Pukul 17.30.
Setelah hampir satu setengah jam berkeliling supermarket, membawa bahan makanan bulanan, dan berdebat soal apel yang lebih segar atau lebih besar, Ren akhirnya mendorong troli menuju area pertokoan di sebelah supermarket.
Di antara toko pakaian dan konbini terdapat sebuah game center tiga lantai yang papan namanya menyala terang meskipun matahari sore masih belum sepenuhnya tenggelam.
Begitu pintu otomatis terbuka, suara mesin permainan langsung menyambut mereka.
Musik dari permainan ritme bercampur dengan bunyi koin, suara kemenangan elektronik, dan sesekali teriakan seseorang yang baru saja kalah.
Ren mengangkat kepala.
“Wah.”
Rin langsung tahu maksud ekspresinya.
“Jangan.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu sudah bilang.”
Ren tersenyum.
“Cuma lihat sebentar.”
“Kita masih harus membawa belanjaan pulang.”
“Lima belas menit.”
“Sepuluh.”
“Dua puluh.”
“Tidak.”
“Lima belas.”
Rin menghela napas.
“Lima belas.”
Ren mengangkat tangan.
“Deal.”
Ai-Mouto yang berdiri di sebelah mereka menatap sekeliling.
Mata elektroniknya bergerak cepat.
Puluhan mesin.
Ratusan warna.
Banyak suara.
Banyak orang.
Banyak objek bergerak.
Semua masuk ke dalam sistem pengamatannya.
Namun kemudian satu benda membuat pandangannya berhenti.
Ia tidak bergerak selama beberapa detik.
Ren mengikuti arah pandangnya.
“Kenapa?”
Ai-Mouto menunjuk ke sebuah mesin capit di sisi kanan.
“Objek tersebut menarik perhatian saya.”
Rin mendekat.
Ren juga.
Di dalam mesin terdapat berbagai macam boneka.
Ada kelinci putih.
Beruang cokelat.
Katak hijau.
Anjing kecil.
Namun di sudut paling belakang terdapat sebuah boneka kucing hitam.
Tubuhnya bulat.
Telinganya kecil.
Matanya berupa dua kancing kuning.
Lehernya dihiasi pita merah.
Ai-Mouto terus memandangnya.
Ren tersenyum.
“Kamu suka yang itu?”
Ai-Mouto mengangguk.
“Bentuknya sesuai preferensi visual saya.”
Rin mengangkat alis.
“Program bawaan?”
“Ya.”
Ren menatap boneka itu.
“Lumayan lucu.”
Ai-Mouto menatapnya.
“Apakah saya boleh memilikinya?”
Ren terdiam.
Kalimat itu terdengar sangat sederhana.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada rengekan.
Hanya pertanyaan lurus.
Ren melihat Rin.
Kemudian kembali ke mesin capit.
“Boleh.”
Rin segera mengingatkan,
“Jangan mulai membuang uang.”
Ren sudah memasukkan koin pertama.
“Lima percobaan.”
Rin menghela napas.
“Lima?”
“Kalau dapat cepat, selesai.”
Ai-Mouto berdiri di belakang Ren.
Matanya mengikuti gerakan capit.
Ren mengarahkan joystick.
Kiri.
Sedikit maju.
Turun.
Capit menjepit boneka kucing.
Boneka itu terangkat sekitar tiga sentimeter.
Kemudian lepas.
Ren mengerutkan dahi.
“Kurang.”
Rin melipat tangan.
“Terlalu tengah.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa salah?”
Ren menoleh.
“Diam.”
Percobaan kedua.
Ren menggeser mesin sedikit.
Capit turun.
Mengenai telinga boneka.
Mengangkat sedikit.
Lepas.
Gagal lagi.
Percobaan ketiga.
Ren mencoba menjepit bagian tubuh.
Hasilnya sama.
Percobaan keempat.
Boneka bergerak lebih dekat ke lubang keluaran.
Ren mulai tersenyum.
“Nah.”
Ia menekan tombol.
Capit turun.
Boneka terangkat.
Ren menahan napas.
Kemudian tali pengait di mesin bergeser.
Boneka jatuh kembali.
“Aduh.”
Rin langsung mendengus.
“Sudah kubilang.”
“Belum selesai.”
Percobaan kelima.
Ren mengatur posisi lebih hati-hati.
Ia memperhatikan sudut capit.
Menggeser joystick sedikit.
Ai-Mouto menonton dengan mata berbinar.
“Posisi kali ini lebih baik.”
Ren mengangguk.
“Terima kasih atas dukungan moralnya.”
Ia menekan tombol.
Capit turun.
Mencengkeram.
Boneka terangkat.
Ren hampir bersorak.
Kemudian capit membuka.
Boneka jatuh tepat di tempat semula.
Ren terdiam.
Lima koin habis.
Hasil nol.
Ai-Mouto tetap melihat mesin.
“Tidak apa-apa.”
Ren memegang dahi.
“Ini mesin jahat.”
Rin mendengus.
“Bukan mesinnya.”
Ren menoleh.
“Lalu?”
“Sudutmu.”
Rin berjalan mendekati mesin.
Ia melihat posisi boneka, jarak capit dari dinding mesin, dan jalur pengait menuju lubang keluaran.
Tatapannya berubah.
Sangat fokus.
Ren sudah mengenal ekspresi itu.
“Wah.”
Rin memandangnya.
“Kenapa?”
“Kamu mulai serius.”
“Karena ini fisika dasar.”
Ia mengambil beberapa koin dari dompetnya.
“Biarkan ahli fisika yang mengambil alih.”
Ren terkekeh.
“Sejak kapan kamu ahli fisika?”
“Sejak sebelum kamu belajar mengerjakan persamaan kuadrat.”
Rin berdiri di depan mesin.
Ai-Mouto maju sedikit.
“Apakah Rin akan mencoba?”
“Ya.”
“Terima kasih.”
Rin sedikit terdiam.