Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #18

Drama Belanja Supermarket

Pukul empat sore.

Supermarket lokal di dekat kawasan perumahan mereka sedang ramai.

Bukan hanya karena hari Minggu, tetapi juga karena awal bulan membuat banyak keluarga memenuhi lorong-lorong untuk membeli kebutuhan rumah selama beberapa minggu ke depan. Troli berderet di dekat pintu masuk, keranjang belanja hampir selalu terisi, dan suara pengumuman promosi sesekali terdengar dari pengeras suara di langit-langit.

Ren berdiri di depan pintu otomatis sambil memegang pegangan troli.

Di sebelah kirinya berdiri Rin.

Di sebelah kanannya Ai-Mouto.

Ren melihat keduanya.

Kemudian melihat troli.

Kemudian kembali melihat keduanya.

“Kenapa rasanya ini keputusan buruk?”

Rin menjawab tanpa menoleh.

“Karena kamu berpikir terlalu banyak.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Saya juga menilai keputusan ini efisien.”

Ren menatap mereka.

“Kalian sudah sepakat dalam lima detik.”

“Kami bukan anak kecil,” kata Rin.

“Aku tahu.”

Ren mendorong troli.

“Aku cuma belum pernah belanja bulanan dengan dua orang yang wajahnya sama.”

Rin mendengus.

“Jangan lihat aneh-aneh.”

“Aku tidak.”

“Kamu jelas melihat.”

Ren menghela napas.

Mereka mulai masuk.

Beberapa pengunjung langsung melirik.

Tidak heran.

Rin dan Ai-Mouto memang memiliki kemiripan yang terlalu sempurna untuk diabaikan.

Dua gadis dengan wajah yang nyaris identik.

Rambut hampir sama.

Tinggi badan hampir sama.

Satu-satunya perbedaan yang cukup jelas hanyalah cara mereka membawa diri.

Rin berjalan dengan tangan terlipat dan ekspresi seolah seluruh supermarket adalah wilayah yang harus ia toleransi.

Ai-Mouto berjalan tenang, sesekali memperhatikan lingkungan sekitar dengan mata yang bergerak sedikit lebih cepat daripada manusia biasa.

Ren berada di tengah.

Seperti kakak yang entah bagaimana ditugaskan mengurus dua versi adiknya sekaligus.

Seorang ibu yang sedang memasukkan susu ke dalam troli sempat menoleh sekali.

Dua kali.

Kemudian berbisik kepada anaknya.

Ren pura-pura tidak melihat.

“Mulai sekarang kita berpencar saja.”

Rin langsung menjawab,

“Tidak.”

Ai-Mouto juga menjawab,

“Tidak disarankan.”

Ren mengernyit.

“Kenapa?”

“Keramaian cukup tinggi,” kata Ai-Mouto.

“Dan?”

“Risiko terpisah meningkat.”

Rin menyela,

“Makanya tetap dekat.”

Ren menghela napas.

“Baik.”

Mereka memasuki lorong pertama.

Bagian kebutuhan pokok.

Beras.

Minyak.

Tepung.

Bumbu.

Ren memasukkan satu per satu barang ke troli.

Ai-Mouto membaca daftar belanja dari tablet kecil yang dibawanya.

“Beras lima kilogram.”

Ren memasukkan satu karung.

“Sudah.”

“Minyak dua botol.”

“Sudah.”

“Gula satu.”

“Sudah.”

Rin memperhatikan troli.

“Jangan ambil merek yang kemarin.”

Ren berhenti.

“Kenapa?”

“Rasanya beda.”

“Beda tipis.”

“Beda.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Rin benar. Kandungan pada produk tersebut memiliki perbedaan.”

Ren menatap keduanya.

“Kalian bahkan kompak soal gula.”

Rin mengambil satu bungkus dari rak.

“Yang ini.”

Ren menerimanya.

“Baik.”

Mereka lanjut.

Semakin masuk ke dalam, kerumunan semakin padat.

Kereta belanja saling bersilang.

Anak-anak berlari-lari kecil.

Papan promosi berdiri di beberapa titik, mempersempit jalur.

Ren mendorong troli sedikit lebih pelan.

“Jangan jauh-jauh.”

Ai-Mouto mengangguk.

Rin juga.

Beberapa menit kemudian, seorang pengunjung berhenti mendadak di depan rak.

Ren harus mengerem troli.

Ai-Mouto yang berjalan di sisi kanan sempat terpisah setengah meter.

Ia segera mendekat lagi.

Tangannya bergerak tanpa sadar.

Jari-jarinya mencubit ujung kaus Ren.

Ren menoleh.

“Hm?”

Ai-Mouto memegang sedikit bagian belakang kausnya.

“Keramaian meningkat.”

Ren tersenyum.

“Takut hilang?”

“Bukan takut.”

Ai-Mouto menjawab tenang.

“Ini metode paling sederhana untuk mempertahankan posisi terhadap Onii-chan.”

“Ya sudah.”

Ren kembali mendorong troli.

Namun Rin memperhatikan.

Matanya turun ke tangan Ai-Mouto.

Kemudian ke ujung kaus Ren.

Rin diam.

Satu detik.

Dua detik.

Ia menatap sisi kiri Ren.

Masih kosong.

Rin berjalan sedikit lebih dekat.

Kemudian tangannya meraih ujung kaus Ren yang sebelah lagi.

Ren langsung berhenti.

Ia menatap kanan.

Ai-Mouto memegang bajunya.

Menatap kiri.

Rin juga.

Ren melihat keduanya.

“…”

Rin pura-pura melihat rak.

Lihat selengkapnya