Pukul 14.00 siang.
Matahari musim panas jatuh terang melalui jendela ruang keluarga, membuat lantai kayu memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Rumah sedang tenang. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara dari dapur. Bahkan laboratorium Rin di lantai bawah pun hanya terdengar sebagai dengung samar server yang bekerja.
Ren sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah ketika suara langkah kaki dari tangga terdengar.
Rin muncul.
Kedua tangannya membawa sebuah kardus besar.
Ren menurunkan majalah.
“Apaan itu?”
“Baju.”
Rin berjalan melewati ruang keluarga tanpa menjawab lebih lanjut.
Kardus itu diletakkan tepat di depan Ai-Mouto yang sedang duduk di karpet.
Bruk.
Ai-Mouto menatap kardus tersebut.
Kemudian menatap Rin.
“Untuk saya?”
“Ya.”
Rin menjawab cepat, lalu melipat kedua tangan.
“Baju-baju ini sudah sempit untukku. Pakai saja daripada memenuhi lemari.”
Ren mengangkat alis.
“Banyak amat yang kesempitan.”
“Memangnya kenapa?”
Rin membuang muka.
“Lemari penuh.”
Ren melihat kardus itu lagi.
Ukuran kardusnya cukup besar.
“Ini kelihatannya bukan baju yang sekadar mau dibuang.”
“Jangan ikut campur.”
Ren tersenyum.
“Baik.”
Ai-Mouto membuka kardus.
Di dalamnya terdapat beberapa pakaian yang masih terlihat sangat bagus.
Gaun.
Blus.
Rok.
Sweater tipis.
Beberapa pakaian santai untuk dipakai di rumah.
Semua telah dilipat rapi.
Tidak ada noda.
Tidak ada kain yang benar-benar rusak.
Bahkan beberapa terlihat seperti hanya pernah dipakai beberapa kali.
Ai-Mouto mengambil satu blus.
Kemudian sebuah rok.
Ia memperhatikan bahan, ukuran, dan pola.
“Semua dalam kondisi baik.”
Rin mengangkat bahu.
“Makanya kupindahkan.”
Ren menatap adiknya.
“Baju lama, katanya.”
“Memangnya salah?”
“Tidak.”
Ren tersenyum.
“Cuma kelihatannya kamu sudah memilihkan semuanya.”
Rin menatapnya.
“Aku cuma asal ambil.”
“Dari lemari?”
“Ya.”
“Yang paling rapi?”
“Ya.”
“Ukuran yang benar?”
Rin diam.
Ren terkekeh.
“Pasti.”
Rin mengambil salah satu pakaian dari kardus dan menyodorkannya kepada Ai-Mouto.
“Coba yang ini.”
Ai-Mouto menerimanya.
“Baik.”
Beberapa menit kemudian Ai-Mouto keluar dari kamar berganti pakaian.
Ia mengenakan gaun kasual putih dengan motif bunga kecil berwarna pucat. Potongannya sederhana, panjangnya sedikit di bawah lutut, dengan lengan pendek dan pita tipis di bagian pinggang.
Ren menoleh.
Kemudian berhenti membaca.
“Wah.”
Ai-Mouto berdiri di tengah ruang keluarga.
Rin juga menoleh.
Ren bangkit.
“Kelihatan cocok sekali denganmu, Ai-Mouto!”
Ai-Mouto tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Rin tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada gaun itu.
Lama.
Terlalu lama.
Ren memperhatikan.
“Apa?”
Rin memalingkan wajah.
“Tidak ada.”
Ai-Mouto menatap dirinya sendiri.
“Kainnya terasa ringan.”