Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #26

Sinyal Cemburu dari Kamar Sebelah

Pukul 17.00 sore.

Cahaya matahari mulai condong ke barat ketika Ren menaiki tangga menuju lantai dua sambil membawa sebuah buku catatan.

Buku itu tergeletak di lorong sejak siang tadi.

Sampulnya berwarna hitam polos dengan satu stiker kecil berbentuk rangkaian sirkuit di sudut kanan bawah.

Ren langsung mengenalinya.

Catatan Rin.

Ia menemukannya di dekat pintu laboratorium setelah adiknya terburu-buru turun membawa beberapa komponen.

Ren sebenarnya bisa saja meletakkannya begitu saja di meja kerja Rin nanti malam.

Namun karena ia kebetulan sedang naik ke lantai dua, ia memutuskan mengembalikannya sekarang.

“Buku penting kok ditinggal sembarangan…”

Ren menggeleng sambil berjalan.

“Kalau aku baca satu halaman, pasti langsung dimarahi.”

Ia memang tidak punya niat membaca.

Setelah kejadian file rahasia beberapa waktu lalu, Ren semakin sadar bahwa beberapa hal milik Rin sebaiknya tidak disentuh tanpa izin.

Ia sudah cukup beruntung bisa mengetahui bahwa seluruh proyek Ai-Mouto ternyata bermula dari kepedulian adiknya.

Tidak perlu menambah dosa.

Namun ketika melewati kamar Rin, langkah Ren melambat.

Ada suara.

Pelan.

Samar.

Seperti seseorang sedang berbicara sendiri.

Ren berhenti.

Pintu kamar Rin tidak tertutup rapat.

Engselnya memang sudah agak longgar sejak lama. Kalau pintunya tidak didorong sampai benar-benar tertutup, akan tersisa celah beberapa sentimeter.

Ren sempat hendak mengetuk.

Namun suara dari dalam terdengar lebih jelas.

“Selamat datang pulang, Onii-chan…”

Ren mengerutkan dahi.

Ia berhenti total.

“…”

Suara itu terdengar aneh.

Bukan karena suaranya salah.

Justru karena suaranya terdengar sangat mirip Ai-Mouto.

Ren menoleh pada celah pintu.

Pikirannya mulai curiga.

Apa Rin sedang berbicara dengan Ai-Mouto?

Tapi Ai-Mouto tidak berada di kamar.

Ren akhirnya berdiri sedikit lebih dekat.

Melalui celah pintu, ia bisa melihat sebagian kamar.

Cermin besar berada di salah satu sisi.

Dan di depan cermin itu—

Rin berdiri.

Sendirian.

Ren membeku.

Rin sedang berpose.

Satu tangan diletakkan di depan dada.

Kepalanya dimiringkan sedikit.

Rambutnya sudah dirapikan.

Wajahnya tampak sangat serius.

Kemudian ia menatap pantulan dirinya sendiri dan mencoba lagi.

“Selamat datang rumah, Onii-chan~.”

Ren menahan napas.

Rin sendiri langsung mengernyit.

“Tidak.”

Ia menggeleng.

“Terlalu dibuat-buat.”

Ia mencoba lagi.

“Selamat datang pulang, Onii-chan.”

Lebih lembut.

Lebih pelan.

Hampir persis seperti gaya bicara Ai-Mouto.

Rin memandang dirinya sendiri di cermin selama beberapa detik.

Kemudian wajahnya berubah jijik.

“Ugh…”

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Geli sekali!”

Ren menekan bibir rapat-rapat.

Jangan tertawa.

Jangan.

Kalau ia tertawa sekarang, dirinya pasti mati.

Rin belum menyadari keberadaannya.

Ia mengambil napas.

“Sekali lagi.”

Ia berdiri lebih tegak.

“Selamat datang pulang, Onii-chan~.”

Kepalanya dimiringkan.

Senyum tipis.

“Sudah capek? Aku sudah siapkan teh.”

Rin menatap cermin.

Kemudian langsung menutup wajah.

“Tidak bisa.”

Ia mengambil bantal kecil dari kasurnya dan melemparkannya ke lantai karena malu pada dirinya sendiri.

“Kenapa susah sekali…”

Ren mulai memahami.

Ini bukan latihan biasa.

Rin sedang mencoba menirukan cara Ai-Mouto berbicara.

Dan kemungkinan besar—

untuk Ren.

Ren menunduk sedikit.

Buku catatan masih ada di tangannya.

Ia seharusnya pergi.

Sungguh.

Tidak ada alasan untuk tetap melihat.

Ini urusan pribadi.

Namun rasa ingin tahu membuat kakinya tidak bergerak.

Rin kembali menghadap cermin.

Kali ini ia mencoba dengan nada lebih alami.

“Aniki…”

Ia berhenti.

“Bukan.”

Ia menghela napas.

“Kalau Aniki…”

Rin memutar rambutnya dengan jari.

“Selamat datang pulang, Aniki.”

Ia langsung mengerutkan hidung.

“Tidak.”

“Kenapa semuanya terdengar aneh?”

Rin mendekat ke cermin.

Ia melihat wajah sendiri.

“Padahal Ai bisa bilang begitu tanpa kelihatan memalukan…”

Ren hampir tersenyum.

Jadi benar.

Rin iri.

Bukan pada kemampuan Ai-Mouto melakukan pekerjaan rumah.

Bukan pada kecerdasan.

Bukan pada efisiensi.

Ia iri pada sesuatu yang sangat sederhana.

Kemampuan Ai-Mouto menunjukkan perhatian kepada Ren tanpa merasa malu.

Rin menarik napas lagi.

“Coba saja.”

Lihat selengkapnya