Pukul 01.00 dini hari.
Rumah itu benar-benar sunyi.
Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara pintu kamar yang dibuka atau ditutup.
Bahkan suara hujan yang beberapa hari terakhir cukup sering menemani malam mereka sudah berhenti.
Yang tersisa hanya dengung pelan mesin pendingin dan suara samar server rack dari basement.
Ren masih belum tidur.
Ia baru saja keluar dari dapur setelah mengambil segelas air ketika pandangannya tertuju pada satu titik di ujung koridor.
Pintu menuju basement sedikit terbuka.
Cahaya putih terlihat dari celahnya.
Ren mengerutkan dahi.
“Masih nyala?”
Ia tahu siapa yang biasanya lupa mematikan monitor.
Rin.
Adiknya memang sedang tidur.
Setelah demamnya cukup tinggi pagi tadi, Rin akhirnya meminum obat dan tertidur cukup lelap menjelang malam. Ren bahkan beberapa kali memeriksa suhu tubuhnya sebelum akhirnya sedikit tenang.
Pukul dua puluh tiga lebih sedikit, Rin sudah tidur.
Sekarang sudah lewat tengah malam.
Seharusnya laboratorium kosong.
Ren menaruh gelas di meja kecil dekat koridor.
Ia menatap pintu basement lagi.
“Kalau monitor dibiarkan semalaman, nanti dia sendiri yang marah karena boros listrik.”
Ren turun tangga.
Lampu kecil di sepanjang dinding menyala otomatis ketika ia melewati satu per satu anak tangga.
Semakin ke bawah, udara terasa lebih dingin.
Begitu sampai di pintu laboratorium, Ren mendorongnya perlahan.
Pintu terbuka.
Cahaya putih dari beberapa monitor langsung menyambut.
Ruangan itu berbeda ketika kosong.
Di siang hari, laboratorium Rin selalu terasa sibuk. Ada suara keyboard, dengung alat pendingin, langkah kaki, dan terkadang bunyi benda kecil jatuh dari meja karena Rin terlalu terburu-buru.
Malam ini, semua suara itu hilang.
Hanya server rack yang bekerja.
Lampu indikator berwarna hijau dan biru berkedip dalam pola teratur.
Beberapa monitor masih menyala.
Salah satunya menampilkan grafik suhu tubuh Ai-Mouto.
Satu lagi menampilkan status pemakaian daya.
Yang terakhir menampilkan jendela sistem dengan beberapa folder terbuka.
Ren berjalan mendekat.
“Yang ini…”
Ia mengusap layar mouse.
“Pantas kelihatan dari atas.”
Ia berniat menutup semuanya.
Tidak ada maksud lain.
Tidak ada keinginan untuk mengganggu pekerjaan Rin.
Ren bahkan sudah membayangkan komentar adiknya jika tahu dirinya menyentuh file laboratorium tanpa izin.
Jangan sentuh apa pun kalau tidak mengerti.
Mungkin itu yang akan dikatakannya.
Ren tersenyum sendiri.
Ia menggerakkan kursor ke pojok layar.
Namun sebelum mematikan monitor, matanya menangkap sebuah nama folder.
AI-MOUTO_PROJECT
Ren berhenti.
Ia tahu folder itu.
Tentu saja.
Hampir seluruh isi laboratorium berkaitan dengan proyek yang sama.
Namun ada satu subfolder di bawahnya yang belum pernah ia lihat.
Nama folder itu pendek.
LOG
Ren memandangnya beberapa saat.
Ia sebenarnya bisa langsung menutup layar.
Seharusnya begitu.
Namun entah kenapa tangannya tidak bergerak.
Mungkin karena rasa penasaran.
Mungkin karena setelah begitu lama hidup bersama Ai-Mouto, ia mulai ingin tahu dari mana semua itu sebenarnya dimulai.
Ren klik.
Daftar file muncul.
Sebagian memiliki nama teknis.
Nomor revisi.
Kode model.
Tanggal pengujian.
Beberapa nama berisi kombinasi huruf dan angka yang sama sekali tidak ia pahami.
Namun ada satu file yang namanya sangat berbeda.
Untuk_Kakak.log
Ren mengerutkan dahi.
“…”
Ia menatap nama itu lebih lama.
Untuk Kakak.
Ren merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Tidak ada nama teknis.
Tidak ada kode.
Tidak ada istilah ilmiah.
Hanya dua kata.
Ia menggerakkan kursor perlahan.
File tersebut memiliki ikon gembok kecil.
Terenkripsi.
Ren langsung berhenti.
“Seharusnya tidak dibuka.”
Itu keputusan yang paling benar.
Ia tahu.
Kalau Rin sengaja mengenkripsi file pribadi, berarti file itu bukan bagian dari data kerja biasa.
Mungkin catatan pribadi.
Mungkin sesuatu yang tidak ingin dilihat orang lain.
Ren hampir memindahkan kursor menjauh.
Namun sebuah notifikasi kecil muncul di layar.
Last modified: 1 year ago.
Ren terdiam.
Satu tahun lalu.
Itu berarti file ini dibuat jauh sebelum Ai-Mouto berdiri di ruang tamu mereka.
Jauh sebelum kotak kayu besar datang.
Sebelum sensor kulit.
Sebelum suara yang identik dengan Rin.
Sebelum semuanya.
Ren mengembuskan napas.
Ia berpikir sejenak.
Kemudian melihat sekeliling laboratorium yang kosong.
“Aku cuma lihat sebentar.”
Kalimat itu terdengar seperti pembenaran.
Namun ia tetap membuka file tersebut.
Sistem meminta autentikasi.
Ren sempat mengira file itu tidak akan bisa dibuka.
Namun ternyata sebagian isinya tersimpan dalam cache lokal yang tidak terkunci penuh.
Jendela teks terbuka.
Bukan laporan teknis.
Bukan skema.
Catatan pribadi.
Tulisan Rin.
Ren mengenali gaya kalimatnya bahkan sebelum membaca seluruhnya.
Pendek.
To the point.
Tetapi sesekali ada kalimat yang jauh lebih panjang ketika Rin menuliskan sesuatu yang benar-benar ia pikirkan.
Di bagian paling atas terdapat tanggal.
Satu tahun lalu.
Beberapa baris pertama hanya berisi catatan teknis.
Model pendamping rumah tangga: konsep awal.
Prioritas: domestic assistance.
Respons sosial: basic.
Voice matching: preliminary.
Ren membaca perlahan.
Ia mengerutkan dahi ketika menemukan beberapa catatan yang tidak ia pahami.
Kemudian semakin ke bawah, gaya tulisannya berubah.
Tidak lagi seperti catatan seorang peneliti.
Lebih seperti seseorang yang sedang bicara kepada dirinya sendiri.
Ren membaca.
Kakak selalu kelihatan lelah.
Jarinya berhenti di atas mouse.