara statistik, kemungkinan terjadinya kebakaran kecil.”
Ren langsung memandangnya.