Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #20

Seseorang Lupa Mematikan Mikrofon

Pukul 23.30.

Rumah sudah benar-benar sunyi.

Lampu di ruang keluarga hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu lantai. Televisi telah dimatikan sejak beberapa puluh menit lalu. Dapur sudah bersih. Meja makan kosong. Hanya suara mesin pendingin dan dengung server dari basement yang sesekali terdengar samar melalui struktur rumah.

Di lantai dua, Rin sudah berada di kamarnya.

Laptopnya masih terbuka di meja.

Beberapa layar monitoring menampilkan data sensor Ai-Mouto, status server, suhu setiap ruangan, dan log sistem rumah.

Ia sebenarnya sudah mengantuk.

Matanya berat.

Kepalanya terasa penuh setelah seharian berpindah dari sekolah, belanja, game center, lalu kembali memeriksa beberapa bagian sistem Ai-Mouto sebelum malam.

Namun sebelum tidur, Rin memiliki satu kebiasaan yang belum berhasil ia hentikan.

Monitoring.

Salah satu panel di laptop menampilkan feed audio dari sistem interkom lokal.

Interkom itu pada awalnya dibuat untuk komunikasi jarak dekat antara laboratorium dan area rumah, tetapi Rin kemudian menghubungkannya ke mikrofon tersembunyi yang terintegrasi dalam sistem sensor Ai-Mouto.

Tidak selalu aktif.

Hanya saat diperlukan.

Malam itu, headset monitoring masih terpasang di telinganya.

Rin memeriksa satu panel terakhir.

Status rumah normal.

Suhu normal.

Ai-Mouto aktif.

Ren masih di ruang keluarga.

Rin menguap.

“Sudah.”

Ia menutup salah satu layar.

“Besok saja.”

Ia melepas kacamata.

Kemudian berbaring.

Namun headset itu masih terpasang.

Rin terlalu lelah untuk menyadarinya.

Beberapa menit kemudian, matanya mulai terpejam.

Di bawah, Ren memang masih belum tidur.

Bukan karena ada sesuatu yang penting.

Ia hanya sedang membantu Ai-Mouto melipat pakaian yang baru keluar dari mesin pengering.

Keranjang pakaian berada di tengah ruang keluarga.

Kaos.

Celana.

Handuk.

Seragam.

Semua menumpuk.

Ren duduk di lantai sambil melipat salah satu kausnya.

Ai-Mouto duduk di sisi lain keranjang.

Gerakannya sangat rapi.

Ia mengambil pakaian.

Melipat.

Menyusun.

Kemudian memindahkannya ke tumpukan yang sesuai.

Ren melirik tumpukannya.

“Kalau kamu begini, aku jadi malu.”

Ai-Mouto menoleh.

“Kenapa?”

“Lipatanmu terlalu bagus.”

“Saya hanya mengikuti pola.”

Ren tertawa kecil.

“Kertas juga punya pola, tapi kalau aku yang melipat hasilnya tetap jelek.”

Ai-Mouto tersenyum.

“Onii-chan tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Ren kembali melipat.

Beberapa menit berlalu.

Mereka bekerja dalam keheningan nyaman.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada suara Rin.

Ia mungkin sudah tidur.

Ren melihat ke arah tangga.

“Rin benar-benar sudah tidur?”

Ai-Mouto memproses data lingkungan.

“Lampu kamar Rin sudah dimatikan.”

“Berarti mungkin.”

“Namun saya tidak dapat memastikan kondisi kesadaran hanya dari lampu.”

Ren mengangguk.

“Ya.”

Ia meraih handuk.

Lalu berkata pelan,

“Jangan bangunin dia.”

“Saya tidak akan.”

Ren kembali melipat.

Ai-Mouto memperhatikan wajahnya.

Kemudian bertanya,

“Onii-chan.”

“Hm?”

“Boleh saya menanyakan sesuatu?”

Ren mengangkat kepala.

“Boleh.”

Ai-Mouto berhenti melipat.

“Apakah Onii-chan membenci Master Rin karena dia galak?”

Pertanyaan itu membuat tangan Ren berhenti.

Ia menatap Ai-Mouto.

Kemudian tertawa kecil.

“Mana mungkin.”

Ai-Mouto menunggu.

Ren meletakkan kaus yang sedang dipegangnya.

“Rin memang galak.”

Ia tersenyum.

“Kadang-kadang menyebalkan juga.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Namun?”

Ren mengambil pakaian berikutnya.

“Namun itu cuma gengsinya.”

Ai-Mouto menatapnya.

“Gengsi?”

“Ya.”

Ren melipat kaus perlahan.

“Dia sebenarnya orang yang sangat perhatian.”

Di lantai dua, mata Rin terbuka.

Ia belum benar-benar tidur.

Suara itu terdengar melalui headphone.

Awalnya samar.

Lalu semakin jelas.

Rin membeku.

Ia menatap langit-langit kamar.

“…”

Suara Ren.

Dari bawah.

Ia bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

Rin buru-buru duduk.

Lihat selengkapnya