Pukul empat sore.
Ruang TV sedang berada dalam kondisi yang seharusnya tenang.
Cahaya matahari sore masuk melalui celah tirai dan jatuh panjang di lantai kayu. Pendingin ruangan bekerja dengan suara rendah, sementara televisi di depan sofa menampilkan iklan yang tidak terlalu diperhatikan siapa pun.
Ren duduk di sofa sambil memegang remote.
Rin duduk di ujung sofa yang sama.
Ai-Mouto berada sedikit di belakang mereka, sedang merapikan beberapa majalah di meja.
Keadaan masih damai.
Setidaknya selama tiga puluh detik.
“Sudah mulai.”
Ren melihat jam di ponselnya.
Pertandingan sepak bola yang ingin ditontonnya akan segera dimulai.
Ia menekan tombol.
Saluran berubah.
Siaran langsung pertandingan muncul.
Suara komentator langsung memenuhi ruangan.
“Ah, pas.”
Ren menyandarkan tubuh.
Rin menoleh ke layar.
“Apa?”
“Pertandingan.”
“Ganti.”
Ren menatapnya.
“Kenapa?”
“Jam empat ada dokumenter sains.”
“Memangnya kenapa?”
“Itu episode baru.”
Ren mengerutkan dahi.
“Pertandingannya juga live.”
“Bisa ditonton ulang.”
“Tidak ada gunanya kalau live.”
“Dokumenternya juga tayang sekali.”
“Dokumenter itu bisa cari di internet.”
Rin memelototinya.
“Kalau begitu pertandinganmu juga bisa cari rekamannya.”
Ren menggeleng.
“Tidak sama.”
Rin meraih remote.
Ren langsung menariknya menjauh.
“Eh.”
“Beri sini.”
“Tidak.”
“Aku mau ganti.”
“Aku sudah lebih dulu pegang.”
Rin meraih tangan Ren.
“Remote.”
Ren mengangkat remote tinggi-tinggi.
“Tidak.”
“Aniki.”
“Hm?”
“Berikan.”
“Tidak.”
Rin mencoba meraih lagi.
Ren memiringkan tubuh.
“Coba saja.”
Rin akhirnya berhasil mencengkeram ujung remote.
Ren menahan.
Sekarang remote berada tepat di antara mereka.
Rin menarik ke kiri.
Ren menarik ke kanan.
“Lepas.”
“Kamu yang lepas.”
“Aku mau nonton.”
“Aku juga.”
“Dokumenternya cuma satu jam.”
“Pertandingannya juga.”
“Pertandingan dua jam.”
“Lebih bagus.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Tidak.”
“Ya.”
Ai-Mouto menghentikan gerakannya.
Ia menatap mereka.
Dua saudara itu sekarang benar-benar sedang berebut benda kecil seolah nasib keluarga bergantung padanya.
Remote bergeser.
Tombol volume hampir terlepas.
“Berhenti.”
Tidak ada yang mendengar.
Ren menarik lebih kuat.
Rin juga.
Klik.
Salah satu tombol remote berbunyi agak keras.
Rin langsung panik.
“Pelan! Tombolnya!”
“Makanya lepas!”
“Kalau rusak, salahmu!”
“Lho, kamu juga narik!”
Remote kembali bergeser.
Ai-Mouto berjalan mendekat.
“Mohon berhati-hati.”
Ren masih menarik.
“Dia yang mulai.”
Rin langsung membalas,
“Kamu yang keras kepala.”
Ai-Mouto memperhatikan kedua tangan mereka.
Kemudian memperhatikan remote.
Kemudian layar televisi.
Kemudian kembali pada kedua manusia di depannya.