Hari Minggu pukul satu siang seharusnya menjadi waktu paling tenang dalam seminggu.
Tidak ada jadwal sekolah.
Tidak ada alarm.
Tidak ada kewajiban untuk bangun pagi.
Dan, yang paling penting, Ren sudah berencana menghabiskan sebagian besar siangnya di ruang keluarga sambil bermain gim.
Rencananya bahkan cukup sederhana.
Makan siang.
Main.
Tidur sebentar.
Bangun.
Main lagi.
Tidak ada yang akan mengganggu.
Setidaknya sampai bel rumah berbunyi.
Ting tong.
Ren yang sedang duduk di sofa langsung mengangkat kepala.
“Siapa?”
Di sisi lain ruang keluarga, Ai-Mouto yang sedang membaca buku digital ikut menoleh.
“Tidak ada jadwal kunjungan untuk hari ini.”
Ren mengangguk.
“Makanya aneh.”
Ting tong.
Kali ini lebih lama.
Ren bangkit dari sofa dengan malas.
Ia berjalan menuju genkan sambil merapikan kausnya.
Bel berbunyi untuk ketiga kalinya.
“Datang, datang.”
Begitu pintu dibuka, Ren langsung membeku.
Seorang pemuda berdiri di depan rumah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Tas selempang menggantung di bahu.
Dan di kedua tangannya terdapat sebuah kotak besar dengan gambar konsol gim terbaru.
Kenji.
Teman sekelas Ren.
“Yo!”
Kenji tersenyum lebar.
“Aku berhasil beli!”
Ren menatap kotak yang dibawanya.
“…”
“Ren?”
“Kenapa kamu di sini?”
Kenji mengangkat kotak tersebut.
“Main!”
“Di rumahmu?”
“Adikmu selalu ganggu kalau aku main di rumah.”
Ren menghela napas.
“Kenapa harus rumahku?”
“Karena kau tinggal jauh lebih dekat.”
“Itu alasan yang buruk.”
“Alasan yang penting.”
Kenji langsung melangkah masuk tanpa menunggu izin lebih lanjut.
Ren refleks memegang bahunya.
“Tunggu.”
Kenji menoleh.
“Apa?”
Ren menatap ke dalam rumah.
Ai-Mouto masih berada di ruang keluarga.
Dan Rin entah sedang di lantai mana.
Tidak.
Ini gawat.
Sangat gawat.
Bukan karena Ren tidak ingin Kenji datang.
Masalahnya adalah Kenji tidak tahu bahwa rumah Ren sekarang memiliki satu penghuni tambahan yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Masyarakat umum belum mengetahui bahwa teknologi android gynoid dengan tubuh sintetis sedetail Ai-Mouto benar-benar ada.
Kalau seseorang melihatnya, pertanyaan yang muncul tidak akan berhenti pada, “Robot apa itu?”
Mungkin akan ada foto.
Video.
Media sosial.
Dan dalam beberapa hari, rumah mereka bisa saja dipenuhi orang.
Ren menoleh cepat ke ruang keluarga.
Ai-Mouto sudah berdiri.
“Kenji datang?”
Ren mengangkat satu jari ke bibir.
“Jangan.”
Ai-Mouto berkedip.
“Apakah saya perlu menyembunyikan identitas?”
“Ya.”
“Baik.”
Ai-Mouto berdiri diam selama satu detik.
Kemudian bertanya,
“Tempat persembunyian?”
Ren memutar mata.
“Lemari.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baik.”
Ia berjalan ke lemari kayu besar di sudut ruang tamu.
Ren membuka pintunya.
“Masuk dulu.”
Ai-Mouto masuk dengan patuh.
Ren menutup pintu.
Kemudian ia menoleh ke arah Kenji.
Temannya sudah masuk ke ruang keluarga sambil membawa konsol.
“Kenapa lama?”
“Tidak.”
Kenji meletakkan kotaknya di atas meja.
“Ayo buka.”
Ren menarik napas.
“Bisa nggak kamu tunggu sebentar?”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Ren menutup pintu lemari rapat.
Ia baru hendak duduk ketika terdengar suara dari dapur.
“Ren?”
Ren menegang.
Rin muncul dari arah dapur sambil memegang gelas air.
Rambutnya diikat sederhana.
Ia mengenakan pakaian rumah.
Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa seorang tamu sedang berdiri di ruang keluarga.
Begitu melihat Kenji, Rin berhenti.
Kenji juga berhenti.
“Oh.”
Rin mengangkat alis.
“Ada orang?”
Ren tersenyum canggung.
“Temanku.”
Kenji segera berdiri.
“Halo!”
Rin menatapnya.
“Kenji.”
“Wah, kamu ingat namaku.”
“Karena kamu satu kelas dengan Aniki.”
Kenji tertawa.
“Benar.”
Rin berjalan masuk sambil membawa gelas.
Ia duduk di kursi dekat meja makan.
Kenji memperhatikan.
“Rumah kalian masih sama.”
“Ya.”
“Bagus.”
Rin meminum air.
Ren menghela napas lega.
Untuk sementara semuanya masih aman.
Selama Ai-Mouto tetap berada di dalam lemari.
Kenji membuka kotak konsol.
“Aku beli yang baru.”
“Bagus.”
“Main sekarang?”
“Nanti.”
“Kenapa?”
“Sudah lama aku nggak ngobrol sama Rin.”
Kenji menatap Rin.
“Rin, ikut main juga.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Tidak tertarik.”
Kenji tertawa.
“Ya ampun, konsisten sekali.”
Rin mendengus.
Ren hampir tersenyum.
Setidaknya situasi kembali normal.
Sampai terdengar suara kecil.
Klik.
Ren menoleh.
Lemari.
Bukan.
Tidak mungkin.
Ai-Mouto seharusnya diam.
Ia punya sensor suhu.
Dan—
Ren mendengar sesuatu dari dalam.
“Panas.”
Wajah Ren langsung berubah.
“Aduh.”
Kenji menoleh.
“Apa?”
“Tidak.”
Ren berdiri.
Ia berjalan mendekati lemari.
“Rin.”
“Hm?”
“Bisa…”
Ren menunjuk lemari.
Namun belum sempat mengatakan apa pun, pintunya terbuka.
Perlahan.
Ai-Mouto keluar.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya tenang.
Ia menatap Ren.
Kemudian Rin.
Kemudian Kenji.
“Ruang di dalam lemari memiliki suhu yang terlalu tinggi.”
Sunyi.
Tidak ada satu pun orang bergerak.
Kenji menatap Ai-Mouto.
Kemudian menatap Rin.
Kemudian kembali melihat Ai-Mouto.
Wajahnya perlahan berubah kosong.
“…”
Ren menahan napas.
Rin membeku sambil memegang gelas.