Pukul 19.00.
Malam musim panas di pinggiran Tokyo terasa berbeda ketika festival sedang berlangsung.
Jalan menuju kuil lokal yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia. Lampion kertas tergantung di sepanjang pagar, cahaya kuning-oranye bergetar tertiup angin malam, sementara dari kejauhan terdengar suara musik festival dan pengumuman dari pengeras suara kecil.
Aroma yakisoba, takoyaki, jagung bakar, dan taiyaki bercampur menjadi satu.
Anak-anak berlarian membawa mainan.
Para remaja berjalan berkelompok sambil tertawa.
Beberapa pasangan berhenti di dekat stan permainan untuk mencoba menangkap ikan dengan kertas tipis atau menembak balon.
Dan di antara keramaian itu, tiga orang sedang bersiap meninggalkan rumah.
Ren sudah menunggu di ruang tamu.
Ia mengenakan pakaian festival yang sederhana, dengan atasan gelap dan celana panjang yang nyaman dipakai berjalan. Ponsel berada di tangannya, terhubung langsung dengan modul pelacak Ai-Mouto.
Ren memeriksa layar sekali lagi.
Status jaringan aktif.
Lokasi Ai-Mouto terbaca.
Baterainya cukup.
Sensor komunikasi normal.
“Berarti aman.”
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Dari lantai dua terdengar suara langkah.
Kemudian satu suara kecil.
“Kamu sudah siap?”
Rin.
Ren menoleh.
“Sudah.”
Tidak ada siapa-siapa.
Beberapa detik kemudian terdengar suara lain.
“Kami turun.”
Kali ini suara Ai-Mouto.
Ren mengangkat kepala.
Pintu kamar di lantai dua terbuka.
Dua sosok keluar hampir bersamaan.
Ren membeku.
Benar-benar membeku.
Rin berdiri di depan.
Ia mengenakan yukata bermotif bunga sakura dengan warna dasar lembut. Rambutnya diikat lebih rapi daripada biasanya, dihiasi aksesori sederhana yang tidak terlalu mencolok. Di tangannya ada kipas kertas kecil yang motifnya serasi dengan yukata.
Di sebelahnya, Ai-Mouto mengenakan yukata yang hampir sama.
Motif bunga sakura.
Warna yang sama.
Potongan yang sama.
Bahkan obi yang dikenakan keduanya disusun dengan gaya yang nyaris identik.
Perbedaannya hanya pada ekspresi.
Rin terlihat canggung.
Kedua tangannya memegang kipas sedikit terlalu erat.
Ai-Mouto justru berdiri dengan tenang, seolah sejak awal tubuhnya memang dibuat untuk mengenakan pakaian tersebut.
Ren menatap keduanya.
Lama.
Rin langsung merasa tidak nyaman.
“Kenapa diam?”
Ren masih melihat.
“…”
“Aniki?”
Ren akhirnya mengembuskan napas.
“Kalian…”
Ia berhenti mencari kata yang tepat.
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Apakah ada masalah pada pakaian kami?”
“Tidak.”
Ren menggeleng.
“Tidak ada masalah sama sekali.”
Ia tersenyum.
“Kalian berdua cantik banget.”
Rin membeku.
Ai-Mouto tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Rin langsung mengibaskan kipasnya cepat-cepat.
“Jangan bilang begitu dengan muka polos.”
Ren mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Ya… tidak perlu.”
“Memangnya salah?”
“Bukan salah.”
Rin memalingkan wajah.
“Cuma…”
Kipas di tangannya bergerak semakin cepat.
“…terlalu mendadak.”
Ren tertawa kecil.
“Kamu kelihatan bagus.”
“Sudah.”
“Serius.”
“Aniki.”
“Ya?”
“Kalau terus bilang begitu, aku pulang.”
Ren langsung mengangkat kedua tangan.
“Baik. Aku diam.”
Rin mendengus.
Namun telinganya sudah memerah.
Ai-Mouto menoleh kepadanya.
“Rin menunjukkan peningkatan suhu pada wajah.”
Rin menatapnya.
“Tidak perlu diumumkan.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Baik.”
Ren kembali tertawa.
Malam itu, mereka bertiga akhirnya berangkat.
Begitu pintu rumah ditutup, Ren memeriksa ponselnya sekali lagi.
Ai-Mouto berada di sisi kanannya.
Rin di sisi kiri.
Ketiganya berjalan menuju kuil melalui jalan lingkungan yang mulai dipenuhi warga.
Lampion semakin banyak ketika mereka mendekati area festival.
Suara musik terdengar lebih jelas.
Orang-orang semakin padat.
Ai-Mouto menoleh ke ponsel Ren.
“Modul pelacak masih aktif.”
Ren mengangguk.
“Ya.”
“Apakah diperlukan?”
“Di tempat seramai ini, iya.”
Rin menyilangkan tangan.
“Jangan sampai kehilangan dia.”
Ren menoleh.
“Aku?”
“Bukan.”
Rin menunjuk Ai-Mouto.
“Dia.”
Ai-Mouto menjawab,
“Dengan modul ini, kemungkinan saya terpisah dari kalian menurun.”
Ren mengangguk.
“Bagus.”
Mereka memasuki gerbang festival.
Deretan stan makanan langsung terlihat.
Rin berhenti di depan satu stan yakisoba.
“Aku mau itu.”
Ren menoleh.
“Baru masuk sudah mau makan?”
“Memangnya kenapa?”
“Belum lihat semua.”
“Kalau nanti habis gimana?”
Ren tertawa.
“Itu alasan yang masuk akal.”