Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #21

Demam Musim Panas dan Kompres Hangat

Pukul delapan pagi, rumah itu seharusnya sudah dipenuhi suara kegiatan.

Suara air dari kamar mandi.

Suara cangkir diletakkan di meja makan.

Suara kursi ditarik.

Dan, paling tidak, suara Rin yang mengomel karena Ren kembali duduk terlalu santai saat sarapan.

Namun pagi itu, salah satu suara tidak terdengar.

Rin belum turun.

Ren yang sudah duduk di meja makan memandang tangga sambil mengunyah roti.

“Dia belum bangun?”

Ai-Mouto yang sedang menuangkan teh menjawab dengan tenang.

“Tidak ada aktivitas dari kamar Rin sejak pukul 22.47.”

Ren menelan makanannya.

“Dua puluh dua empat puluh tujuh?”

“Ya.”

Ren menatap jam dinding.

08.03.

Ia mengerutkan dahi.

“Berarti dia masih tidur?”

“Belum tentu.”

Jawaban itu membuat Ren meletakkan rotinya.

“Apa maksudmu?”

“Pola aktivitas Rin semalam menunjukkan durasi penggunaan laboratorium yang lebih panjang dari biasanya.”

Ren langsung teringat beberapa malam terakhir.

Rin memang sering tidur larut.

Bahkan beberapa kali Ren mendengar pintu basement terbuka ketika dirinya sudah hendak tidur.

Ren menghela napas.

“Aku cek.”

Ia bangkit dari kursinya.

Ai-Mouto ikut berdiri.

“Saya ikut?”

“Tidak usah. Selesaikan saja sarapan.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Baik.”

Ren menaiki tangga.

Semakin mendekati lantai dua, rumah terasa semakin sunyi.

Ia berjalan menuju pintu kamar Rin.

Tidak ada suara.

Ren mengetuk.

Tok.

“Rin?”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Rin, bangun. Sarapan.”

Tetap tidak ada jawaban.

Ren mulai merasa tidak nyaman.

Biasanya, bahkan ketika Rin sedang tidur, ia akan tetap merespons dengan suara mengantuk atau menggerutu agar Ren pergi.

Pagi ini tidak ada apa-apa.

Ren membuka pintu perlahan.

“Rin?”

Tirai kamar masih tertutup.

Udara ruangan terasa hangat dan sedikit pengap.

Di atas meja terdapat laptop yang sudah mati, beberapa catatan teknis, dan headset monitoring yang tergeletak sembarangan.

Ren melihat tempat tidur.

Rin ada di sana.

Tubuhnya meringkuk di bawah selimut.

Rambutnya berantakan.

Pipinya kemerahan.

Dan tubuhnya gemetar kecil.

“Rin.”

Ren langsung mendekat.

Ia duduk di tepi kasur dan menyentuh dahi adiknya.

Panas.

Sangat panas.

“Ya ampun…”

Rin membuka mata sedikit.

“Aniki…?”

Suara itu serak dan lemah.

Ren langsung berdiri.

“Tunggu.”

Ia mengambil termometer dari laci meja.

Beberapa detik kemudian alat tersebut berbunyi.

Bip.

Ren melihat layar.

38,5°C.

Wajahnya langsung berubah cemas.

“Rin, kamu demam.”

Rin memejamkan mata lagi.

“Aku… tidak apa-apa.”

“Ini bukan nggak apa-apa.”

Ren membuka tirai sedikit agar cahaya pagi masuk.

“Kamu menggigil.”

“Aku cuma…”

Rin berhenti.

“…kedinginan.”

Ren mengambil selimut tambahan.

Ia menutup tubuh Rin dengan hati-hati.

“Kamu semalam tidur jam berapa?”

Rin tidak menjawab.

“Rin.”

“…tidak tahu.”

Ren menghela napas.

Ia tahu jawabannya sudah cukup.

“Makanya.”

Rin memejamkan mata.

“Jangan marah…”

Ren berhenti.

Nada suara itu sangat berbeda dari Rin yang biasanya.

Tidak ada nada defensif.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada usaha untuk membalikkan keadaan.

Hanya suara pelan seseorang yang benar-benar sedang tidak enak badan.

Ren merasa hatinya sedikit mencelos.

“Aku nggak marah.”

Ia duduk lagi.

“Aku khawatir.”

Rin membuka mata sedikit.

Tatapan mereka bertemu.

Kemudian Rin memalingkan wajah.

“Maaf.”

Ren langsung menggeleng.

“Tidak perlu minta maaf.”

Ia meraih kain kompres yang ada di dekat meja.

Setelah membasahinya dengan air yang cukup hangat dan memerasnya, Ren menaruhnya di dahi Rin.

Rin menghela napas kecil.

“Dingin…”

“Memang harus begitu.”

Ren duduk di samping tempat tidur.

“Diam dulu.”

Rin tidak membantah.

Beberapa menit berlalu.

Ren memeriksa suhu lagi.

Masih tinggi.

Ia mengganti kompres.

Membetulkan selimut.

Memberikan air minum sedikit demi sedikit ketika Rin meminta.

Pagi itu berjalan lambat.

Sangat lambat.

Setiap beberapa puluh menit Ren mengganti kompres yang mulai menghangat.

Ia memastikan kamar tidak terlalu panas.

Memeriksa napas Rin.

Mengatur tirai agar cahaya tidak terlalu menyilaukan.

Lihat selengkapnya