Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #24

Siapa yang Sebenarnya Mengantuk?

Pukul 22.00.

Lampu ruang TV meredup perlahan.

Bukan karena ada yang menekan sakelar.

Sistem rumah pintar buatan Rin bekerja otomatis setiap malam pada jam tertentu, menyesuaikan tingkat pencahayaan dengan aktivitas penghuni rumah. Cahaya utama mengecil, menyisakan lampu dinding berwarna hangat dan pantulan lembut dari layar televisi.

Suasana ruang keluarga berubah menjadi jauh lebih nyaman.

Terlalu nyaman, mungkin.

Ren duduk di tengah sofa panjang.

Di sisi kirinya, Ai-Mouto duduk dengan kedua tangan terlipat rapi di pangkuan.

Di sisi kanannya, Rin duduk sambil memegang mangkuk kecil berisi camilan.

Ketiganya sedang menonton sebuah film komedi-animasi.

Di layar, seekor karakter kucing berbadan bulat sedang berusaha mencuri kue dari meja makan, tetapi malah jatuh ke dalam ember air.

Ren tertawa.

“Ini bodoh sekali.”

Rin ikut terkekeh.

“Makanya lucu.”

Ai-Mouto menatap layar dengan tenang.

“Karakter tersebut gagal memperhitungkan tinggi meja.”

Ren menoleh.

“Jangan dianalisis.”

Ai-Mouto berkedip.

“Baik.”

Rin tertawa kecil.

“Dia memang tidak bisa menonton sesuatu tanpa mengubahnya jadi laporan.”

Ai-Mouto menjawab,

“Keinginan untuk memahami adalah respons alami terhadap stimulus baru.”

Ren mengangkat alis.

“Film komedi pun jadi stimulus.”

“Ya.”

“Kasihan.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Ren kembali menghadap layar.

Rin mengambil satu camilan.

Ia mengunyah perlahan.

Malam itu sebenarnya cukup tenang.

Tidak ada pekerjaan rumah.

Tidak ada laboratorium yang harus diperbaiki.

Tidak ada kejadian aneh.

Hanya tiga orang duduk dalam satu sofa, menonton film.

Sudah lama rumah mereka tidak memiliki suasana seperti itu.

Tanpa percakapan tentang sensor.

Tanpa pembicaraan soal protokol.

Tanpa Ren menjahili Rin.

Setidaknya pada awalnya.

Sepuluh menit berlalu.

Kemudian dua puluh.

Film memasuki bagian yang lebih tenang.

Musik menjadi lembut.

Adegan komedi mulai jarang.

Rin bersandar sedikit lebih dalam ke sofa.

Ren melirik.

“Kamu ngantuk?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Ren tersenyum.

“Belum aku tanya.”

Rin memandang layar.

“Aku sudah tahu kamu mau bilang itu.”

“Kalau begitu memang benar.”

“Tidak.”

Rin menguap kecil.

Ia menutup mulut dengan tangan.

Ren melihatnya.

“Barusan menguap.”

“Bukan.”

“Terus?”

“Menelan napas.”

Ren menahan tawa.

Ai-Mouto menoleh ke Rin.

“Rin menguap.”

Rin langsung membalas,

“Tidak perlu dianalisis.”

“Baik.”

Ren menyenderkan kepala ke sofa.

“Kalau ngantuk, tidur saja.”

“Aku masih mau nonton.”

“Padahal matamu tinggal setengah.”

“Masih bisa lihat.”

“Kalau setengah?”

“Masih bisa.”

Ren tertawa kecil.

Rin mendengus.

Ia menggeser posisi duduk, kemudian kembali menatap layar.

Lima menit kemudian, kepalanya sedikit turun.

Naik lagi.

Turun.

Naik.

Ren memperhatikan dari sudut mata.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Rin masih berusaha keras melawan kantuk.

Begitu adegan lucu muncul, ia langsung membuka mata lebih lebar dan tertawa sedikit lebih keras, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya masih sepenuhnya sadar.

Ren tersenyum.

“Kalau kamu tidur, nanti ketinggalan bagian lucu.”

“Aku tahu.”

“Kalau bangun lagi, aku ceritakan.”

“Tidak perlu.”

Lihat selengkapnya