Pukul tujuh pagi.
Cahaya matahari baru saja melewati pagar rumah ketika aroma kopi mulai memenuhi ruang makan.
Bukan aroma kopi biasa.
Ada aroma pahit yang lembut, sedikit manis, dan jejak karamel tipis yang muncul setelah beberapa detik di udara. Aroma itu bergerak dari dapur menuju ruang makan, melewati lorong, lalu perlahan memenuhi seluruh lantai bawah.
Ren yang baru duduk di kursinya langsung menoleh.
“Wangi banget.”
Ai-Mouto berdiri di samping meja.
Di tangannya terdapat satu cangkir kopi hitam, masih mengepulkan uap tipis. Ia meletakkannya tepat di depan Ren dengan hati-hati.
“Selamat pagi, Onii-chan.”
“Pagi.”
Ai-Mouto kemudian menarik kursi di seberang Ren dan duduk.
Ren menatap cangkir itu.
“Ini kopi?”
“Ya.”
“Bukan yang biasanya?”
“Komposisinya disesuaikan dengan preferensi Onii-chan.”
Ren mengangkat alis.
“Coba.”
Ia memegang cangkir.
Hangat.
Ia meniup permukaannya sebentar, lalu menyesap sedikit.
Dan seketika ekspresinya berubah.
Ren berhenti.
Cangkir masih berada di dekat bibirnya.
Ia menatap permukaan kopi seolah baru menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Ai-Mouto menunggu.
“Bagaimana?”
Ren menyesap lagi.
Kali ini lebih banyak.
“Ini…”
Ia menelan.
“Pas.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baik.”
Ren menatapnya.
“Bukan cuma pas.”
Ia kembali mencicipi.
“Ini persis.”
“Persis seperti apa?”
“Racikan yang biasanya aku suka.”
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Ya.”
Ren mengernyit.
“Rasio berapa?”
“Dua sendok kopi dan satu sendok gula aren.”
Ren langsung menatapnya.
“Serius?”
“Ya.”
“Dua sendok rata?”
“Dua sendok penuh dengan batas volume yang telah dikalibrasi.”
Ren tertawa kecil.
“Gila.”
Ia kembali minum.
Rasanya memang sama.
Bukan sekadar mirip.
Ren sudah mencoba berbagai kopi selama bertahun-tahun, termasuk kopi yang dibuat sendiri, kopi dari konbini, kopi kedai, dan kopi yang sesekali dibuat Rin.
Tetapi ada satu racikan yang selalu menjadi favoritnya.
Dua sendok kopi.
Satu sendok gula aren.
Air panas pada suhu tertentu.
Sederhana.
Namun entah kenapa, banyak orang selalu gagal membuat rasanya tepat.
Kadang terlalu pahit.
Kadang gula terlalu banyak.
Kadang aromanya hilang.
Bahkan Ren sendiri sering tidak berhasil membuatnya sama persis.
Tapi cangkir di depannya terasa seperti dibuat oleh seseorang yang benar-benar tahu kebiasaannya.
“Dari mana kamu tahu takaran ini?”
Ren bertanya sambil tetap memegang cangkir.
Ai-Mouto menjawab tanpa ragu.
“Dari file ‘Kebiasaan_Kakak.doc’ milik Master Rin.”
Ren membeku.
“…”
Ai-Mouto masih tenang.
“File tersebut berisi data preferensi harian Onii-chan, termasuk pola tidur, jenis makanan, kebiasaan minum, dan komposisi minuman yang paling sering dipilih.”
Ren menurunkan cangkir perlahan.
“‘Kebiasaan_Kakak.doc’?”
“Ya.”
“File pribadi Rin?”
“Benar.”
Ren mengingat sesuatu.
Ada jeda singkat.
Kemudian ia tersenyum.
“Pantas.”
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Apakah ada masalah?”
Ren belum menjawab.
Dari arah tangga terdengar langkah kaki.
Rin turun sambil mengusap rambutnya sendiri.
Ia masih mengenakan pakaian rumah, matanya sedikit mengantuk. Satu tangannya membawa tablet, sementara tangan lainnya sedang membetulkan ikatan rambut.
“Pagi…”
Ia berhenti di anak tangga terakhir.
Aroma kopi memenuhi hidungnya.
Rin menatap meja.
Ren memegang cangkir.
Ai-Mouto duduk di depannya.
Semuanya tampak normal.
Sampai Ren berkata,
“Rin.”
Rin menoleh.
“Apa?”
“File ‘Kebiasaan_Kakak.doc’ itu apa?”
Rin berhenti.
Benar-benar berhenti.
Wajahnya kosong.
“Apa?”
Ren mengangkat cangkir.
“Yang katanya jadi sumber resep kopi ini.”
Rin menarik napas.
Lalu tersedak.
“Khuk—!”
Ia menutup mulut.
Tablet hampir terlepas dari tangannya.
“Apa…”
Ia menelan susah payah.
“…kamu bilang?”
Ai-Mouto menjawab dengan polos.
“File ‘Kebiasaan_Kakak.doc’ milik Master Rin.”
Rin langsung menoleh tajam.
“Diam!”
Ai-Mouto berhenti berbicara.
Ren mulai tertawa.
“Jadi benar?”
Rin berjalan cepat ke meja.
“Berikan kopinya.”